Kebon Jeruk Jakarta Barat

Minhajul ‘Abidin (Tipu Daya Setan dan Cara Mengatasinya, bag.2)

Posted by on Feb 21, 2015 in Minhajul 'Abidin | 0 comments

(Oleh : KH. SuhermanMuchtar, MA)

Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Minhajul ‘Abidin :

Bagaimana caranya mengetahui tipu daya setan, dan bagaimana pula kita bisa memahami hal itu? ada dua cara untuk mengenali tipu daya setan: Pertama, setan menyerang korbannya dengan cara membidik mereka dengan bisikan-bisikan, seperti panah yang dilesatkan dari busurnya. Engkau dapat mengenali anak panah setan itu dengan merasakan bisikan-bisikan yang beraneka ragam itu. Kedua, senjata kedua setan adalah para muridnya yang sudah berhasil ia jerat. Hal itu dapat engkau kenali dengan mengetahui jenis-jenis tipu daya dan sifat-sifatnya, juga cara menyerangnya. Para ulama besar telah banyak membahas soal bisikan-bisikan hati tersebut.

Imam Ghazali telah mengarang kitab yang berjudul “talbis iblis” (tipu daya iblis). Kitab itu terlalu kecil untuk membahas topik tersebut secara detail. Akan tetapi, disini Imam Ghazali telah mengutip beberapa penjelasan tentang bisikan setan itu. Insya Allah ini sudah cukup bila dijalankan secara konsisten dan hati-hati.

Ketahuilah, bahwasanya Allah ta’ala telah menempatkan pada hati anak adam (manusia) itu malaikat yang disebut mulhim, yang mana ajakannya disebut dengan ilham. Dan sebagai pesaingnya, Allah menguasakan setan yang bernama waswasahyang mengajak hamba tersebut kepada keburukan, yang disebut dengan sikap waswas. Mulhim mengajak manusia kepada kebaikan, sedangkan waswasah mengajak pada keburukan.

Imam Ghazali mengutip dari gurunya, Syekh Abu bakar Al Waroq. Beliau menjelaskan bahwa setan itu adakalanya mengajak manusia kepada kebaikan dengan tujuan untuk menjerumuskan mereka yang terperangkap itu kepada keburukan. Misalnya, ia mengajak seorang hamba untuk melakukan sesuatu yang dipandang utama, untuk tujuan (yang sesungguhnya) yaitu menghalanginya dari jalan utama (yang sebenarnya) atau mengajaknya kepada kebaikan untuk menyeretnya kepada dosa yang lebih besar, yang kebaikannya tidak akan mencukupi untuk menghapus keburukannya itu. Seperti perbuatan ujub (mengagumi amal sendiri) atau lainnya.

Bersambung…

_Wallahu a’lam bisshawab_

Sumber : Al-Ghazali, “Minhajul ‘abidin”, darul ilmi, surabaya h.21

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>