Kebon Jeruk Jakarta Barat

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (4 Desember 2014)

Posted by on Dec 20, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH.Suherman Muchtar.MA

 

MUKADDIMAH

بسم الله الرّحمن الّرحيم
Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin :

اَحْمَدُ اللَّهَ اَوَّلاً حَمْدًا كَثِيْرًا مُتَوَالِياً وَاِنْ كاَنَ يَتَضاَءَلُ دُوْنَ حَقِّ جَلاَلِهِ حَمْدَ الْحاَمِدِيْنَ. وَأُصَلِّي وَ أُسَلِّمُ عَلَى رُسُلِهِ ثاَنِياً صَلاَةً تَسْتَغْرِقُ مَعَ سَيِّدِ الْبَشَرِ ساَئِر الْمُرْسَلِيْنَ. وَأَسْتَخِيْرُهُ تَعاَلىَ ثاَلِثاً فِيْماَ اِنْبَعَثَ عَزْمِيْ مِنْ تَحْرِيْرِ كِتاَبٍ فيِ اِحْياَءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ. وَأَنْتَدِبُ لِقَطْعِ تَعَجُبِكَ رَابِعاً أَيُّهَا الْعَاذِلُ الْمُتَغَالِي فِى الْعَذْلِ مِنْ بَيْنِ زُمْرَةِ الْجَاحِدِيْنَ,الْمُسْرِفِ فِى التّقْرِيْعِ وَالْاِنْكَارِ مِنْ بَيْنِ طَبَقَاتِ الْمُنْكَرِيْنَ الْغَافِلِيْنَ.

Pertama-tama, aku memuji Allah Ta’ala dengan pujian yang banyak dan berturut-turut, sekalipun pujian itu sangat kecil kurang dari hak keagungan-Nya seperti pujian orang yang memuji.

Kedua, aku bersolawat dan mengucapkan salam kepada Rasul-rasul-Nya dengan solawat yang merata bersama penghulu umat manusia dan seluruh para Rasul.

Ketiga, aku beristikharah (meminta pilihan yang baik) kepada Allah Ta’ala didalam sesuatu yang dapat membangkitkan cita-citaku dari pada menyusun kitab tentang “Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama” (Ihya’ ‘Ulumuddin).

Keempat, aku menentang untuk memutuskan kesombonganmu wahai pencela yang melampaui batas di dalam mencela di antara kelompok orang-orang yang menentang, yang melampaui batas dalam mencaci dan mengingkari diantara lapisan orang-orang yang ingkar dan lalai.

Penjelasan Pengasuh :
Sebelum kita membahas tentang kitab ini alangkah baiknya kita mengetahui sekelumit pribadi beliau, nama lengkap sang Imam adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, seorang al-Faqih (ahli fikih) yang bermadzhabkan As-Syafi’i. Imam Al-Ghazali di lahirkan di kota Thusi, pada sekitar pertengahan abad ke-5 Hijriah (450 H).

Imam Al-Ghazali beliau adalah seorang ulama yang sangat terkenal, bukan hanya di kalangan muslim saja, akan tetapi dengan otak yang sangat cerdas dan ketajaman berpikir yang luar biasa sehingga di luar Islam pun namanya sangat harum terdengar, dengan kecerdasan beliau sebenarnya beliau sudah pantas untuk membuat suatu mazhab baru, namun beliau enggan karena beliau sangat menghormati Imam Syafi’i.

Beliau memulai rangkaian menuntut ilmu pada masa kecil, banyak sekali beliau belajar kepada seorang guru, diantaranya Imam Al-Haramain, Syekh Ahmad Bin Muhammad Ar-Razikani, dll. Guru-guru Imam Al-Ghazali bukan hanya seorang terkemuka, namun beliau pernah belajar dengan tukang sol sepatu di belakang rumahnya. Cerita ini mengkisahkan suatu ketika Imam Al-Ghazali menjadi imam disebuah masjid, tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau berjamaah bersamanya. Lalu Imam Al-Ghazali memohon kepada ibunya agar memerintahkan saudaranya itu agar berjamaah dengannya, atas perintah ibunya akhirnya Ahmad melaksanakan perintah ibunya itu, namun di tengah-tengah shalat Ahmad memisahkan diri (mufarraqoh). Seusai shalat Imam Ghazali bertanya kepada Ahmad : “Mengapa engkau memisahkan diri dalam shalat yang saya imami?? . Ahmad menjawab : “aku memisahkan diri karena aku melihat darah pada dada mu”. Mendengar jawaban saudaranya itu Imam Al-Ghazali mengakuinya bahwa ia sedang memikirkan masalah fiqih yang berhubungan haid seorang wanita yang mutahayyirah.

Imam Al-Ghazali bertanya kepada saudaranya :”Dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu? saudaranya menjawab :”Aku belajar ilmu dari seorang tukang jahit sepatu yang ada di belakang rumah kita”. Setelah kejadian itu Imam Ghazali ingin belajar kepadanya. Setelah berjumpa kepadanya ia berkata kepada tukang sol itu :” saya ingin belajar kepada tuan”. Mendengar keinginan beliau, tukang sol tersebut memerintahkan beliau untuk membersihkan kotoran yang ada di bawah lemari. Setelah selesai Imam Ghazali ingin belajar akan tetapi gurunya tersebut memerintahkan untuk pulang kerumah saja. Imam Al-Ghazali pulang dan setibanya dirumah beliau merasakan mendapat ilmu pengetahuan luar biasa. Dan Allah telah memberikan ilmu Laduni atau ilmu Kasyaf yang di peroleh dari tasawuf atau kebersihan qalbu kepadanya. Demikian lah cerita tersebut banyak hal yang kita pelajari dari cerita tersebut. Pada akhirnya beliau menuangkan goresan penanya, dan mengarang kitab Ihya Ulumuddin dengan berpindah-pindah tempat.

Kemudian pengarang melanjutkan :
فَلَقَدْ حَلَّ عَنْ لِسَانِيْ عُقْدَةَ الصَّمْتِ وَطَوَّقَنِى عُهْدَةَ الْكَلَامِ وَقِلَادَةَالنُّطْقِ,مَا اَنْتَ مُثَابِرٌ عَلَيْهِ مِنَ الْعَمَى عَنْ جَلِيَّةِ الحَقِّ مَعَ اللجَاجِ فِى نُصْرَةِ البَاطِلِ وَ تَحْسِيْنِ الْجَهْلِ وَ التَشْغِيْبِ عَلَى مَنْ اَثَرَالنُزُوْعَ قَلِيْلًا عَنْ مَرَاسِمِ الْخُلُقِ وَمَالَ مَيْلًا يَسِيْرًا عَنْ مُلَازَمَةِ الرَّسْمِ اِلَى الْعَمَلِ بِمُقْتَضَى العِلْمِ طَمَعًا فِى نَيْلِ مَاتَعْبُدُهُ اللّهَ تَعَالَى بِهِ مِنْ تَزْكِيَةِ النَّفْسِ وَ اِصْلَاحِ القَلْبِ, وَ تَدَارُكًا لِبَعْضِ مَا فَرَّطَ مِنْ اِضَاعَةِ العُمْرِ يَائْسًا عَنْ تَمَامِ حَاجَتِكَ فِى الحِيْرَةِ وَانْحِيَازًا عَنْ غَمَارِ مَنْ قَالَ فِيْهِمْ صَاحِبُ الشَّرْعِ صَلَاةُ اللّهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ : (( اَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللّهُ سُبْحَانَهُ بِعِلْمِهِ)).

Maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah membuka ikatan diam dalam lidahku dan telah menjadikan rantai pada leherku dalam penjagaan berkata-kata dan kalung mutiara bertutur kata, selama engkau menekuni dari pada buta dari kebenaran yang nyata serta tekun di dalam menolong yang batil, membaguskan kebodohan dan membangkitkan fitnah kepada orang yang memilih mencabut diri sedikit dari tanda-tanda akhlak. Dan ia cendrung sedikit dari membiasakan diri mengikuti kebiasaan itu, kepada beramal dengan yang di kehendaki ilmu, karena ingin di dalam mencapai apa yang engkau sembah yaitu Allah Ta’ala dari pada membersihkan diri dan memperbaiki hati. Dan untuk memperoleh pada sebagian apa yang telah ia lalaikan dari menyia-nyiakan umur karena putus asa dari kesempurnaan memperoleh kembali. Dan tersisih dari kumpulan orang yang dikatakan terhadap mereka oleh yang mempunyai syariat (Nabi Saw) sholawat dan salamnya Allah kepadanya :”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat ialah orang yang berilmu yang tidak di beri manfaat oleh Allah swt dengan ilmunya”.

Penjelasan pengasuh :
Imam Ghazali dalam mukaddimahnya beliau memaparkan bagaimana keadaan orang-orang di zamannya, kebanyakan orang-orang ketika itu mereka buta kepada kebenaran, menolong kepada yang batil, membaguskan kebodohan, serta di zaman tersebut banyak orang yang sebenarnya ingin menahan diri dari pada fitnah-fitnah tersebut, akan tetapi mereka pun turut di bangkitkan sehingga terjerumus di dalam fitnah. Di zaman tersebut pula tidak ada orang yang beramal sampai kepada Allah Ta’ala dan kebanyakan manusia tidak mengamalkan ilmu yang ia milikinya sehingga mereka bisa disebut sebagai orang yang munafik yakni orang-orang yang ingkar setelah mengetahui. Demikian lah keadaan manusia di masa Imam Ghazali sehingga beliau menyatakan bahwa sudah saatnya beliau angkat bicara melalui dengan mengarang kitab ini.

Pengarang melanjutkan :
وَلَعُمْرِىْ اِنَّهُ لَا سَبَبَ لاِصْرَارِكَ عَلَى النَّكِيْرِ الَّا الدّاء الَّذِى عَمَّ الْجَمُّ الغَفِيْرُ بَلْ شَمِلَ الجَمَاهِيْرَ مِنَ القُصُوْرِ عَنْ مُلَاحَظَةِ ذَرْوَةِ هَذَا الْاَمْرِ وَ الجَهْلِ بِأَنَّ الأَمْرَ اِدٌّ وَالخَطْبَ جِدٌّ والاَخِرَةَ مُقْبِلَةٌ وَالدُّنْيَا مُدْبِرَةٌ وَالاَجَلَ قَرِيْبٌ وَالسَفَرَ بَعِيْدٌ والزَّادَ طَفِيْفٌ وَالخَطَرَ عَظِيْمٌ وَالطَرِيْقَ سَدٌّ, وَمَا سِوَى الخَالِصِ لِوَجْهِ اللّهِ مِنَ العِلْمِ وَ العَمَلِ عِنْدَ النَاقِدِ البَصِيْرِ رَدٌّ وَ سُلُوْكُ طَرِيْقِ الآخِرَةِ مَعَ كَثْرَةِ الغَوَائِلِ مِنْ غَيْرِ دَلِيْلٍ وَلَا رَفِيْقٍ مُتْعِبٌ وَ مُكِدٌّ, فَآَدِلَّةُ الطَّرِيْقِ هُمُ العُلَمَاءُ الّذِيْنَ هٌمْ وَرَثَةٌ الأنْبِيَاءِ.

Demi umurku sesungguhnya tiada sebab untuk senantiasanya kamu pada keingkaran kecuali penyakit yang meratai orang banyak. Bahkan telah meratai golongan orang-orang yang teledor dari pada memperhatikan pentingnya persoalan ini. Karena suatu kebodohan, bahwa perkara ini sangat besar dan perkara itu sungguh-sungguh, akhirat itu di depan dan dunia itu di belakang, ajal itu dekat, perjalanan itu jauh, perbekalan itu sedikit, bahaya itu besar, dan jalan itu tertutup. Selain keikhlasan karena Allah Ta’ala dari ilmu dan amal di sisi Allah Ta’ala yang maha teliti adalah tertolak. Berjalan ke jalan akhirat serta banyaknya sesuatu yang membinasakan tanpa petunjuk dan teman (amal soleh) adalah membuat payah dan lelah. Maka penunjuk-penujuk jalan itu ialah kaum ulama, mereka adalah pewaris para nabi.

Penjelasan pengasuh:
Al-Imam Ghazali masih menjelaskan bagaimana keadaan manusia ketika di masanya, mereka telah di liputi dalam pengingkaran sehingga penyakit tersebut telah menjangkit orang banyak yang ada di sekitarnya sehingga mereka lalai dalam memperhatikan perkara yang sangat penting ini, ibarat suatu pekerjaan dunia jika kita ingin menuju suatu tempat yang sangat jauh dengan menggunakan kendaraan pribadi kita, akan tetapi keadaan kita tidak mempunyai bekal yang cukup, bahan bakar untuk kendaraan kita tinggal sedikit, bukan hanya itu di jalan banyak rintangan yang mesti kita lewati di antaranya jalan yang begitu macet dan melewati jalan yang terjal, jika demikian keadaan itu yang terjadi kepada kita, apa yang kita mesti lakukan!!! Begitu pula untuk mempersiapkan diri untuk menuju tempat yang jauh (akhirat) mestilah dengan persiapan matang-matang, jalan yang tidak mudah kita bayangkan mesti kita siapkan dengan sebaik-baiknya.

Bukan hanya mengamalkan ilmu semata, akan tatapi di landaskan dengan keikhlaskan. Segala sesuatu mestilah di dasari dengan ikhlas, jika tidak ikhlas maka hasilnya tidak akan maksimal baik urusan dunia terlebih lagi urusan akhirat . puncak ibadah adalah untuk memandang Allah Ta’ala di akhirat nanti sebagaimana Allah berfirman : ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(QS Al-Kahfi: 110).

Pengarang mengakhiri bahasannya dengan mengatakan:
وَقَدْ شَغَرَ مِنْهُمْ الزَّمَانُ وَلَمْ يَبْقَ الاَّ المُتَرْسِمُوْنَ وَقَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَى أَكْثَرِهِمْ الشَّيْطَانُ وَاسْتَغْوَاهُمْ الطُغْيَانُ, وَاَصْبَحَ كُلُّ وَاحِدٍ بِعَاجِلِ حَظِّهِ مَشْغُوْفًا, فَصَارَ يَرَى المَعْرُوْفَ مُنْكَرًا وَالمُنْكَرَ مَعْرُوْفًا حَتَّى ظَلَّ عِلْمُ الدِّيْنِ مُنْدَرِسًا وَمُنَارُ الهُدَى فِى اَقْطَارِ الأَرْضِ مُنْطَمِسًا وَلَقَدْ خَيَّلُوا اِلَى الخَلْقِ اَنَّ لَا عِلْمَ الَّا فَتْوَى حُكُوْمَةٍ تَسْتَعِيْنُ بِهِ القُضّاةُ عَلَى فَصْلِ الْخِصَامِ عِنْدَ تَهَاوُشِ الطَّغَامِ اَوْ جَدْلٍ يَتَضَرَّعُ بِهِ طَالِبُ المُبَاهَاةِ اِلَى الغَلَبَةِ وَالاِفْحَامِ اَوْ سَجَعٍ مُزَخْرِفٍ يَتَوَسَّلُ بِهِ الوَاعِظُ اِلَى اسْتِدْرَاجِ العَوَامِ اِذْ لَمْ يَرَوا مَا سِوَى هَذِهِ الثَّلَاثَةِ مَصِيْدَةً لِلْحَرَامِ وَ شَبْكَةً لِلْحُطَامِ.
Dan sungguh telah kosonglah zaman dari mereka, tidak ada yang tersisa kecuali orang-orang yang menyerupai (ulama). Sungguh kebanyakan ulama itu telah di kuasai oleh syaitan dan mereka di sesatkan oleh yang melampaui batas. Jadilah masing-masing (ulama) mereka rindu/tergila-gila kepada keuntungan yang dekat, lalu ia memandang yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik sehingga ilmu agama akan terhapus dan nur hidayah hilang dipelosok bumi. Dan sesungguhnya mereka berkhayal kepada makhluk bahwa tidak ada ilmu pengetahuan kecuali fatwa hukum yang terbantu oleh para hakim untuk menyelesaikan perdebatan ketika ada suatu perkelahian di rakyat jelata (orang bodoh). Atau ilmu pengetahuan itu ialah jadal (perdebatan) yang digunakan oleh orang yang mencari kemegahan untuk memperoleh kemenangan, atau ilmu pengetahuan itu ialah sajak yang dihiasi yang digunakan oleh penceramah untuk menipu orang awam. Karena mereka tidak melihat selain dari yang tiga tadi kecuali untuk berburu yang haram dan menjaring harta benda dunia.

Penjelasan pengasuh :
Di zaman beliau ketika itu ulama-ulama yang wara’ dan ulama yang takut kepada Allah Ta’ala serta ulama yang mengamalkan ilmunya itu sudah sangat jarang, itulah sebagai tanda dimana di cabutnya ilmu sebagaimana Nabi Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mencabut ilmu yang dicabut dari dalam dada manusia, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama”.(Mutafaq ‘alaih). Seperti itulah keadaan ulama di zaman Imam Ghazali, bagaimana ulama pada masa kita saat ini yang jarak kita dengan Imam Ghazali sangat jauh sekali, oleh karena itu alangkah baiknya di akhir zaman ini kita harus perhatikan, kita hormati dan kita ikuti ulama-ulama yang wara’ yang perhatian pada akhirat, dengan demikian mudah-mudahan anak keturunan kita menjadi ulama sebagai mana Syaikh Az-Zarnuji mengatakan :”Adalah guru kami Syaikh Imam Sadiduddin Asy-Syairozi berkata: para guru kami berpesan:”Barang siapa ingin anaknya menjadi orang ‘alim, maka dianjurkan ia suka berbakti kepada para fuqoha (ulama) yang teasingkan, menghormati dan memuliakan serta memberikan sesuatu kepada mereka, jika ternyata anaknya tidak menjadi ‘alim maka cucunyalah kelak menjadi ‘alim”.(Ta’limul Muta’allim).

Setelah kita mengikuti jejak langkah ulama yang wara’ tersebut janganlah sekali-kali kita suuzhon kepada ulama tersebut, itu akan menjadi suatu bumerang bagi kita sebagai muridnya, karena ulama tersebut dijaga oleh Allah Ta’ala sebagaimana Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni mengatakan :”Menahan hati dari pada sesuatu yang terlintas pada hati dari pada suuzhon kepada manusia, maka sesungguhnya (suuzhon) itu adalah racun yang membunuh yang tiap-tiap seseorang tidak menyadarinya, terlebih lagi suuzhon dengan wali-wali Allah, ‘Alim Ulama, dan orang yang mengamalkan Qur’an”.(Al-Minahus Saniyah). Maka jika hati seorang murid telah dihiasi sifat suuzhon terhadap gurunya itu tandanya hatinya telah tertutup, tidak ada yang bisa membuka hati tersebut kecuali Allah Ta’ala. Terlebih lagi bukan hanya suuzhon terhadap guru, kita hina ulama yang istiqomah dijalan Allah Swt, jika ulama kita hina bukan hanya orang terdekatnya yang marah melainkan Allah Swt yang murka kepada orang tersebut karena ulama adalah pewaris para Nabi yang mengajak kita untuk semakin dekat kepada Allah Swt. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan kita keistiqomahan di dalam mengikuti jejak langkah para alim ulama kita, Amiin…
Bersambung….

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *