Kebon Jeruk Jakarta Barat

Ihya ‘Ulumiddin

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 29 Januari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اِنَّمَا حَمَلَنِي عَلَى تَاْسِيْسِ هَذَا الْكِتَابِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْبَاعٍ أَمْرَانِ, أَحَدُهُمَا : وَهُوَ الْبَاعِثُ الأَصْلِيُّ. أَنَّ هَذَا التَّرْتِيْبَ فِي التَّحْقِيْقِ وَ التَّفْهِيْمِ كَالضَّرُوْرَةِ لأَنَّ الْعِلْمَ الذِى يَتَوَجَّهُ بِهِ اِلَى الآخِرَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ وَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ, وَاَعْنِى بِعِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ : مَا يَطْلُبُ مِنْهُ كَشْفُ الْمَعْلُوْمِ فَقَطْ, وَأَعْنِى بِعِلْمِ الْمُعَامَلَةِ : مَا يُطْلُبُ مِنْهُ مَعَ الْكَشْفِ الْعَمَلُ بِهِ, وَالْمَقْصُوْدُ مِنْ هَذَا الكِتَابِ عِلْمُ الْمُعَامَلَةِ فَقَطْ دُوْنَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ الَّتِى لاَ رُخْصَةَ فِى اِيْدَاعِهَا الْكُتُبَ وَاِنْ كَانَتْ هِيَ غَايَةُ مَقْصِدِ الطَّالِبِيْنَ وَمَطْمَعِ نَظْرِ الصِّدِّيْقِيْنَ, وَعِلْمُ الْمُعَامَلَةِ طَرِيْقٌ اِلَيْهِ وَلَكِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ لأَنبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ مَعَ الْخَلْقِ اِلَّا فِى عِلْمِ الطَّرِيْقِ وَالأِرْشَادِ اِلَيْهِ. وَ اَمَّا عِلّمُ الْمُكَاشَفَةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمُوْا فِيْهِ الاَّ بِالرٍّمْزِ وَالاِيْمَاءِ عَلَى السَّبِيْلِ التَّمْثِيْلِ وَالاِجْمَالِ عِلْمًا مِنْهُمْ بِقُصُوْرِ أَفْهَامِ الْخَلْقِ عَنِ الاِحْتِمَالِ. وَالْعُلَمأءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ فَمَا لَهُمْ سَبِيْلٌ اِلَى الْعُدُوْلِ عَنْ نَهْجِ التَّأَسِّى وَ الأِقْتِدَاءِ ثُمَّ انَّ عِلْمَ الْمُعَامَلَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمٍ ظَاهِرٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ وَ اِلَى عِلْمٍ بَاطِنٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْقُلُوْبِ وَ الْجَارِى عَلَى الْجَوَارِحِ اِمَّا عَادَةٌ وَ اِمَّا عِبَادَةٌ وَالْوَارِدُ عَلَى الْقُلُوْبِ التِي هِيَ بِحُكْمِ الأِحْتِجَابِ عَنِ الْحَوَاسِ مِنْ عَالَمِ الْمَلَكُوتِ اِمَّا مَحْمُودٌ وَ اِمَّا مَذْمُوْمٌ فَبِالْوَاجِبِ اِنْقَسَمَ هَذَا الْعِلْمُ اِلَى شَطْرَيْنِ ظَاهِرٍ وَ بَاطِنٍ, وَ الشَّطْرُ الظَّاهِرُ الْمُتَعَلِقُ بِالْجَوَارِحِ اِنْقَسَمَ اِلَي عَادَةٍ وَ عِبَادَةٍ, وَ الشَطْرُ الْبَاطِنُ الْمُتَعَلِّقُ بِأَحْوَالِ الْقَلْبِ وَ أَخْلاَقِ النُّفُسِ اِنْقَسَمَ اِلَي مَذْمُوْمٍ وَ مَحْمُوْدٍ فَكَانَ الْمَجْمُوْعُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ وَلاَ يَشُذُّ نَظْرٌ فِي الْمُعَامَلَةِ عَنْ هَذِهِ الأَقْسَامِ.   Terjemah Kitab: “Sesungguhnya yang membawa aku mendasarkan kitab ini pada empat bagian (rubu’, adalah dua hal: Pertama: pendorong asli, bahwa susunan ini pada menjelaskan hakikat dan pengertian, seperti Ilmu Doruri. Sebab pengetahuan yang menuju keakhirat itu terbagi kepada Ilmu Muamalah dan Ilmu Mukhasyafah. Yang dimaksud dengan Ilmu Mukhasyafah ialah yang diminta mengetahuinya saja. Dan dengan Ilmu Muamalah ialah yang diminta, disamping mengetahuinya hendaknya diamalkan. Dan yang dimaksudkan dari kitab ini ialah Ilmu muamalah saja tidak Ilmu Mukasyafah yang tidak mudah menyimpannya dibuku-buku meskipun menjadi tujuan maksud para pelajar dan keinginan perhatian orang-orang shiddiqin. Dan ilmu muamalah itu adalah jalan kepada ilmu mukhasyafah. Tetapi para Nabi tidak memperkatakan pada orang banyak, selain mengenai ilmu untuk jalan dan petunjuk kepada ilmu mukasyafah itu. Adapun Ilmu Mukasyafah mereka tidak membicarakannya selain dengan jalan rumus dan isyarat yang merupakan contoh dan kesimpulan. Karena para Nabi itu tau akan singkatnya paham orang banyak untuk dapat memikulnya. Alim ulama itu adalah pewaris para Nabi. Maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling dari pada mengikuti dan mematuhinya. Kemudian ilmu muamalah itu terbagi kepada Ilmu Dzhahir yaitu ilmu mengenai amal perbuatan anggota badan, dan Ilmu Batin yaitu ilmu mengenai amal perbuatan hati dan yang melalui pada anggota badan adakalanya adat kebiasaan dan adakalanya ibadah. Dan yang datang pada hati yang dengan sebab terhijab dari panca indra termasuk bagian alam malakut, adakalanya terpuji dan adakalanya tercela maka seharusnya ilmu ini terbagi dua yaitu dzahir dan Batin. Bagian zhahir yang menyangkut dengan anggota badan terbagi adat kebiasan dan ibadah. Bagian batin...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 22 Januari 2015)

Posted by on Apr 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : و اما ربع المنجيات: فأذكر فيه كل خلق محمود و خصلة مرغوب فيها من خصال المقربين و الصديقين التي بها يتقرب العبد من رب العالمين و اذكر في كل خصلة حدّها و حقيقتها و سببها الذي به تجتلب و ثمرتها التي منها تستفاد و علامتها التى بها تتعرف و فضيلتها التي لأجلها فيها يرغب مع ما ورد فيها من شواهد الشرع و العقل ولقد صنف الناس في بعض هذه المعاني كتبا, و لكن يتميز هذا الكتاب عنها بخمسة امور: الأول : حل ما عقدوه و كشف ما اجملوه, الثاني : ترتيب ما بددوه و نظم ما فرقوه, الثالث : ايجاز ما طولوه و ضبط ما قرروه, الرابع : حذف ما كرروه و اثبات ما حرروه, الخامس : تحقيق امور غامضة اعتاصت على الأفهام لم يتعرض لها في الكتب اصلا اذ اكل و ان تواردوا على منهج واحد فلا مستنكر ان يتفرد كل واحد من السالكين بالتنبيه لأمر يخصه و يغفل عنه رفقاؤه او لا يغفل عن التنبيه و لكن يسهو عن ايراده في الكتب او لا يسهو و لكن يصرفه عن كشف الغطاء عنه صارف فهذه خواص هذا الكتاب مع كونه حاويا لمجامع هذه العلوم. Terjemah Kitab: “Dan adapun  bagian perbuatan yang melepaskan, maka saya akan sebutkan semua budi pekerti yang terpuji dan keadaan yang disukai yang menjadi budi pekerti orang-orang muqarrabin dan shiddiqin yang seorang hamba mendekatkan kepada Tuhannya semesta alam saya akan terangkan pada tiap-tiap budi pekerti itu, batasnya, hakikatnya, sebab yang membawa tertarik kepadanya faedah yang dapat diperoleh dari padanya tanda-tanda untuk mengenalinya dan keutamaan yang membawa kegemaran padanya serta apa yang ada padanya dari dalil-dali syariat dan akal pikiran. Penulis-penulis lain udah mengarang beberapa buku mengenai sebagian dri maksud-maksud tadi, akan tetapi kitab ini berbeda dari kitab-kitab itu dalam lima hal. Pertama: menguraikan dan menjelaskan apa yang ditulis penulis-penulis lain secara singkat dan umum. Kedua: menyusun dan mengatur apa yang dibuat mereka itu berpisah-pisah dan bercerai-cerai. Ketiga: menyingkatkan apa yang dibuat mereka itu berpanjang-panjang dan menentukan apa yang ditetapkan mereka. Keempat: membuang apa yang dibuat mereka itu berulang-ulang dan menetapkan dengan kepastian diantara yang diuraikan itu. Kelima: memberi kepastian hal-hal yang meragukan yanag membawa kepada salah paham yang tidak disinggung sedikitpun dalam kitab-kitab yang lain. Karena semuanya walaupun mereka itu menempuh pada suatu jalan tetapi tak dapat dibantah bhwa masing-masing orang salik (orang yang berjalan pada jalan Allah) itu mempunyai perhatian tersendiri kepada sesuatu hal yang tertentu baginya dan dilupakan teman-temannya atau ia tidak lalai dari perhatian itu, akan tetapi lupa dimasukannya kedalam kitab-kitabnya atau ia tidak lupa, akan tetapi ia dipalingkan oleh sesuatu yang memalingkannya dari pada menyingkapkan yang tertutup dari...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 15 Januari 2015)

Posted by on Apr 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : فَأَمَّا رُبْعُ الْعِبَادَاتِ : فَأَذْكُرُ فِيْهِ مِنْ خَفَايَا ادَابِهَا وَدَقَائِقِ سُنَنِهَا وَ أَسْرَارِ مَعَانِيْهَا مَا يَضْطَرُّ العَالِمُ العَامِلُ اِلَيْهِ, بَلْ لاَ يَكُوْنُ مِنْ عُلَمَاءِ الآخِرَةِ مَنْ لاَ يَطَّلِعُ عَلَيْهِ, وَأَكْثَرُ ذَالِكَ مِمَّا اُهْمِلَ فِى فَنِّ الْفِقْهِيَاتِ. وَ اَمَّا رُبْعُ الْعَادَاتِ : فَأَذْكُرُ فِيْهِ أَسْرَارَ الْمُعَامَلَاتِ الجَارِيَةِ بَيْنَ الْخَلْقِ وَ أَغْوَارَهَا وَ دَقَائِقَ سُنَنِهَا وَ خَفَايَا الْوَرْعِ فِى مَجَارِيْهَا. وَ هِيَ لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهَا مُتَدَيِّنٌ. وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُهْلِكَاتِ : فَأَذْكُرُ فِيْهِ كُلَّ خُلُقٍ مَذْمُوْمٍ وَرَدَ الْقُرْانُ بِأِمَاطَتِهِ وَ تَزْكِيَةِ النَّفْسِ عَنْهُ وَ تَطْهِيْرِ الْقَلْبِ مِنْهُ, وَ أَذْكُرُ مِنْ كُلِّ وَأحِدٍ مِنْ تِلْكَ الأَخْلاَقِ حَدَّهُ وَ حَقِيْقَتَهُ , ثُمَّ أَذْكُرُ سَبَبَهُ الذِى مِنْهُ يَتَوَلَّدُ, ثُمَّ الآفَاتِ الَّتِي عَلَيْهَا تَتَرَتَّبُ , ثُمَّ الْعَلَامَاتِ الَّتِى بِهَا تُتَعَرَّفُ , ثُمَّ طُرُقَ الْمُعَالَجَةِ الَّتى بِهَا مِنْهَا يَتَخَلَّصُ , كُلُ ذَالِكَ مَقْرُوْنًا بِشَوَاهِدِ الآيَاتِ وَ الأخْبَارِ وَ الآثَارِ. Terjemah Kitab : Adapun bagian ibadah, maka akan saya sebutkan di dalamnya tentang adab yang mendalam, sunah-sunah yang halus, dan rahasia-rahasia makna yang di butuhkan oleh orang yang berilmu dan mengamalkan. Bahkan tidaklah termasuk di antara ulama akhirat orang yang tidak memperhatikan kepadanya, dan kebanyakan demikian itu diantara sesuatu yang di sia-siakan dalam ilmu fiqih. Adapun bagian pekerjaan sehari-hari, maka saya sebutkan di dalamnya dari pada rahasia muamalah yang berjalan di antara makhluk dan liku-likunya, sunahnya yang halus-halus, dan sifat wara’ yang tersembunyi pada tempat berjalannya. Yaitu yang harus dimiliki oleh orang yang beragama. Adapun bagian yang membinasakan : Maka akan aku sebutkan tentang akhlak yang tercela yang telah datang keterangannya dalam Al-Qur’an dengan menghilangkannya, membersihkan jiwa, dan mensucikan hati dari padanya itu, dan aku sebutkan tiap-tiap akhlaq definisi dan hakikatnya, kemudian aku sebutkan sebab-sebab yang timbul darinya, kemudian bahaya yang teratur, tanda-tanda yang engkau ketahui dan jalan-jalan supaya terlepas dari padanya. Semuanya itu disertai dengan dalil-dalil ayat, hadits, dan perkataan sahabat. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini Imam Al-Ghazali akan menjelaskan nanti dalam pembahasan tentang ibadah pada rahasia-rahasianya atau yang tersembunyi. Dalam fiqih ibadah terbagi dua yakni ibadah Mahdoh dan Ghoiru Mahdoh, Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaili, Ibadah ialah suatu nama yang menghimpun bagi sesuatu yang dicintai oleh Allah Swt baik perkataan maupun perbuatan, baik yang zohir maupun yang batin. Ibadah bukan hanya perbuatan yang wajib saja yang kita kerjakan, akan tetapi perbuatan sunah pun kita lakukan, karena sunah merupakan perintah Allah dan itu merupakan suatu ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt. Menurut Imam Al-Ghazali ibadah wajib ibarat induknya harta sedangkan ibadah sunah merupakan keuntungannya. Hidup ini ibarat perdagangan, jika ia mengerjakan hanya hal yang wajib saja dan tidak melakukan hal yang dapat menghancurkan ibadah, maka selamatlah orang tersebut. Jika ditambah dengan yang sunah maka orang itu adalah orang yang beruntung. Kemudian Imam Al-Ghazali akan menyebutkan bagaimana rahasia wara’. Ciri mendasar pada seseorang yang bersifat wara’ adalah kemampuannya meninggalkan sesuatu yang hanya semata-mata ada keraguan atau syubhat, orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap prefentif untuk diri mereka sendiri dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 08 Januari 2015)

Posted by on Apr 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : :وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُنْجِيَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ التَّوْبَةِ, وَ كِتَابُ الصَّبْرِ وَ الشُّكْرِ, وَ كِتَابُ الخَوْفِ وَالرَّجَاءِ, وَكِتَابُ الْفَقْرِ وَالزُّهْدِ, وَ كِتَابُ التَّوْحِيْدِ وَ التَّوَكُلِ, وَ كِتَابُ الْمَحَبَّةِ وَ الشَّوْقِ وَ الاُنْسِ وَالرِّضَا, وَ كِتَابُ النِّيَةِ وَ الصِّدْقِ وَ لأِخْلاَصِ, وَ كِتَابُ الْمُرَاقَبَةِ وَالْمُحَاسَبَةِ, وَ كِتَابُ التَّفَكُرِ, وَ كِتَابُ ذِكْرِ الْمَوْتِ Terjemah Kitab : “Bagian (rubu’) perbuatan yang menyelamatkan, melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Taubat. Kedua, Kitab Sabar dan Syukur. Ketiga, Kitab Takut dan Berharap. Keempat, Kitab Fakir dan Zuhud. Kelima, Kitab Tauhid dan Tawakal. Keenam, Kitab Cinta, Rindu, Senang, dan Ridha. Ketujuh, Kitab Niat, Jujur, dan Ikhlas. Kedelapan, Kitab Muraqabah dan Muhasabah. Kesembilan, Kitab Tafakur. Kesepuluh, Kitab Ingat Mati”. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini kita masih membahas tentang mukaddimah dalam kitab ini, pada pertemuan ini Imam Ghazali akan membagi bagian tentang perbuatan yang dapat menyelamatkan. Sebagai berikut : Kitab Taubat Memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Allah Subhanhu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali. Tobat merupakan awal pertama bagi kita untuk menyucikan diri,  membersihkan jiwa, bathin dan hati dari segala kerak noda dosa yang melekat ditubuh. Dalam tazkiyatun nufus, untuk pembersihan jiwa tobatlah jalan awal bagi mereka. Hati yang sudah berkerak dengan noda dosa sangat susah masuk sinar nur, hidayah, dan hikmat dalam hati jiwa sanubarinya. Sebagaimana Allah Swt berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahriim : 8). Taubat yang bagus ialah taubat yang dilakukan setiap hari, sebab jika dosanya itu tergolong dosa kecil maka adalah dibawah kehendak Allah, kalau Allah ampuni maka diampuni kalau tidak, maka tidak diampuni dan akan mendapatkan siksa dari Allah Swt. Apalagi menyangkut dengan manusia, maka orang tersebut harus minta ridha terlebih dahulu kepada orang tersebut. Kitab Sabar dan Syukur Sabar merupakan bentuk pengendalian diri`atau kemampuan menghadapi rintangan, kesulitan menerima musibah dengan ikhlas dan dapat menahan marah, titik berat nurani (hati). Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Seseorang akan dangkat menjadi imam/pemimpin setelah diberi cobaan kemudian dia bersabar atas cobaan tersebut. Allah Swt berfirman : وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 01 Januari 2015)

Posted by on Feb 8, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُهْلِكَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ شَرْحِ عَجَائِبِ الْقَلْبِ, وَ كِتَابُ رِيَاضَةِ النَّفْسِ, وَ كِتَابُ افَاتِ الشَّهْوَتَيْنِ: شَهْوَةُ الْبَطْنِ وَ شَهْوَةُ الْفَرْجِ, وَ كِتَابُ افَاتِ اللِّسَانِ, وَ كِتَابُ افَاتِ الْغَضَبِ وَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الدُّنْيَا, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْمَالِ وَ الْبُخْلِ, وَ كِتَابُ ذَمُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاءِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْكِبْرِ وَ الْعُجْبِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْغُرُوْرِ. Terjemah Kitab : “Bagian (rubu’) perbuatan yang membinasakan, meliputi sepuluh kitab : pertama, Kitab Menjelaskan Keajaiban Hati. Kedua, Kitab Latihan diri (jiwa). Ketiga, Kitab Bahaya Syahwat (perut dan kemaluan). Keempat, Kitab Bahaya Lidah. Kelima, Kitab Bahaya Marah, Dendam, dan Dengki. Keenam, Kitab Tercelanya Dunia. Ketujuh, Kitab Tercelanya Harta dan Kikir. Kedelapan, Kitab Tercelanya Suka Kemegahan dan Riya. Kesembilan, Kitab Tercelanya Sifat Takabbur dan ‘Ujub. Kesepuluh, Kitab Tercelanya Sifat Tertipu Kemegahan Dunia. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini kita masih membahas mukaddimah kitab ini, bagian perbuatan yang dapat membinasakan beliau membagi 10 (sepuluh) kitab :   Kitab Keajaiban Hati Dalam tubuh kita ada anggota tubuh yang sangat penting peranannya untuk kita perhatikan baik-baik, sebagaimana Nabi saw bersabda : اِنَّ فِى جَسَدِ اِبْنِ ادَمَ مُضْغَةً, اِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ صَلَحَ لَهَا سَائِرُ الْبَدَنِ, الاَ وَ هِيَ الْقَلْبُ Artinya : “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila baik ia (daging) niscaya baik seluruh anggota tubuhnya semuanya dan baik seluruh badannya, ketahuilah bahwa itu adalah hati”. Hati ibarat cermin, jika tidak dirawat dan dibersihkan, ia mudah kotor dan berdebu. Hati yang sakit ia senantiasa dipenuhi penyakit yang bersarang didalamnya, diantaranya riya, hasad dengki, dll. Jika hati sudah terjangkit penyakit maka tidak lain obat hati yang paling mujarab adalah dzikrullah (mengingat Allah).   Kitab Latihan Nafsu Nafsu merupakan pokok yang menghimpun sifat-sifat tercela dari manusia, sehingga mereka mengatakan bahwa kita harus melawan nafsu (hawa nafsu) dan memecahkannya. Melatih nafsu tidaklah mudah, karena dia tidak terlihat. Sampai Nabi saw katakan bahwa melawan nafsu itu ibarat jihad akbar (besar) yang dimana hukumnya adalah fardu ‘ain, sedangkan jihad kecil ialah melawan orang kafir yang pada hukumnya adalah fardu kifayah. Beliau sabdakan : رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الاَصْغَرِ اِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ, قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللّهِ وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ قَالَ الْجِهَادُ فِى النَّفْسِ Artinya:”Kami kembali dari jihad kecil kepada jihad besar, sahabat bertanya:”apa itu jihad besar wahai Rasulullah??Rasul menjawab : jihad besar ialah jihad melawan nafsu”. Kitab Bahaya 2 (dua) Syahwat (perut dan kemaluan) Disini Imam Al-Ghazali menyebutkan yang dimaksud 2 (dua) syahwat ialah perut dan kemaluan. Perut pada hakikatnya adalah sumber dari segala nafsu syahwat dan tempat tumbuhnya segala penyakit dan bencana. Karena nafsu syahwat perut diikuti oleh nafsu syahwat farji (kemaluan) dan kuatnya nafsu syahwat kepada wanita-wanita yang dikawini. Sumber segala dosa adalah syahwat perut dan dari situlah timbul syahwat kemaluan, untuk itu cara mengendalikan syahwat yang paling ampuh ialah dengan lapar. Itulah sebabnya Nabi saw memerintahkan umatnya untuk memerangi syahwat dengan lapar dan haus, karena pahala dalam hal itu seperti pahala orang...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 25 Desember 2014)

Posted by on Feb 8, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اَمَّا رُبْعُ الْعَادَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ ادَابِ الأَكْلِ, وَ كِتَابُ ادَابِ النِّكَاحِ, وَ كِتَابُ أَحْكَامِ الْكَسْبِ, وَكِتَابُ الْحَلَالِ وَ الْحَرَامِ, وَ كِتَابُ ادَابِ الصُّحْبَةِ وَ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ أَصْنَافِ الْخَلْقِ, وَ كِتَابُ الْعُزْلَةِ, وَ كِتَابُ ادَابِ السَّفَرِ, وَ كِتَابُ السَّمَاعِ وَ الْوُجْدِ, وَ كِتَابُ الأَمْرِ بِالمَعْرُوْفِ وَ النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ, وَ كِتَابُ ادَابِ الْمَعِيْشَةِ وَ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ Artinya : “ Bagian (rubu’) pekerjaan sehari-hari melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Adab Makan. Kedua, Kitab Adab Pernikahan. Ketiga, Kitab Hukum Berusaha (Bekerja). Keempat, Kitab Halal dan Haram. Kelima, Adab Berteman dan Bergaul dengan Berbagai Golongan Manusia. Keenam, Kitab ‘Uzlah (Mengasingkan Diri). Ketujuh, Kitab Bermusafir. Kedelapan, Kitab Mendengar dan Merasa. Kesembilan, Kitab Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Kesepuluh, Kitab Adab Kehidupan dan Budi Pekerti (Akhlaq) Kenabian”. Penjelasan Pengasuh : Pada bagian (rubu’) yang kedua Imam Ghazali membagi sepuluh kitab juga, diantaranya : Kitab Adab Makan Ajaran Islam mencangkup seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali masalah makanan. Oleh karena itu bagi kaum muslimin, makanan di samping berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, juga berkaitan dengan ruhani, iman, dan ibadah dengan identitas diri. Imam Al-Ghazali mengutamkan pembahasannya dengan makan, karena makan adalah suatu hal yang sangat penting untuk mengokohkan badan, serta mempunyai dampak yang sangat besar untuk badan dan daya tahan tubuh kita. Allah Ta’ala berfirman : فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ Artinya : “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.(An-Nahl : 114). Dari ayat di atas, dapat di simak bahwa Allah menyuruh manusia memakan apa saja di dunia ini yang di ciptakannya, sepanjang halal dan baik.   Kitab Adab Pernikahan Di sini Imam Al-Ghazali menempatkan bab pernikahan sebagai urutan yang kedua, karena biasanya jika seseorang telah kebanyakan makan maka akan menimbulkan nafsu pada dirinya. Sebagai pribadi muslim yang menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangganya hendaklah sebelum melakukan pernikahan mesti belajar tentang hak dan kewajiban seorang istri dan suami agar tercapai lah tujuan pernikhan itu yakni sebagaimana firman Allah Swt : وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar Rum:21) Karena salah satu faktor terjadinya banyak perceraian kebanyakan orang enggan belajar tentang hak dan kewajibannya masing-masing.   Kitab Hukum Berusaha Agama Islam menganjurkan orang agar berusaha mencari nafkah dan harta benda dengan jalan bercocok tanam, pertukangan atau perdagangan dan lain-lain dengan jalan yang baik. Dalam tasawuf ada yang namanya Maqam Tajrid dan Maqam Kasbi, Maqam Tajrid ialah seseorang sudah terjamin rizkinya sehingga orang tersebut tidak menyibukan dirinya dalam berusaha mencari rizki dan hanya fokus untuk beramal negeri akhirat....

Read More