Kebon Jeruk Jakarta Barat

Posts Tagged "Lanjutan Terjemah Ihya Ulumiddin"

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 05 Februari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : الْبَاعِثُ الثَّانِي : اَنِّي رَاَيْتُ الرَّغْبَةَ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ صَادِقَةً فِي الْفِقْهِ الَّذِى صَلُحَ عِنْدَ مَنْ لاَ يَخَافُ اللّهَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى لِتَدَرُّعِ بِهِ اِلَي الْمُبَاهَاةِ وَ الاِسْتِظْهَارِ بِجَاهِهِ وَ مَنْزِلَتِهِ فِي الْمُنَافَسَاتِ, وَ هُوَ مُرَتَّبٌ عَلَي اَرْبَعَةِ اَرْبَاعٍ وَ الْمُتَزَيِّى بِزِىِ الْمَحْبُوْبِ مَحْبُوْبٌ فَلَمْ اَبْعُدْ اَنْ يَكُوْنَ تَصْوِيْرُ الْكِتَابِ بِصُوْرَةِ الْفِقْهِ تَلَطُفًا فِي اسْتِدْرَاجِ الْقُلُوْبِ, وَلِهَذَا تَلطَّفَ بَعْضُ مَنْ رَامَ اِسْتِمَالَةَ قُلُوْبِ الرُّؤُسَاءِ اِلَي الطِّبِّ فَوَضَعَهُ عَلَي هَيْئَةِ تَقْوِيْمِ النُّجُوْمِ مَوْضُوْعًا فِي الْجَدَاوِلِ وَالرُّقُوْمِ وَ سَمَّاهُ تَقْوِيْمَ الصِّحَةِ لِيَكُوْنَ اُنْسُهُمْ بِذَالِكَ الْجِنْسِ جَاذِبًا لَهُمْ اِلَى الْمُطَالَعَةِ وَالتُّلَطُّفِ فِى اِجْتِذَابِ الْقُلُوْبِ اِلَى الْعِلْمِ الَّذِي يُفِيْدُ الْحَيَاةَ الآبَدِ اَهَمُّ مِنَ التَّلَطُفِ فِى اجْتِذَابِهَا اِلَي الطِّبِّ الَّذِي لاَ يُفِيْدُ الاَّ صِحَّة الْجَسَدِ, فَثَمْرَةُ هَذَأ الْعِلْمِ طِبُّ الْقُلُوْبِ وَ الأَرْوَاحِ الْمُتَوَصِّل بِهِ اِلَي حَيَاةٍ تَدُوْمُ أَبَدَ الآبَادِ, فَأَيْنَ مِنْهُ الطِّبُّ الّذي يُعَالِجُ بِهِ لأَجْسَادَ وَ هِيَ مُعْرِضَةٌ بِاالضَّرُوْرَةِ لِلْفَسَادِ فِى أَقْرَبِ الآمَادِ ؟ فَنَسأَلُ اللّهَ سُبْحَانَهُ التَّوْفِيْقَ لِلرَّشَادِ وَ السَّدَادِ اِنَّهُ كَرِيْمٌ جَوَّادٌ. Terjemah kitab: “Adapun motivasi yang kedua : Aku melihat keinginan para pelajar yang gemar sekali terhadap ilmu fiqih, ilmu yang layak bagi orang yang tidak takut kepada Allah Swt, agar berbuat dengan ilmu itu untuk berbangga-bangga dan menampakan kemegahan serta kedudukan dalam perlombaan. Dan ilmu fiqih itu terbagi dari empat bagian, dan orang yang menghiasi dirinya dengan hiasan yang di sukai, tentu dia akan disukai. Maka aku tidak jauh dari mengarang kitab ini dengan bentuk fiqih karena berlemah lembut untuk menarik hati. Dan karena inilah sebagian orang yang ingin menarik hati pembesar-pembesar kepada ilmu kesehatan, bertindak lemah lembut, lalu membentuknya dalam bentuk Ilmu bintang dengan memakai ranji dan angka. Dan menamakannya Ilmu Taqwim kesehatan, supaya menjinakan hati mereka dengan cara itu menjadi tertarik kepada membacanya. Berlemah lembut menarik hati orang kepada ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan abadi adalah lebih penting dari pada berlemah-lembut menariknya kepada ilmu kesehatan yang faedahnya hanya untuk kesehatan jasmani belaka. Faedah pengetahuan ini ialah membawa kesehatan hati dan jiwa yang bersambung terus kepada kehidupan abadi, maka dimana ilmu kesehatan itu yang dapat mengobati tubuh kasar saja, yang akan hancur binasa dalam waktu yang tidak lama lagi. Kita memohon kepada Allah Swt akan taufiq bagi petunjuk dan kebenaran., sesungguhnya Allah maha mulia lagi maha baik”. Penjelasan Pengasuh: Diantara hikmah yang bisa kita petik dari penjelasan Imam Al-Ghazali, yaitu: Niat untuk mencari ilmu akhirat Kurikulum fiqih ialah: Ibadah, Muamalah, Munakahat, dan Jinayat. Melakukan sunah zaidah, yakni sunah yang jika seseorang mengerjakannya maka menunjuki atas cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Namun jika meninggalkannya tidak berdosa dan tercela. Beliau menulis kitabnya tersebut seperti fiqih agar orang tertarik untuk mempelajarinya. Kebanyakan orang dimasa beliau lebih senang mempelajari ilmu perbintangan, tidak suka ilmu kedokteran. Beliau meminta agar diluruskan niatnya karena Allah Swt Bila ingin sesorang masuk dalam dakwah kita, maka tak kenapa kita masuk dalam kelompok atau tempat itu. Seperti cara dakwah yang dilakukan para wali songo yang bisa kita lihat banyak sekali umat muslim di Indonesia...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 29 Januari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اِنَّمَا حَمَلَنِي عَلَى تَاْسِيْسِ هَذَا الْكِتَابِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْبَاعٍ أَمْرَانِ, أَحَدُهُمَا : وَهُوَ الْبَاعِثُ الأَصْلِيُّ. أَنَّ هَذَا التَّرْتِيْبَ فِي التَّحْقِيْقِ وَ التَّفْهِيْمِ كَالضَّرُوْرَةِ لأَنَّ الْعِلْمَ الذِى يَتَوَجَّهُ بِهِ اِلَى الآخِرَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ وَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ, وَاَعْنِى بِعِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ : مَا يَطْلُبُ مِنْهُ كَشْفُ الْمَعْلُوْمِ فَقَطْ, وَأَعْنِى بِعِلْمِ الْمُعَامَلَةِ : مَا يُطْلُبُ مِنْهُ مَعَ الْكَشْفِ الْعَمَلُ بِهِ, وَالْمَقْصُوْدُ مِنْ هَذَا الكِتَابِ عِلْمُ الْمُعَامَلَةِ فَقَطْ دُوْنَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ الَّتِى لاَ رُخْصَةَ فِى اِيْدَاعِهَا الْكُتُبَ وَاِنْ كَانَتْ هِيَ غَايَةُ مَقْصِدِ الطَّالِبِيْنَ وَمَطْمَعِ نَظْرِ الصِّدِّيْقِيْنَ, وَعِلْمُ الْمُعَامَلَةِ طَرِيْقٌ اِلَيْهِ وَلَكِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ لأَنبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ مَعَ الْخَلْقِ اِلَّا فِى عِلْمِ الطَّرِيْقِ وَالأِرْشَادِ اِلَيْهِ. وَ اَمَّا عِلّمُ الْمُكَاشَفَةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمُوْا فِيْهِ الاَّ بِالرٍّمْزِ وَالاِيْمَاءِ عَلَى السَّبِيْلِ التَّمْثِيْلِ وَالاِجْمَالِ عِلْمًا مِنْهُمْ بِقُصُوْرِ أَفْهَامِ الْخَلْقِ عَنِ الاِحْتِمَالِ. وَالْعُلَمأءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ فَمَا لَهُمْ سَبِيْلٌ اِلَى الْعُدُوْلِ عَنْ نَهْجِ التَّأَسِّى وَ الأِقْتِدَاءِ ثُمَّ انَّ عِلْمَ الْمُعَامَلَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمٍ ظَاهِرٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ وَ اِلَى عِلْمٍ بَاطِنٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْقُلُوْبِ وَ الْجَارِى عَلَى الْجَوَارِحِ اِمَّا عَادَةٌ وَ اِمَّا عِبَادَةٌ وَالْوَارِدُ عَلَى الْقُلُوْبِ التِي هِيَ بِحُكْمِ الأِحْتِجَابِ عَنِ الْحَوَاسِ مِنْ عَالَمِ الْمَلَكُوتِ اِمَّا مَحْمُودٌ وَ اِمَّا مَذْمُوْمٌ فَبِالْوَاجِبِ اِنْقَسَمَ هَذَا الْعِلْمُ اِلَى شَطْرَيْنِ ظَاهِرٍ وَ بَاطِنٍ, وَ الشَّطْرُ الظَّاهِرُ الْمُتَعَلِقُ بِالْجَوَارِحِ اِنْقَسَمَ اِلَي عَادَةٍ وَ عِبَادَةٍ, وَ الشَطْرُ الْبَاطِنُ الْمُتَعَلِّقُ بِأَحْوَالِ الْقَلْبِ وَ أَخْلاَقِ النُّفُسِ اِنْقَسَمَ اِلَي مَذْمُوْمٍ وَ مَحْمُوْدٍ فَكَانَ الْمَجْمُوْعُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ وَلاَ يَشُذُّ نَظْرٌ فِي الْمُعَامَلَةِ عَنْ هَذِهِ الأَقْسَامِ.   Terjemah Kitab: “Sesungguhnya yang membawa aku mendasarkan kitab ini pada empat bagian (rubu’, adalah dua hal: Pertama: pendorong asli, bahwa susunan ini pada menjelaskan hakikat dan pengertian, seperti Ilmu Doruri. Sebab pengetahuan yang menuju keakhirat itu terbagi kepada Ilmu Muamalah dan Ilmu Mukhasyafah. Yang dimaksud dengan Ilmu Mukhasyafah ialah yang diminta mengetahuinya saja. Dan dengan Ilmu Muamalah ialah yang diminta, disamping mengetahuinya hendaknya diamalkan. Dan yang dimaksudkan dari kitab ini ialah Ilmu muamalah saja tidak Ilmu Mukasyafah yang tidak mudah menyimpannya dibuku-buku meskipun menjadi tujuan maksud para pelajar dan keinginan perhatian orang-orang shiddiqin. Dan ilmu muamalah itu adalah jalan kepada ilmu mukhasyafah. Tetapi para Nabi tidak memperkatakan pada orang banyak, selain mengenai ilmu untuk jalan dan petunjuk kepada ilmu mukasyafah itu. Adapun Ilmu Mukasyafah mereka tidak membicarakannya selain dengan jalan rumus dan isyarat yang merupakan contoh dan kesimpulan. Karena para Nabi itu tau akan singkatnya paham orang banyak untuk dapat memikulnya. Alim ulama itu adalah pewaris para Nabi. Maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling dari pada mengikuti dan mematuhinya. Kemudian ilmu muamalah itu terbagi kepada Ilmu Dzhahir yaitu ilmu mengenai amal perbuatan anggota badan, dan Ilmu Batin yaitu ilmu mengenai amal perbuatan hati dan yang melalui pada anggota badan adakalanya adat kebiasaan dan adakalanya ibadah. Dan yang datang pada hati yang dengan sebab terhijab dari panca indra termasuk bagian alam malakut, adakalanya terpuji dan adakalanya tercela maka seharusnya ilmu ini terbagi dua yaitu dzahir dan Batin. Bagian zhahir yang menyangkut dengan anggota badan terbagi adat kebiasan dan ibadah. Bagian batin...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 01 Januari 2015)

Posted by on Feb 8, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُهْلِكَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ شَرْحِ عَجَائِبِ الْقَلْبِ, وَ كِتَابُ رِيَاضَةِ النَّفْسِ, وَ كِتَابُ افَاتِ الشَّهْوَتَيْنِ: شَهْوَةُ الْبَطْنِ وَ شَهْوَةُ الْفَرْجِ, وَ كِتَابُ افَاتِ اللِّسَانِ, وَ كِتَابُ افَاتِ الْغَضَبِ وَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الدُّنْيَا, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْمَالِ وَ الْبُخْلِ, وَ كِتَابُ ذَمُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاءِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْكِبْرِ وَ الْعُجْبِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْغُرُوْرِ. Terjemah Kitab : “Bagian (rubu’) perbuatan yang membinasakan, meliputi sepuluh kitab : pertama, Kitab Menjelaskan Keajaiban Hati. Kedua, Kitab Latihan diri (jiwa). Ketiga, Kitab Bahaya Syahwat (perut dan kemaluan). Keempat, Kitab Bahaya Lidah. Kelima, Kitab Bahaya Marah, Dendam, dan Dengki. Keenam, Kitab Tercelanya Dunia. Ketujuh, Kitab Tercelanya Harta dan Kikir. Kedelapan, Kitab Tercelanya Suka Kemegahan dan Riya. Kesembilan, Kitab Tercelanya Sifat Takabbur dan ‘Ujub. Kesepuluh, Kitab Tercelanya Sifat Tertipu Kemegahan Dunia. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini kita masih membahas mukaddimah kitab ini, bagian perbuatan yang dapat membinasakan beliau membagi 10 (sepuluh) kitab :   Kitab Keajaiban Hati Dalam tubuh kita ada anggota tubuh yang sangat penting peranannya untuk kita perhatikan baik-baik, sebagaimana Nabi saw bersabda : اِنَّ فِى جَسَدِ اِبْنِ ادَمَ مُضْغَةً, اِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ صَلَحَ لَهَا سَائِرُ الْبَدَنِ, الاَ وَ هِيَ الْقَلْبُ Artinya : “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila baik ia (daging) niscaya baik seluruh anggota tubuhnya semuanya dan baik seluruh badannya, ketahuilah bahwa itu adalah hati”. Hati ibarat cermin, jika tidak dirawat dan dibersihkan, ia mudah kotor dan berdebu. Hati yang sakit ia senantiasa dipenuhi penyakit yang bersarang didalamnya, diantaranya riya, hasad dengki, dll. Jika hati sudah terjangkit penyakit maka tidak lain obat hati yang paling mujarab adalah dzikrullah (mengingat Allah).   Kitab Latihan Nafsu Nafsu merupakan pokok yang menghimpun sifat-sifat tercela dari manusia, sehingga mereka mengatakan bahwa kita harus melawan nafsu (hawa nafsu) dan memecahkannya. Melatih nafsu tidaklah mudah, karena dia tidak terlihat. Sampai Nabi saw katakan bahwa melawan nafsu itu ibarat jihad akbar (besar) yang dimana hukumnya adalah fardu ‘ain, sedangkan jihad kecil ialah melawan orang kafir yang pada hukumnya adalah fardu kifayah. Beliau sabdakan : رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الاَصْغَرِ اِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ, قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللّهِ وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ قَالَ الْجِهَادُ فِى النَّفْسِ Artinya:”Kami kembali dari jihad kecil kepada jihad besar, sahabat bertanya:”apa itu jihad besar wahai Rasulullah??Rasul menjawab : jihad besar ialah jihad melawan nafsu”. Kitab Bahaya 2 (dua) Syahwat (perut dan kemaluan) Disini Imam Al-Ghazali menyebutkan yang dimaksud 2 (dua) syahwat ialah perut dan kemaluan. Perut pada hakikatnya adalah sumber dari segala nafsu syahwat dan tempat tumbuhnya segala penyakit dan bencana. Karena nafsu syahwat perut diikuti oleh nafsu syahwat farji (kemaluan) dan kuatnya nafsu syahwat kepada wanita-wanita yang dikawini. Sumber segala dosa adalah syahwat perut dan dari situlah timbul syahwat kemaluan, untuk itu cara mengendalikan syahwat yang paling ampuh ialah dengan lapar. Itulah sebabnya Nabi saw memerintahkan umatnya untuk memerangi syahwat dengan lapar dan haus, karena pahala dalam hal itu seperti pahala orang...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 25 Desember 2014)

Posted by on Feb 8, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اَمَّا رُبْعُ الْعَادَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ ادَابِ الأَكْلِ, وَ كِتَابُ ادَابِ النِّكَاحِ, وَ كِتَابُ أَحْكَامِ الْكَسْبِ, وَكِتَابُ الْحَلَالِ وَ الْحَرَامِ, وَ كِتَابُ ادَابِ الصُّحْبَةِ وَ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ أَصْنَافِ الْخَلْقِ, وَ كِتَابُ الْعُزْلَةِ, وَ كِتَابُ ادَابِ السَّفَرِ, وَ كِتَابُ السَّمَاعِ وَ الْوُجْدِ, وَ كِتَابُ الأَمْرِ بِالمَعْرُوْفِ وَ النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ, وَ كِتَابُ ادَابِ الْمَعِيْشَةِ وَ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ Artinya : “ Bagian (rubu’) pekerjaan sehari-hari melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Adab Makan. Kedua, Kitab Adab Pernikahan. Ketiga, Kitab Hukum Berusaha (Bekerja). Keempat, Kitab Halal dan Haram. Kelima, Adab Berteman dan Bergaul dengan Berbagai Golongan Manusia. Keenam, Kitab ‘Uzlah (Mengasingkan Diri). Ketujuh, Kitab Bermusafir. Kedelapan, Kitab Mendengar dan Merasa. Kesembilan, Kitab Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Kesepuluh, Kitab Adab Kehidupan dan Budi Pekerti (Akhlaq) Kenabian”. Penjelasan Pengasuh : Pada bagian (rubu’) yang kedua Imam Ghazali membagi sepuluh kitab juga, diantaranya : Kitab Adab Makan Ajaran Islam mencangkup seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali masalah makanan. Oleh karena itu bagi kaum muslimin, makanan di samping berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, juga berkaitan dengan ruhani, iman, dan ibadah dengan identitas diri. Imam Al-Ghazali mengutamkan pembahasannya dengan makan, karena makan adalah suatu hal yang sangat penting untuk mengokohkan badan, serta mempunyai dampak yang sangat besar untuk badan dan daya tahan tubuh kita. Allah Ta’ala berfirman : فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ Artinya : “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.(An-Nahl : 114). Dari ayat di atas, dapat di simak bahwa Allah menyuruh manusia memakan apa saja di dunia ini yang di ciptakannya, sepanjang halal dan baik.   Kitab Adab Pernikahan Di sini Imam Al-Ghazali menempatkan bab pernikahan sebagai urutan yang kedua, karena biasanya jika seseorang telah kebanyakan makan maka akan menimbulkan nafsu pada dirinya. Sebagai pribadi muslim yang menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangganya hendaklah sebelum melakukan pernikahan mesti belajar tentang hak dan kewajiban seorang istri dan suami agar tercapai lah tujuan pernikhan itu yakni sebagaimana firman Allah Swt : وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar Rum:21) Karena salah satu faktor terjadinya banyak perceraian kebanyakan orang enggan belajar tentang hak dan kewajibannya masing-masing.   Kitab Hukum Berusaha Agama Islam menganjurkan orang agar berusaha mencari nafkah dan harta benda dengan jalan bercocok tanam, pertukangan atau perdagangan dan lain-lain dengan jalan yang baik. Dalam tasawuf ada yang namanya Maqam Tajrid dan Maqam Kasbi, Maqam Tajrid ialah seseorang sudah terjamin rizkinya sehingga orang tersebut tidak menyibukan dirinya dalam berusaha mencari rizki dan hanya fokus untuk beramal negeri akhirat....

Read More

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (18 Desember 2014)

Posted by on Dec 25, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin :   :وَ يَشْتَمِلُ رُبْعُ الْعِبَادَاتِ عَلَي عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ الْعِلْمِ , وَ كِتَابُ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الطَّهَارَةِ , وَكِتَابُ أَسْرَارِ الصَّلَاةِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الزَّكَاةِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الصِّيَامِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الْحَجِّ وَ كِتَابُ ادَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْانِ , وَكِتَابُ لاَذْ وَالدَّعْوَاتِ , وَكِتَابُ تَرْتِيْبِ الاَوْرَادِ فِي الاَوْقَاتِ Terjemah Kitab : Bagian (rubu’) ibadah, melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Ilmu. Kedua, Kitab Kaidah-kaidah I’tiqad. Ketiga, Kitab Rahasia Bersuci. Keempat, Kitab Rahasia Shalat. Kelima, Kitab Rahasia Zakat. Keenam,  Kitab Rahasia Puasa. Ketujuh, Kitab Rahasia Haji. Kedelapan, Kitab Adab Membaca Al-Qur’an. Kesembilan, Kitab Dzikir dan Doa. Sepuluh, Kitab Tartib Wirid pada Masing-masing Waktunya. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini Imam Al-Ghazali membagi isi dalam kitabnya dengan bagian ibadah, diantaranya : Kitab Ilmu Beliau mendahulukan pembahasannya tentang kitab ilmu, dengan alasan yang telah kita ketahui pada pertemuan sebelumnya. Ilmu dalam hal ini merupakan suatu jalan untuk mewujudkan kehidupan dunia yang sejahtera terlebih lagi kehidupan akhirat yang kekal abadi. Begitu pentingnya kedudukan ilmu yang mesti kita miliki jika ingin sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat sebagaimana Nabi Muhammad Saw sabdakan: (مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ. (رواه الترمذي Artinya : “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”(HR. Turmudzi). Dengan ilmu pula Nabi Adam AS mengetahui bagaimana tata caranya buang air besar, karena setelah di usir dari surga Nabi Adam sebelumnya tidak mengetahui bagaimana tata cara buang air besar, kemudian Allah memerintahkan malaikatnya untuk mengajarkan Nabi Adam, keterangan ini bisa di lihat dalam kitab Durrul Mansur buah karya Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuti. Kaidah-kaidah Aqidah Pembahasan yang kedua ini beliau membahas tentang aqidah, menurut bahasa kata “aqidah” diambil dari kata dasar “al-‘aqdu” ar-rabth (ikatan), sedangkan menurut istilah yaitu perkara yang dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tentram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Nama lain ilmu aqidah adalah ilmu tauhid, karena ilmu ini berputar (pada pembahasan) untuk mentauhidkan Allah Swt dengan uluhiyyah, rububiyyah, dan asma wa shifat. Ilmu ini pula yang wajib mesti kita pelajari sebaimana Syaikh Ibnu Ruslan dalam Matan Zubadnya : اَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْاِنْسَانِ # مَعْرِفَةُ الاِلهِ بِاسْتِيْقَان Artinya : “Yang wajib pertama atas seorang manusia ialah mengetahui tuhannya dengan keyakinan”. Sebagai mukallaf yang wajib kita ketahui adalah 50 sifat. Dengan rincian 20 sifat yang wajib bagi Allah, 20 sifat  yang mustahil bagi Allah, dan 1 sifat yang jaiz bagi Allah. Sedangkan untuk Rasul, 4 sifat yang wajib bagi rasul, 4 sifat yang mustahil bagi Rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul. Di dalam Agama Islam kemantapan aqidah sangat penting sekali apalagi melihat zaman sekarang yang sudah banyak dihiasi dengan aqidah-aqidah yang agak berlainan dari Islam itu sendiri, apalagi bagi...

Read More