Kebon Jeruk Jakarta Barat

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 08 Januari 2015)

Posted by on Apr 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA

بسم الله الرّحمن الّرحيم

Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin :

:وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُنْجِيَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ

كِتَابُ التَّوْبَةِ, وَ كِتَابُ الصَّبْرِ وَ الشُّكْرِ, وَ كِتَابُ الخَوْفِ وَالرَّجَاءِ, وَكِتَابُ الْفَقْرِ وَالزُّهْدِ, وَ كِتَابُ التَّوْحِيْدِ وَ التَّوَكُلِ, وَ كِتَابُ الْمَحَبَّةِ وَ الشَّوْقِ وَ الاُنْسِ وَالرِّضَا, وَ كِتَابُ النِّيَةِ وَ الصِّدْقِ وَ لأِخْلاَصِ, وَ كِتَابُ الْمُرَاقَبَةِ وَالْمُحَاسَبَةِ, وَ كِتَابُ التَّفَكُرِ, وَ كِتَابُ ذِكْرِ الْمَوْتِ

Terjemah Kitab :

“Bagian (rubu’) perbuatan yang menyelamatkan, melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Taubat. Kedua, Kitab Sabar dan Syukur. Ketiga, Kitab Takut dan Berharap. Keempat, Kitab Fakir dan Zuhud. Kelima, Kitab Tauhid dan Tawakal. Keenam, Kitab Cinta, Rindu, Senang, dan Ridha. Ketujuh, Kitab Niat, Jujur, dan Ikhlas. Kedelapan, Kitab Muraqabah dan Muhasabah. Kesembilan, Kitab Tafakur. Kesepuluh, Kitab Ingat Mati”.

Penjelasan Pengasuh :

Pada pertemuan kali ini kita masih membahas tentang mukaddimah dalam kitab ini, pada pertemuan ini Imam Ghazali akan membagi bagian tentang perbuatan yang dapat menyelamatkan. Sebagai berikut :

  1. Kitab Taubat

Memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Allah Subhanhu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali.

Tobat merupakan awal pertama bagi kita untuk menyucikan diri,  membersihkan jiwa, bathin dan hati dari segala kerak noda dosa yang melekat ditubuh. Dalam tazkiyatun nufus, untuk pembersihan jiwa tobatlah jalan awal bagi mereka. Hati yang sudah berkerak dengan noda dosa sangat susah masuk sinar nur, hidayah, dan hikmat dalam hati jiwa sanubarinya. Sebagaimana Allah Swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ

يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahriim : 8).

Taubat yang bagus ialah taubat yang dilakukan setiap hari, sebab jika dosanya itu tergolong dosa kecil maka adalah dibawah kehendak Allah, kalau Allah ampuni maka diampuni kalau tidak, maka tidak diampuni dan akan mendapatkan siksa dari Allah Swt. Apalagi menyangkut dengan manusia, maka orang tersebut harus minta ridha terlebih dahulu kepada orang tersebut.

  1. Kitab Sabar dan Syukur

Sabar merupakan bentuk pengendalian diri`atau kemampuan menghadapi rintangan, kesulitan menerima musibah dengan ikhlas dan dapat menahan marah, titik berat nurani (hati). Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Seseorang akan dangkat menjadi imam/pemimpin setelah diberi cobaan kemudian dia bersabar atas cobaan tersebut. Allah Swt berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ

Artinya : “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”. (As-Sajadah: 24).

Banyak diantara macam-macam sabar, diantaranya sabar dalam ketaatan, dalam meninggalkan maksiat, dan sabar atas bala (bencana).

Kemudian Syukur, Hamba yang baik dan senantiasa memelihara kedekatanya dengan Allah SWT lalu berusaha mensyukuri setiap nikmat dan karunia Allah SWT, niscaya akan Allah beri sesuatu yang lebih bernilai dan bermanfaat, baik berupa kenikmatan dan keberkahan hidup di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika ia menelantarkan rasa syukur kepada Allah, maka Allah akan mencabut nikmat tersebut dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih buruk sebagai bentuk azab atas kufur nikmat. Sebagaimana Allah berfirman :

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ‌ۖ وَلَٮِٕن ڪَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ۬

Artinya :”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim:7).

Kenikmatan akan senantiasa langgeng dengan disyukuri, bahkan terus bertambah dan tidak pernah putus hingga rasa syukur terhenti. Kenikmatan apapun bentuknya merupakan karunia Allah yang harus disyukuri.

Manusia secara kodrati memang tidak pernah puas. Jika diberi segunung emas, dia akan minta dua buah gunung. Demikian seterusnya, maka kapan ia puas? Kapan ia bersyukur. Disinilah pentingnya menanamkan sifat syukur kepada diri kita. Karena orang yang sukses ialah orang yang pandai bersyukur, karena sangat sedikit sekali orang yang pandai bersyukur. Bersyukur bukan hanya kepada Allah saja melainkan kepada manusia pula.

  1. Kitab Takut dan Berharap

Takut kepada Allah Swt adalah takut kepada murka, siksa dan azab-Nya sehingga hal-hal yang bisa mendatangkan murka, siksa dan azab Allah Swt harus kita jauhi. Adanya rasa takut kepada Allah Swt. membuat kita tidak berani melanggar segala ketentuan-Nya. Yang diperintah kita kerjakan dan yang dilarang kita tinggalkan. Allah Swt berfirman :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِِ  

Artinya : “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga”. (Ar-Rahman : 46).

Berharap kepada Allah Swt antara lain harapan akan diterimanya amal kita, harapan akan dimasukkan surga, harapan untuk berjumpa dengan Allah Swt, harapan akan diampuni dosa, harapan untuk dijauhkan dari neraka, harapan diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat dan lain sebagainya. Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang untuk tetap terus berusaha untuk taat kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

  1. Kitab Fakir dan Zuhud

Selanjutnya hal-hal yang dapat menyelamatkan ialah fakir. Banyak orang memandang kefakiran serta kemiskinan itu sebagai suatu kerendahan, dan sebaliknya kekayaan sebagai suatu kemuliaan. Sehingga mereka memandang remeh orang-orang yang tidak berharta. Sedangkan kepada orang-orang yang memiliki banyak kekayaan, mereka begitu menghormati dan memuliakan. Bahkan seringkali kemiskinan dijadikan kambing hitam ketika terjadi kasus kriminal seperti pencurian dan perampokan. Juga, dijadikan sebagai alasan untuk melakukan pelacuran. Di samping itu, kaum lemah karena kemiskinannya dianggap lahan empuk bagi pemurtadan. Padahal jika kita mengkaji lebih dalam, kefakiran dan kemiskinan bukanlah aib dan kerendahan. Juga bukan penyebab mutlak terjadinya banyak kejahatan dan penyimpangan. Tetapi, justru kemerosotan aqidah dan akhlaklah yang menjadi pangkal dari semua permasalahan tersebut.

Kemudian zuhud, zuhud adalah berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirat.

Masalah zuhud telah disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits. Di antara ayat yang menyebutkan masalah zuhud adalah firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan :

وَقَالَ الَّذِي آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)

Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17).

Nabi Saw bersabda :

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan).

  1. Kitab Tauhid dan Tawakal

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti. Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl:97).

Tawakal ialah rasa pasrah seorang hamba kepada Allah Swt yang disertai dengan segala daya dan upaya mematuhi, setia dan menunaikan segala perintahnya. Banyak Allah menerangkan tentang tawakal, diantara firman Allah Swt :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَا وِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.(QS. Al-‘Imran :159).

Di ayat yang lain Allah Swt berfirman :

قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya :”Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah: 23).

  1. Kitab Cinta, Rindu, Senang, dan Ridha

Selanjutnya ialah cinta, cinta yang sesungguhnya adalah cinta kita kepada sang kholiq. Cinta kepada Allah merupakan puncaknya kemuliaan, sedangkan rindu, senang dan ridho kepada Allah merupakan yang mengikuti akibat dari cinta tersebut. Hakikat cinta kepada Allah ialah tidk mengenal surga dan neraka. Allah Swt berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

Artinya :”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS. Al-Imran : 31).

  1. Kitab Niat, Jujur, dan Ikhlas

Menurut Imâm al-Ghazâlî ikhlas memiliki hakikat, prinsip dan kesempurnaan. Prinsip ikhlas adalah niat, sebab dalam niat itu terdapat keikhlasan. Sedangkan hakikat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampurinya. Kesempurnaan ikhlas adalah kejujuran.

Ikhlas mempunyai tiga pilar yaitu: niat, keikhlasan niat dan kejujuran.

Allah berfirman:

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ

Artinya: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru kepada Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka mengehendaki keridhaan-Nya.”.

Kejujuran adalah kesempurnaan ikhlas. Menurut Imâm al-Ghazâlî ada enam tingkatan kejujuran. Orang yang mencapai derajat kejujuran yang sempurna layak disebut sebagai orang yang benar-­benar jujur, antara lain:

Pertama, jujur dalam perkataan, di setiap situasi, baik yang ber­kaitan dengan masa lalu, masa sekarang dan yang akan datang

Kedua, kejujuran dalam niat. Hal itu berupa pemurnian, yang menjurus pada kebaikan jika di dalamnya terdapat unsur campuran lainnya, berarti kejujuran kepada Allah Swt. telah sirna.

Ketiga, kejujuran dalam bertekad. Seseorang bisa saja mempunyai tekad yang bulat untuk bersedekah bila dikaruniai rezeki. Juga bertekad untuk berbuat adil bila dikaruniai kekuasaan. Namun adakalanya tekad itu disertai dengan kebimbangan, tetapi juga merupakan kemauan bulat yang tanpa keragu-raguan. Orang yang mempunyai tekad yang bulat lagi kuat disebut sebagai orang yang benar-benar kuat dan jujur.

Keempat, memenuhi tekad. Seringkali jiwa dibanjiri dengan kemauan yang kuat pada mulanya, tetapi ketika menginjak tahap pelaksanaan, bisa melemah. Karena janji tekad yang bulat itu mudah, namun menjadi berat ketika dalam pelaksanaan.

Kelima, kejujuran dalam beramal. Tidak mengekspresikan hal-hal batin, kecuali batin itu sendiri memang demikian adanya. Artinya, perlu adanya keselarasan dan keseimbangan antara yang lahir dan yang batin. Orang yang berjalan tenang misalnya, menunjukkan bahwa batinnya penuh dengan ketentraman. Bila ternyata tidak demikian, dimana kalbunya berupaya untuk menoleh kepada manusia, seakan-akan batinnya penuh dengan ketentraman, maka hal itu adalah riya’.

Keenam, kejujuran dalam maqam-maqain agama. Ini adalah peringkat kejujuran tertinggi. Seperti maqam takut (khauf), harapan (raja’), cinta (hub), ridha, tawakal dan lain-lain.

  1. Kitab Muraqabah dan Muhasabah

Muhasabah artinya menyakini bahwa allah mengetahui segala pikiran perbuatan dan rahasia dalam hati,yang membuat orang menjadi hormat dan tunduk kepada allah.muraqabah adalah meniliti dengan cermat apakah perbuatan sehari hari telah sesuai atau menyimpang dari yang dikehendakinya.

Mengevaluasi atau menghisab diri sendiri sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Karena dengan evaluasi, seseorang dapat mengetahui porsinya dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, baik terkait dengan orang lain (muamalah dan pekerjaannya), maupun terkait dengan hubungannya secara langsung kepada Allah SWT. Dan demikian pentingnya evaluasi, hingga banyak ungkapan dari salafuna shaleh tentang evaluasi (muhasabah) diantaranya adalah :

Muhasabah akan meringankan hisab di yaumul akhir. Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khatab ra, mengatakan :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

“Umar bin Khatab ra berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia”.

  1. Kitab Tafakur

Tafakur adalah suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah. Tafakur dalam Islam akan meningkatkan tauhid, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah berdasarkan akal pikiran dan perasaan atau hati.

Selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, Tafakur juga dapat digunakan untuk setiap saat melihat, memperhatikan perilaku, sifat, kejadian, masalah yang setiap saat muncul selama manusia menjalani kehidupan.

Dalam menjalani kehidupan harus selalu diwaspadai, akan terjadi hal-hal baru yang baik atau buruk, menguntungkan dan atau merugikan. Semua ini ada yang dapat diatasi dan diatur, ada yang tidak, terjadi secara spontan menurutkan kehendak Allah Subhanahu   Wa Taala, ada yang dapat diterima dan lebih sering tidak dapat diterima.

Allah Swt berfirman :

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Al-Imran:191).

  1. Kitab Ingat Mati

Ingat mati, karena kematian itu jalan utama bertemu Sang Kekasih. Sebagai makhluk hidup tentu kita menyakini bahwa suatu saatu nanti kita pasti akan mati Cepat atau lambat kematian itu pasti akan datang dengan sendirinya. Tidak ada satupun makhluk yang hidup didunia ini yang bersifat abadi. Semuanya akan rusak dan mengalami kematian. Oleh karenanya marilah kita sama-sama merenungkan kembali dan berintrospeksi diri tentang keberadaan kita dimuka bumi ini sebagai hamba Allah dalam kehidupan yang fana ini.

Sudahkan tujuan hidup kita sesuai dengan penciptaan manusia? Yaitu untuk beribadah dan mengabdikan diri hanya kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa. Lalu sudahkan kita mempersiapkan bekal-bekal jika kematian itu datang dengan tiba-tiba? Atau justru malah sebaliknya, kita menjalani hidup ini dengan kesenangan duniawi semata, tanpa memikirkan kehidupan akhirat? Na’udzubillah

Allah Swt berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.(QS. Al-Imran: 185).

Di ayat yang lain Allah Swt berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Artinya :”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun”. (QS. An-nisa : 78).

Akhirnya dengan selalu mengingat kematian kita akan sadar kemana sesungguhnya akhir perjalanan hidup ini yang dengan sendirinya akan membawa kita untuk lebih giat lagi dalam beramal sholeh guna mencari bekal untuk kehidupan kelak di akirat yang hakiki. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan ‘Inayahnya kepada kita semua. Amin