Kebon Jeruk Jakarta Barat

Minhajul ‘Abidin (Tipu Daya Setan dan Cara Mengatasinya, bag.4)

Posted by on Feb 28, 2015 in Minhajul 'Abidin | 0 comments

(Oleh : KH. SuhermanMuchtar, MA)

Al-Imam Ghozali berkata di dalam kitabnya Minhajul ‘Abidin :

Bisikan (khatir) yang datang dari sisi Allah ta’ala sebagai permulaan itu bisa jadi berbentuk kebaikan, sebagai penghormatan dan untuk penetapan hujjah. Tapi bisa jadi berbentuk keburukan, yaitu sebagai cobaan dan fungsi pemberat dari ujian. Sedangkan bisikan yang datang dari malaikat pembawa ilham itu berbentuk kebaikan. Sebab, malaikat itu adalah pemberi nasihat dan ia diutus oleh Allah memang untuk menuntun ke jalan kebaikan.

Adapun bisikan yang datang dari sisi setan, pasti isinya buruk, menyesatkan, dan menggelincirkan. Namun, bisa jadi pula bisikan itu awalnya muncul dalam bentuk yang baik sebagai sarana untuk menipu dan menyesatkan korbannya dengan perlahan. Sedangkan yang datang dari sisi hawa nafsu itu berupa keburukan, dan dengan sesuatu yang tidak mengandung kebaikan. Ini sebagai wujud dari pembangkangan dan sifat egois. Sebagian ulama salaf menyebutkan, hawa nafsu itu juga kadang mengajak kepada kebaikan, namun tujuan akhirnya tetap saja menjadi sekutu bagi setan. Ini lah beragam jenis bisikan.

Setelah mengenal bermacam-macam bisikan (khotir) diatas, engkau kini perlu memahami tiga soal penting yang mesti direnungkan dalam-dalam menyangkut pembagian khotir ini:

Pertama, sangatlah penting untuk mengetahui secara umum perbedaan antara keinginan baik dan keinginan buruk. Kedua, selanjutnya perlu untuk mengetahui apakah sebuah keinginan buruk itu lahir dari godaan hawa nafsu atau disebabkan oleh bisikan setan. Jawabannya harus diketahui dari awal karena metode untuk mengatasinya berbeda. Ketiga, mengenai keinginan baik, juga perlu diketahui sejak awal apakah itu berasal dari bisikan Allah atau bisikan setan? Sebuah keinginan yang berasal dari bisikan Allah bisa direalisasikan, sedangkan yang berasal dari bisikan setan maka harus ditolak. Prinsip yang sama juga diterapkan dalam hal keinginan baik yang berasal dari bisikan hawa nafsu.

Timbangan pertama adalah syariah. Bila keinginan yang terlintasdalam hatimu itu sesuai dengan tuntunan agama, berarti itu baik. Namun, bila  berlawanan dengan tuntunan yang haq atau berstatus syubhat (meragukan) maka itu berarti buruk.Untuk membedakan antara ide atau keinginan yang baik dengan ide yang buruk, seorang ulama menyarankan untuk menimbang keinginan-keinginan yang muncul dari hati dalam 3 timbangan.

Akan tetapi, jika masih belum jelas bagimu dengan menggunakan timbangan ini, beralihlah kepada teladan yang ditunjukan oleh para orang-orang shaleh yang pernah hidup di masa lalu. Apabila ada contohnya dari mereka, maka ide-ide atau bisikan itu berarti baik, dan sebaliknya jika berlawanan dengan contoh dari orang-orang shaleh maka itu buruk.

Kemudian apabila masih belum jelas juga bagimu dengan timbangan ini, tawarkan saja kepada hawa nafsu, lalu lihatlah reaksinya. Bilamana nafsumu tidak suka, berarti bisikan itu baik, tapi bila nafsumu cenderung kepadanya secara insting lahiriyah (bukan karena harapan pada Allah), maka itu buruk. Sebab, nafsu itu benar-benar menyuruh kepada keburukan, dan pada asalnya tidak cenderung kepada kebaikan.

Dengan menggunakan ketiga timbangan tersebut akan jelas bagimu perbedaan antara bisikan baik dari bisikan buruk. Dan hanya kepada Allah Ta’ala yang memberikan  hidayah dengan anugerah-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Bersambung…

_Wallahu a’lam bisshawab_

Sumber : Al-Ghazali, “Minhajul ‘abidin”, darul ilmi, surabaya h.22

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>