Kebon Jeruk Jakarta Barat

Blog

Blog Page

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 08 Januari 2015)

Posted by on Apr 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : :وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُنْجِيَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ التَّوْبَةِ, وَ كِتَابُ الصَّبْرِ وَ الشُّكْرِ, وَ كِتَابُ الخَوْفِ وَالرَّجَاءِ, وَكِتَابُ الْفَقْرِ وَالزُّهْدِ, وَ كِتَابُ التَّوْحِيْدِ وَ التَّوَكُلِ, وَ كِتَابُ الْمَحَبَّةِ وَ الشَّوْقِ وَ الاُنْسِ وَالرِّضَا, وَ كِتَابُ النِّيَةِ وَ الصِّدْقِ وَ لأِخْلاَصِ, وَ كِتَابُ الْمُرَاقَبَةِ وَالْمُحَاسَبَةِ, وَ كِتَابُ التَّفَكُرِ, وَ كِتَابُ ذِكْرِ الْمَوْتِ Terjemah Kitab : “Bagian (rubu’) perbuatan yang menyelamatkan, melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Taubat. Kedua, Kitab Sabar dan Syukur. Ketiga, Kitab Takut dan Berharap. Keempat, Kitab Fakir dan Zuhud. Kelima, Kitab Tauhid dan Tawakal. Keenam, Kitab Cinta, Rindu, Senang, dan Ridha. Ketujuh, Kitab Niat, Jujur, dan Ikhlas. Kedelapan, Kitab Muraqabah dan Muhasabah. Kesembilan, Kitab Tafakur. Kesepuluh, Kitab Ingat Mati”. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini kita masih membahas tentang mukaddimah dalam kitab ini, pada pertemuan ini Imam Ghazali akan membagi bagian tentang perbuatan yang dapat menyelamatkan. Sebagai berikut : Kitab Taubat Memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Allah Subhanhu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali. Tobat merupakan awal pertama bagi kita untuk menyucikan diri,  membersihkan jiwa, bathin dan hati dari segala kerak noda dosa yang melekat ditubuh. Dalam tazkiyatun nufus, untuk pembersihan jiwa tobatlah jalan awal bagi mereka. Hati yang sudah berkerak dengan noda dosa sangat susah masuk sinar nur, hidayah, dan hikmat dalam hati jiwa sanubarinya. Sebagaimana Allah Swt berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahriim : 8). Taubat yang bagus ialah taubat yang dilakukan setiap hari, sebab jika dosanya itu tergolong dosa kecil maka adalah dibawah kehendak Allah, kalau Allah ampuni maka diampuni kalau tidak, maka tidak diampuni dan akan mendapatkan siksa dari Allah Swt. Apalagi menyangkut dengan manusia, maka orang tersebut harus minta ridha terlebih dahulu kepada orang tersebut. Kitab Sabar dan Syukur Sabar merupakan bentuk pengendalian diri`atau kemampuan menghadapi rintangan, kesulitan menerima musibah dengan ikhlas dan dapat menahan marah, titik berat nurani (hati). Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Seseorang akan dangkat menjadi imam/pemimpin setelah diberi cobaan kemudian dia bersabar atas cobaan tersebut. Allah Swt berfirman : وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ Artinya : “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”. (As-Sajadah: 24). Banyak diantara macam-macam sabar, diantaranya sabar dalam ketaatan, dalam meninggalkan maksiat, dan sabar atas bala (bencana). Kemudian...

read more

Minhajul ‘Abidin (Tipu Daya Setan dan Cara Mengatasinya, bag.4)

Posted by on Feb 28, 2015 in Minhajul 'Abidin | 0 comments

(Oleh : KH. SuhermanMuchtar, MA) Al-Imam Ghozali berkata di dalam kitabnya Minhajul ‘Abidin : Bisikan (khatir) yang datang dari sisi Allah ta’ala sebagai permulaan itu bisa jadi berbentuk kebaikan, sebagai penghormatan dan untuk penetapan hujjah. Tapi bisa jadi berbentuk keburukan, yaitu sebagai cobaan dan fungsi pemberat dari ujian. Sedangkan bisikan yang datang dari malaikat pembawa ilham itu berbentuk kebaikan. Sebab, malaikat itu adalah pemberi nasihat dan ia diutus oleh Allah memang untuk menuntun ke jalan kebaikan. Adapun bisikan yang datang dari sisi setan, pasti isinya buruk, menyesatkan, dan menggelincirkan. Namun, bisa jadi pula bisikan itu awalnya muncul dalam bentuk yang baik sebagai sarana untuk menipu dan menyesatkan korbannya dengan perlahan. Sedangkan yang datang dari sisi hawa nafsu itu berupa keburukan, dan dengan sesuatu yang tidak mengandung kebaikan. Ini sebagai wujud dari pembangkangan dan sifat egois. Sebagian ulama salaf menyebutkan, hawa nafsu itu juga kadang mengajak kepada kebaikan, namun tujuan akhirnya tetap saja menjadi sekutu bagi setan. Ini lah beragam jenis bisikan. Setelah mengenal bermacam-macam bisikan (khotir) diatas, engkau kini perlu memahami tiga soal penting yang mesti direnungkan dalam-dalam menyangkut pembagian khotir ini: Pertama, sangatlah penting untuk mengetahui secara umum perbedaan antara keinginan baik dan keinginan buruk. Kedua, selanjutnya perlu untuk mengetahui apakah sebuah keinginan buruk itu lahir dari godaan hawa nafsu atau disebabkan oleh bisikan setan. Jawabannya harus diketahui dari awal karena metode untuk mengatasinya berbeda. Ketiga, mengenai keinginan baik, juga perlu diketahui sejak awal apakah itu berasal dari bisikan Allah atau bisikan setan? Sebuah keinginan yang berasal dari bisikan Allah bisa direalisasikan, sedangkan yang berasal dari bisikan setan maka harus ditolak. Prinsip yang sama juga diterapkan dalam hal keinginan baik yang berasal dari bisikan hawa nafsu. Timbangan pertama adalah syariah. Bila keinginan yang terlintasdalam hatimu itu sesuai dengan tuntunan agama, berarti itu baik. Namun, bila  berlawanan dengan tuntunan yang haq atau berstatus syubhat (meragukan) maka itu berarti buruk.Untuk membedakan antara ide atau keinginan yang baik dengan ide yang buruk, seorang ulama menyarankan untuk menimbang keinginan-keinginan yang muncul dari hati dalam 3 timbangan. Akan tetapi, jika masih belum jelas bagimu dengan menggunakan timbangan ini, beralihlah kepada teladan yang ditunjukan oleh para orang-orang shaleh yang pernah hidup di masa lalu. Apabila ada contohnya dari mereka, maka ide-ide atau bisikan itu berarti baik, dan sebaliknya jika berlawanan dengan contoh dari orang-orang shaleh maka itu buruk. Kemudian apabila masih belum jelas juga bagimu dengan timbangan ini, tawarkan saja kepada hawa nafsu, lalu lihatlah reaksinya. Bilamana nafsumu tidak suka, berarti bisikan itu baik, tapi bila nafsumu cenderung kepadanya secara insting lahiriyah (bukan karena harapan pada Allah), maka itu buruk. Sebab, nafsu itu benar-benar menyuruh kepada keburukan, dan pada asalnya tidak cenderung kepada kebaikan. Dengan menggunakan ketiga timbangan tersebut akan jelas bagimu perbedaan antara bisikan baik dari bisikan buruk. Dan hanya kepada Allah Ta’ala yang memberikan  hidayah dengan anugerah-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Bersambung… _Wallahu a’lam bisshawab_ Sumber : Al-Ghazali, “Minhajul ‘abidin”, darul ilmi, surabaya...

read more

Minhajul ‘Abidin (Tipu Daya Setan dan Cara Mengatasinya, bag.3)

Posted by on Feb 23, 2015 in Minhajul 'Abidin | 0 comments

(Oleh : KH. Suherman Muchtar, MA) Al-Imam Ghozali berkata di dalam kitabnya Minhajul ‘Abidin : Masih menjelaskan bagaimana caranya mengetahui tipu daya setan, dan bagaimana pula kita mengetahui hal itu, ada dua cara untuk mengetahui tipu daya setan. Pertama, setan menyerang korbannya dengan cara membidik mereka dengan bisikan-bisikan, seperti panah yang dilesatkan dari busurnya. Kedua, senjata setan adalah para muridnya yang sudah berhasil ia jerat. Hal itu dapat engkau kenali dengan mengetahui jenis-jenis tipu daya dan sifat-sifatnya, juga cara menyerangnya. Sebagai tambahan, Allah ta’ala telah memilih pada diri manusia itu dua penyeru, yang mengajak pada manusia lain dan orangpun mendengar serta mengetahui ajakannya. Menurut sebuah riwayat, nabi saw telah bersabda, “apabila dilahirkan seorang bayi anak adam, Allah ta’ala menyertainya dengan satu malaikat dan setan menyertainya dengan satu setan. Maka setan tersebut menempel pada telinga hati sebelah kiri, sedang malaikat menempel pada telinga hati sebelah kanan. Keduanya sama-sama membisikan ajakan”. Dan nabi bersabda  “pada hati manusia terdapat persinggahan setan dan malaikat”. Kemudian Allah memasangkan pada diri anak adam itu tabiat yang cenderung pada syahwat dan kelezatan duniawi, baik maupun buruk. Itulah yang disebut hawa nafsu, yang menjerumuskan manusia kepada berbagai penyakit moral. Bisikan-bisikan di dalam hati itu mendorong si hamba melakukan sesuatu atau tidak berbuatapa-apa, juga mengajaknya kepada apa yang dibisikan itu. Inilah yang disebut khowatir (bisikan-bisikan hati). Bisikan-bisikan hati ini ada 4  jenis. Pertama, yang ditimbulkan oleh Allah dalam hati manusia di permulaan, ini yang disebut dengan bisikan semata. Kedua, ditimbulkan oleh Allah sejalan dengan tabiat manusia, ini yang disebut dengan hawa nafsu. Ketiga, muncul setelah ajakan malaikat mulhim, maka itu dinamakan ilham. Keempat, ditimbulkan-Nya setelah ajakan setan, yaitu dinamakan was-was. Bersambung… _Wallahua’lam bisshawab_ Sumber : Al-Ghazali, “Minhajul ‘abidin”, darul ilmi, surabaya...

read more

Minhajul ‘Abidin (Tipu Daya Setan dan Cara Mengatasinya, bag.2)

Posted by on Feb 21, 2015 in Minhajul 'Abidin | 0 comments

(Oleh : KH. SuhermanMuchtar, MA) Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Minhajul ‘Abidin : Bagaimana caranya mengetahui tipu daya setan, dan bagaimana pula kita bisa memahami hal itu? ada dua cara untuk mengenali tipu daya setan: Pertama, setan menyerang korbannya dengan cara membidik mereka dengan bisikan-bisikan, seperti panah yang dilesatkan dari busurnya. Engkau dapat mengenali anak panah setan itu dengan merasakan bisikan-bisikan yang beraneka ragam itu. Kedua, senjata kedua setan adalah para muridnya yang sudah berhasil ia jerat. Hal itu dapat engkau kenali dengan mengetahui jenis-jenis tipu daya dan sifat-sifatnya, juga cara menyerangnya. Para ulama besar telah banyak membahas soal bisikan-bisikan hati tersebut. Imam Ghazali telah mengarang kitab yang berjudul “talbis iblis” (tipu daya iblis). Kitab itu terlalu kecil untuk membahas topik tersebut secara detail. Akan tetapi, disini Imam Ghazali telah mengutip beberapa penjelasan tentang bisikan setan itu. Insya Allah ini sudah cukup bila dijalankan secara konsisten dan hati-hati. Ketahuilah, bahwasanya Allah ta’ala telah menempatkan pada hati anak adam (manusia) itu malaikat yang disebut mulhim, yang mana ajakannya disebut dengan ilham. Dan sebagai pesaingnya, Allah menguasakan setan yang bernama waswasahyang mengajak hamba tersebut kepada keburukan, yang disebut dengan sikap waswas. Mulhim mengajak manusia kepada kebaikan, sedangkan waswasah mengajak pada keburukan. Imam Ghazali mengutip dari gurunya, Syekh Abu bakar Al Waroq. Beliau menjelaskan bahwa setan itu adakalanya mengajak manusia kepada kebaikan dengan tujuan untuk menjerumuskan mereka yang terperangkap itu kepada keburukan. Misalnya, ia mengajak seorang hamba untuk melakukan sesuatu yang dipandang utama, untuk tujuan (yang sesungguhnya) yaitu menghalanginya dari jalan utama (yang sebenarnya) atau mengajaknya kepada kebaikan untuk menyeretnya kepada dosa yang lebih besar, yang kebaikannya tidak akan mencukupi untuk menghapus keburukannya itu. Seperti perbuatan ujub (mengagumi amal sendiri) atau lainnya. Bersambung… _Wallahu a’lam bisshawab_ Sumber : Al-Ghazali, “Minhajul ‘abidin”, darul ilmi, surabaya...

read more

Minhajul ‘Abidin (Tipu Daya Setan dan Cara Mengatasinya)

Posted by on Feb 20, 2015 in Minhajul 'Abidin | 0 comments

(Oleh : KH. Suherman Muchtar, MA) Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Minhajul ‘Abidin : Menurut Pakar Tashawwuf (yang dikutip oleh Imam Ghazali) bahwa cara yang paling tepat pada masalah urusan setan, ada yang mengatakan yang pertama adalah berlindung kepada Allah, dan yang kedua adalah melawannya. Namun cara yang paling jitu adalah dengan menggabungkan kedua cara tersebut. Berlindung kepada Allah dari buruknya setan sebagaimana yang Allah telah perintahkan kepada kita, lalu Allah yang akan menuntaskan setan itu. Kemudian jika kita kalah dari godaan setan, maka ketahuilah bahwasanya itu adalah cobaan dari Allah supaya Allah dapat melihat kejujuran, kebenaran, kesungguhan perjuangan kita melawan setan, dan kekuatan kita pada perintah Allah untuk melawan setan, dan supaya Allah melihat kesabaran kita. Sebagaimana Allah telah memberikan kekuasaan kepada orang-orang kafir terhadap kita, padahal Allah mampu untuk menumpas orang-orang kafir tersebut, supaya kita mempunyai pahala berjihad.  Sebagaimana Allah berfirman:  “apakah kamu kira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar diantara  kalian” (Ali Imran: 142).  Maka demikian pula dengan urusan ini (urusan berjihad melawan setan). Kemudian sesungguhnya memerangi setan adalah sebagaimana dikatakan oleh ulama-ulama kami itu ada 3 perkara, yaitu: Yang pertama adalah kau kenali dan ketahui tipu daya setan, maka setan ketika itu tidak akan berani kepadamu.  Imam Ghazali memberi perumpamaan sebagaimana maling yang pergi saat kita mengetahuinya datang kepada kita.  Seorang pemuka tabiin yang bernama Hasan al-basri pernah ditanya oleh seseorang, “apakah setan itu tidur?”, maka beliau tersenyum dan menjawab “jikalau setan tidur, maka kita akan istirahat”, itu artinya setan tidak pernah tidur (red.).  Setan akan datang dari berbagai pintu, diantaranya adalah pintu serakah dan pintu su’udzon, lalu bagaimana untuk menghadapi setan dari kedua pintu tersebut?, caranya yaitu dengan percaya kepada Allah dan menerima apa adanya yang Allah telah berikan kepada kita. Imam Ghazali pernah ditanya oleh seorang ulama, “kiranya dengan ayat apa yang lebih ditakuti setan dalam hal ini?”, maka beliau menjawab, aku mendapati ayat Allah, “tidak ada binatang yang melata di muka bumi ini kecuali Allah sudah jamin rizkinya” (Hud: 6 ). Yang kedua adalah dengan meremehkan ajakan setan, maka tidak engkau gantungkan hatimu pada yang demikian itu (ajakan setan). Karena setan itu bagaikan anjing yang menggonggong, jika kau menghadapinya dia akan selalu melihat dan memperhatikanmu, dan jika engkau berpaling dari anjing itu maka dia akan diam. Yang ketiga adalah dengan selalu senantiasa berdzikir kepada Allah dengan lisan dan hatimu, dan telah bersabda Rasulullah: “sesungguhnya dzikir kepada Allah itu bagi setan bagaikan penyakit kronis yang menular pada diri manusia”. Maka oleh karena itu kita dianjurkan untuk selalu berdzikir dengan hati kapanpun dan dimanapun, dan berdzikir dengan lisan ketika selesai sholat (red.). Bersambung… _Wallahua’lam bisshawab_ Sumber : Al-Ghazali, “Minhajul ‘abidin”, darul ilmi, surabaya...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 01 Januari 2015)

Posted by on Feb 8, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُهْلِكَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ شَرْحِ عَجَائِبِ الْقَلْبِ, وَ كِتَابُ رِيَاضَةِ النَّفْسِ, وَ كِتَابُ افَاتِ الشَّهْوَتَيْنِ: شَهْوَةُ الْبَطْنِ وَ شَهْوَةُ الْفَرْجِ, وَ كِتَابُ افَاتِ اللِّسَانِ, وَ كِتَابُ افَاتِ الْغَضَبِ وَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الدُّنْيَا, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْمَالِ وَ الْبُخْلِ, وَ كِتَابُ ذَمُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاءِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْكِبْرِ وَ الْعُجْبِ, وَ كِتَابُ ذَمِّ الْغُرُوْرِ. Terjemah Kitab : “Bagian (rubu’) perbuatan yang membinasakan, meliputi sepuluh kitab : pertama, Kitab Menjelaskan Keajaiban Hati. Kedua, Kitab Latihan diri (jiwa). Ketiga, Kitab Bahaya Syahwat (perut dan kemaluan). Keempat, Kitab Bahaya Lidah. Kelima, Kitab Bahaya Marah, Dendam, dan Dengki. Keenam, Kitab Tercelanya Dunia. Ketujuh, Kitab Tercelanya Harta dan Kikir. Kedelapan, Kitab Tercelanya Suka Kemegahan dan Riya. Kesembilan, Kitab Tercelanya Sifat Takabbur dan ‘Ujub. Kesepuluh, Kitab Tercelanya Sifat Tertipu Kemegahan Dunia. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini kita masih membahas mukaddimah kitab ini, bagian perbuatan yang dapat membinasakan beliau membagi 10 (sepuluh) kitab :   Kitab Keajaiban Hati Dalam tubuh kita ada anggota tubuh yang sangat penting peranannya untuk kita perhatikan baik-baik, sebagaimana Nabi saw bersabda : اِنَّ فِى جَسَدِ اِبْنِ ادَمَ مُضْغَةً, اِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ صَلَحَ لَهَا سَائِرُ الْبَدَنِ, الاَ وَ هِيَ الْقَلْبُ Artinya : “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila baik ia (daging) niscaya baik seluruh anggota tubuhnya semuanya dan baik seluruh badannya, ketahuilah bahwa itu adalah hati”. Hati ibarat cermin, jika tidak dirawat dan dibersihkan, ia mudah kotor dan berdebu. Hati yang sakit ia senantiasa dipenuhi penyakit yang bersarang didalamnya, diantaranya riya, hasad dengki, dll. Jika hati sudah terjangkit penyakit maka tidak lain obat hati yang paling mujarab adalah dzikrullah (mengingat Allah).   Kitab Latihan Nafsu Nafsu merupakan pokok yang menghimpun sifat-sifat tercela dari manusia, sehingga mereka mengatakan bahwa kita harus melawan nafsu (hawa nafsu) dan memecahkannya. Melatih nafsu tidaklah mudah, karena dia tidak terlihat. Sampai Nabi saw katakan bahwa melawan nafsu itu ibarat jihad akbar (besar) yang dimana hukumnya adalah fardu ‘ain, sedangkan jihad kecil ialah melawan orang kafir yang pada hukumnya adalah fardu kifayah. Beliau sabdakan : رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الاَصْغَرِ اِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ, قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللّهِ وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ قَالَ الْجِهَادُ فِى النَّفْسِ Artinya:”Kami kembali dari jihad kecil kepada jihad besar, sahabat bertanya:”apa itu jihad besar wahai Rasulullah??Rasul menjawab : jihad besar ialah jihad melawan nafsu”. Kitab Bahaya 2 (dua) Syahwat (perut dan kemaluan) Disini Imam Al-Ghazali menyebutkan yang dimaksud 2 (dua) syahwat ialah perut dan kemaluan. Perut pada hakikatnya adalah sumber dari segala nafsu syahwat dan tempat tumbuhnya segala penyakit dan bencana. Karena nafsu syahwat perut diikuti oleh nafsu syahwat farji (kemaluan) dan kuatnya nafsu syahwat kepada wanita-wanita yang dikawini. Sumber segala dosa adalah syahwat perut dan dari situlah timbul syahwat kemaluan, untuk itu cara mengendalikan syahwat yang paling ampuh ialah dengan lapar. Itulah sebabnya Nabi saw memerintahkan umatnya untuk memerangi syahwat dengan lapar dan haus, karena pahala dalam hal itu seperti pahala orang yang berjihad di jalan Allah swt, dan tiada amal yang lebih disukai Allah dari pada lapar dan haus. Sebagaimana Nabi Saw sabdakan : جَاهِدُوا أَنْفُسَكُمْ بِالْجُوْعِ وَالْعَطَشِ, فَاِنَّ الأَجْرَ فِي ذَلِكَ كَأَجْرِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللّه وَ انَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أَحَبُّ الَى اللّه تَعَالَى مِنْ جُوْعٍ وَعَطَشٍ Artinya:”Jihadlah olehmu...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 25 Desember 2014)

Posted by on Feb 8, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اَمَّا رُبْعُ الْعَادَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ ادَابِ الأَكْلِ, وَ كِتَابُ ادَابِ النِّكَاحِ, وَ كِتَابُ أَحْكَامِ الْكَسْبِ, وَكِتَابُ الْحَلَالِ وَ الْحَرَامِ, وَ كِتَابُ ادَابِ الصُّحْبَةِ وَ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ أَصْنَافِ الْخَلْقِ, وَ كِتَابُ الْعُزْلَةِ, وَ كِتَابُ ادَابِ السَّفَرِ, وَ كِتَابُ السَّمَاعِ وَ الْوُجْدِ, وَ كِتَابُ الأَمْرِ بِالمَعْرُوْفِ وَ النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ, وَ كِتَابُ ادَابِ الْمَعِيْشَةِ وَ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ Artinya : “ Bagian (rubu’) pekerjaan sehari-hari melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Adab Makan. Kedua, Kitab Adab Pernikahan. Ketiga, Kitab Hukum Berusaha (Bekerja). Keempat, Kitab Halal dan Haram. Kelima, Adab Berteman dan Bergaul dengan Berbagai Golongan Manusia. Keenam, Kitab ‘Uzlah (Mengasingkan Diri). Ketujuh, Kitab Bermusafir. Kedelapan, Kitab Mendengar dan Merasa. Kesembilan, Kitab Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Kesepuluh, Kitab Adab Kehidupan dan Budi Pekerti (Akhlaq) Kenabian”. Penjelasan Pengasuh : Pada bagian (rubu’) yang kedua Imam Ghazali membagi sepuluh kitab juga, diantaranya : Kitab Adab Makan Ajaran Islam mencangkup seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali masalah makanan. Oleh karena itu bagi kaum muslimin, makanan di samping berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, juga berkaitan dengan ruhani, iman, dan ibadah dengan identitas diri. Imam Al-Ghazali mengutamkan pembahasannya dengan makan, karena makan adalah suatu hal yang sangat penting untuk mengokohkan badan, serta mempunyai dampak yang sangat besar untuk badan dan daya tahan tubuh kita. Allah Ta’ala berfirman : فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ Artinya : “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.(An-Nahl : 114). Dari ayat di atas, dapat di simak bahwa Allah menyuruh manusia memakan apa saja di dunia ini yang di ciptakannya, sepanjang halal dan baik.   Kitab Adab Pernikahan Di sini Imam Al-Ghazali menempatkan bab pernikahan sebagai urutan yang kedua, karena biasanya jika seseorang telah kebanyakan makan maka akan menimbulkan nafsu pada dirinya. Sebagai pribadi muslim yang menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangganya hendaklah sebelum melakukan pernikahan mesti belajar tentang hak dan kewajiban seorang istri dan suami agar tercapai lah tujuan pernikhan itu yakni sebagaimana firman Allah Swt : وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar Rum:21) Karena salah satu faktor terjadinya banyak perceraian kebanyakan orang enggan belajar tentang hak dan kewajibannya masing-masing.   Kitab Hukum Berusaha Agama Islam menganjurkan orang agar berusaha mencari nafkah dan harta benda dengan jalan bercocok tanam, pertukangan atau perdagangan dan lain-lain dengan jalan yang baik. Dalam tasawuf ada yang namanya Maqam Tajrid dan Maqam Kasbi, Maqam Tajrid ialah seseorang sudah terjamin rizkinya sehingga orang tersebut tidak menyibukan dirinya dalam berusaha mencari rizki dan hanya fokus untuk beramal negeri akhirat. Sedangkan Maqam Kasbi ialah sebaliknya ia harus berusaha di dalam mencari rizki akan tetapi tak melupakan bekal untuk akhirat pula. Allah Swt berfirman: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ١٠ Artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka...

read more

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (18 Desember 2014)

Posted by on Dec 25, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin :   :وَ يَشْتَمِلُ رُبْعُ الْعِبَادَاتِ عَلَي عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ الْعِلْمِ , وَ كِتَابُ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الطَّهَارَةِ , وَكِتَابُ أَسْرَارِ الصَّلَاةِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الزَّكَاةِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الصِّيَامِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الْحَجِّ وَ كِتَابُ ادَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْانِ , وَكِتَابُ لاَذْ وَالدَّعْوَاتِ , وَكِتَابُ تَرْتِيْبِ الاَوْرَادِ فِي الاَوْقَاتِ Terjemah Kitab : Bagian (rubu’) ibadah, melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Ilmu. Kedua, Kitab Kaidah-kaidah I’tiqad. Ketiga, Kitab Rahasia Bersuci. Keempat, Kitab Rahasia Shalat. Kelima, Kitab Rahasia Zakat. Keenam,  Kitab Rahasia Puasa. Ketujuh, Kitab Rahasia Haji. Kedelapan, Kitab Adab Membaca Al-Qur’an. Kesembilan, Kitab Dzikir dan Doa. Sepuluh, Kitab Tartib Wirid pada Masing-masing Waktunya. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini Imam Al-Ghazali membagi isi dalam kitabnya dengan bagian ibadah, diantaranya : Kitab Ilmu Beliau mendahulukan pembahasannya tentang kitab ilmu, dengan alasan yang telah kita ketahui pada pertemuan sebelumnya. Ilmu dalam hal ini merupakan suatu jalan untuk mewujudkan kehidupan dunia yang sejahtera terlebih lagi kehidupan akhirat yang kekal abadi. Begitu pentingnya kedudukan ilmu yang mesti kita miliki jika ingin sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat sebagaimana Nabi Muhammad Saw sabdakan: (مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ. (رواه الترمذي Artinya : “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”(HR. Turmudzi). Dengan ilmu pula Nabi Adam AS mengetahui bagaimana tata caranya buang air besar, karena setelah di usir dari surga Nabi Adam sebelumnya tidak mengetahui bagaimana tata cara buang air besar, kemudian Allah memerintahkan malaikatnya untuk mengajarkan Nabi Adam, keterangan ini bisa di lihat dalam kitab Durrul Mansur buah karya Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuti. Kaidah-kaidah Aqidah Pembahasan yang kedua ini beliau membahas tentang aqidah, menurut bahasa kata “aqidah” diambil dari kata dasar “al-‘aqdu” ar-rabth (ikatan), sedangkan menurut istilah yaitu perkara yang dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tentram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Nama lain ilmu aqidah adalah ilmu tauhid, karena ilmu ini berputar (pada pembahasan) untuk mentauhidkan Allah Swt dengan uluhiyyah, rububiyyah, dan asma wa shifat. Ilmu ini pula yang wajib mesti kita pelajari sebaimana Syaikh Ibnu Ruslan dalam Matan Zubadnya : اَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْاِنْسَانِ # مَعْرِفَةُ الاِلهِ بِاسْتِيْقَان Artinya : “Yang wajib pertama atas seorang manusia ialah mengetahui tuhannya dengan keyakinan”. Sebagai mukallaf yang wajib kita ketahui adalah 50 sifat. Dengan rincian 20 sifat yang wajib bagi Allah, 20 sifat  yang mustahil bagi Allah, dan 1 sifat yang jaiz bagi Allah. Sedangkan untuk Rasul, 4 sifat yang wajib bagi rasul, 4 sifat yang mustahil bagi Rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul. Di dalam Agama Islam kemantapan aqidah sangat penting sekali apalagi melihat zaman sekarang yang sudah banyak dihiasi dengan aqidah-aqidah yang agak berlainan dari Islam itu sendiri, apalagi bagi kaum awam ini sangat berbahaya, karena mereka adalah sasaran strategis kaum orientalis serta para riberalis bahkan kaum komunis untuk menggencarkan misi-misi mereka. Tampaknya berbicara aqidah sangat krusial sekali karena ini menyangkut suatu keyakinan dan hubungan kepada Tuhan. Dengan demikian orang yang imannya taqlid (mengetahui tanpa dalil) ada beberapa pendapat ulama,...

read more

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (11 Desember 2014)

Posted by on Dec 20, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar. MA   Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : فَأَمَّا عِلْمُ طَرِيْقِ الآَخِرَةِ وَمَا دَرَجَ عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ مِمَّا سَمَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ فِي كِتَابِهِ : فِقْهًا وَحِكْمَةً وَعِلْمًا وَ ضِيَاءً وَ نُوْرًا وَ هِدَايَةً وَ رُشْدًا, فَقَدْ أَصْبَحَ مِنْ بَيْنِ الْخَلْقِ مَطْوِيًّا وَصَارَ نَسْيًا مَنْسِيًّا.وَلَمَّا كَانَ هَذَا ثَلْمًا فِى الدِّيْنِ مُلِمًّا وَ خَطْبًا مُدْلَهِمًّا,رَأَيْتُ الاِشْتِغَالَ بِتَحْرِيْرِ هَذَا الكِتَابِ مُهِمَّا اِحْيَاءً لِعُلُوْمِ الدِّيْنِ وَ كَشْفًا عَنْ مَنَاهِجِ الأئِمَّةِ المُتَقَدِّمِيْنَ وَ اِيْضَاحًا لِمَبَاهِى العُلُوْمِ النَافِعَةِ عِنْدَ النَّبِيِّيْنَ وَالسَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ. Terjemah kitab : Adapun ilmu jalan menuju akhirat yang di tempuh ulama-ulama terdahulu yang saleh, yang dinamakan oleh Allah Swt dalam kitabnya : Fiqih, Hikmah, Ilmu, Cahaya, Nur, Hidayah dan Petunjuk, maka ilmu itu telah terlipat diantara manusia bahkan ilmu itu menjadi terlupakan. Tatkala perkara yang demikian itu dapat menghancurkan agama dan mendatangkan bahaya yang mengerikan, maka aku sibukkan untuk mengarang kitab ini karena terdapat suatu kewajiban yang sangat penting untuk Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama (Ihya ‘Ulumiddin), membukakan jalan yang dilalui imam-imam yang terdahulu dan menjelaskan maksud dari ilmu-ilmu yang bermanfaat menurut para nabi-nabi dan ulama-ulama terdahulu yang saleh. Penjelasan Pengasuh : Di kehidupan yang kita jalani ini banyak sekali berbagai macam cabang ilmu yang ada, seperti ilmu pengetahuan umum yang dimana kebanyakan orang-orang ingin meraihnya tidak peduli dengan biaya pendidikan yang begitu mahalnya, perjalanan yang jauh dari tempat tinggalnya, yang dipikirkan dibenakya agar anaknya bisa cerdas nantinya dan bisa bekerja di suatu tempat pekerjaan. Namun itu semua hanyalah bermanfaat di dunia saja sedangkan di akhirat tidak akan bermanfaat sama sekali, sedangkan ilmu yang bermanfaat ialah ilmu agama yang bermanfaat di dunia terlebih lagi di akhirat, Imam Ghazali memaparkan kepada kita bahwa ilmu jalan untuk menuju akhirat ialah sangat banyak, dimana ilmu ini ditempuh oleh ulama salafus soleh ( para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka). Dan Allah swt menamakannya pula di dalam Al-Qur’an Al-Karim sebagai berikut : Fiqih, menurut bahasa fiqih artinya (الفهم)yang artinya paham. sebagaimana Allah swt berfirman :”…..Perhatikanlah betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahaminya”.(Al-An’am: 65). Hikmah, sebagaimana Allah swt berfirman :”Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (Al-Baqarah: 269). Ilmu, sebagaimana Allah swt berfirman: ”…..Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.(Al-‘Imran: 7). Diya, sebagaimana Allah swt berfirman: “Dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al-Anbiya: 48). Nur, sebagaimana Allah swt berfirman: “……Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”.(Al-Ma’idah: 15). Serta firman Allah swt :” Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya?”. (Az-Zumar: 22). Hidayah, sebagaimana Allah swt berfirman: “ ….Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. (Al-Baqarah: 120). Rusd, sebagaimana Allah swt berfirman: “…..Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah: 186). Semua ini adalah nama-nama lain dari pada ilmu, di saat itu (masa Imam Ghazali) ilmu telah dilupakan bahkan telah di remehkan oleh orang...

read more

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (4 Desember 2014)

Posted by on Dec 20, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH.Suherman Muchtar.MA   MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin : اَحْمَدُ اللَّهَ اَوَّلاً حَمْدًا كَثِيْرًا مُتَوَالِياً وَاِنْ كاَنَ يَتَضاَءَلُ دُوْنَ حَقِّ جَلاَلِهِ حَمْدَ الْحاَمِدِيْنَ. وَأُصَلِّي وَ أُسَلِّمُ عَلَى رُسُلِهِ ثاَنِياً صَلاَةً تَسْتَغْرِقُ مَعَ سَيِّدِ الْبَشَرِ ساَئِر الْمُرْسَلِيْنَ. وَأَسْتَخِيْرُهُ تَعاَلىَ ثاَلِثاً فِيْماَ اِنْبَعَثَ عَزْمِيْ مِنْ تَحْرِيْرِ كِتاَبٍ فيِ اِحْياَءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ. وَأَنْتَدِبُ لِقَطْعِ تَعَجُبِكَ رَابِعاً أَيُّهَا الْعَاذِلُ الْمُتَغَالِي فِى الْعَذْلِ مِنْ بَيْنِ زُمْرَةِ الْجَاحِدِيْنَ,الْمُسْرِفِ فِى التّقْرِيْعِ وَالْاِنْكَارِ مِنْ بَيْنِ طَبَقَاتِ الْمُنْكَرِيْنَ الْغَافِلِيْنَ. Pertama-tama, aku memuji Allah Ta’ala dengan pujian yang banyak dan berturut-turut, sekalipun pujian itu sangat kecil kurang dari hak keagungan-Nya seperti pujian orang yang memuji. Kedua, aku bersolawat dan mengucapkan salam kepada Rasul-rasul-Nya dengan solawat yang merata bersama penghulu umat manusia dan seluruh para Rasul. Ketiga, aku beristikharah (meminta pilihan yang baik) kepada Allah Ta’ala didalam sesuatu yang dapat membangkitkan cita-citaku dari pada menyusun kitab tentang “Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama” (Ihya’ ‘Ulumuddin). Keempat, aku menentang untuk memutuskan kesombonganmu wahai pencela yang melampaui batas di dalam mencela di antara kelompok orang-orang yang menentang, yang melampaui batas dalam mencaci dan mengingkari diantara lapisan orang-orang yang ingkar dan lalai. Penjelasan Pengasuh : Sebelum kita membahas tentang kitab ini alangkah baiknya kita mengetahui sekelumit pribadi beliau, nama lengkap sang Imam adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, seorang al-Faqih (ahli fikih) yang bermadzhabkan As-Syafi’i. Imam Al-Ghazali di lahirkan di kota Thusi, pada sekitar pertengahan abad ke-5 Hijriah (450 H). Imam Al-Ghazali beliau adalah seorang ulama yang sangat terkenal, bukan hanya di kalangan muslim saja, akan tetapi dengan otak yang sangat cerdas dan ketajaman berpikir yang luar biasa sehingga di luar Islam pun namanya sangat harum terdengar, dengan kecerdasan beliau sebenarnya beliau sudah pantas untuk membuat suatu mazhab baru, namun beliau enggan karena beliau sangat menghormati Imam Syafi’i. Beliau memulai rangkaian menuntut ilmu pada masa kecil, banyak sekali beliau belajar kepada seorang guru, diantaranya Imam Al-Haramain, Syekh Ahmad Bin Muhammad Ar-Razikani, dll. Guru-guru Imam Al-Ghazali bukan hanya seorang terkemuka, namun beliau pernah belajar dengan tukang sol sepatu di belakang rumahnya. Cerita ini mengkisahkan suatu ketika Imam Al-Ghazali menjadi imam disebuah masjid, tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau berjamaah bersamanya. Lalu Imam Al-Ghazali memohon kepada ibunya agar memerintahkan saudaranya itu agar berjamaah dengannya, atas perintah ibunya akhirnya Ahmad melaksanakan perintah ibunya itu, namun di tengah-tengah shalat Ahmad memisahkan diri (mufarraqoh). Seusai shalat Imam Ghazali bertanya kepada Ahmad : “Mengapa engkau memisahkan diri dalam shalat yang saya imami?? . Ahmad menjawab : “aku memisahkan diri karena aku melihat darah pada dada mu”. Mendengar jawaban saudaranya itu Imam Al-Ghazali mengakuinya bahwa ia sedang memikirkan masalah fiqih yang berhubungan haid seorang wanita yang mutahayyirah. Imam Al-Ghazali bertanya kepada saudaranya :”Dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu? saudaranya menjawab :”Aku belajar ilmu dari seorang tukang jahit sepatu yang ada di belakang rumah kita”. Setelah kejadian itu Imam Ghazali ingin belajar kepadanya. Setelah berjumpa kepadanya ia berkata kepada tukang sol itu :” saya ingin belajar kepada tuan”. Mendengar keinginan beliau, tukang sol tersebut memerintahkan beliau untuk membersihkan kotoran yang ada di bawah lemari. Setelah selesai Imam Ghazali ingin belajar akan tetapi gurunya tersebut memerintahkan untuk pulang kerumah saja. Imam Al-Ghazali pulang dan setibanya dirumah beliau merasakan mendapat ilmu pengetahuan luar biasa. Dan Allah telah memberikan ilmu Laduni atau ilmu Kasyaf yang di peroleh dari tasawuf atau...

read more