Kebon Jeruk Jakarta Barat

Blog

Blog Page

Tawaquf Sementara PonPes dan Majelis Ta’lim Al-Isyraq

Posted by on Jun 4, 2015 in News | 1 comment

Tawaquf Sementara PonPes dan Majelis Ta’lim Al-Isyraq

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Alhamdulillah Tawaqufan Sementara Pondok Pesantren Terbuka Gratis Al Isyraq dan Majelis Ta’lim Al Isyraq pada pada hari Sabtu – Minggu tanggal 23 – 24 Mei 2015dengan kegiatan Ziarah Guru Mursyid Syaikh Ahmad Shohibul Wafa’ Tajul Arifin ( Abah Anom ) Suryalaya Tasikmalaya dan Khataman Kitab Kuning di Villa Melati Putih – Lembang Bandung Jawa Barat berlangsung dengan lancar, aman dan sukses. Kami ucapkan terima kasih kepada Guru kami KH. Suherman Muchtar. MA yang telah membimbing kami selama dalam kegiatan tersebut dan Segenap Panitia, Seluruh Santri serta Jamaah Majelis yang telah ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan tersebut serta doa-doa dari jamaah yang berhalangan untuk ikut. Semoga Allah SWT selalu memberikan ridho serta keberkahanNya kepada kita...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin (12 Februari 2015)

Posted by on May 8, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

  Terjemah Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA Ditulis Oleh: Ust. Alfani S.Pd,I KEUTAMAAN ILMU بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ قَالَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : { أَفْضَلُ النَّاسِ الْمُؤْمِنُ الْعَالِمُ الَّذِي اِنِ احْتِيْجَ اِلَيْهِ نَفَعَ, وَ اِنِ اسْتُغْنِىَ عَنْهُ أَغْنَى نَفْسَهُ}وَ قَالَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : { الأِيْمَانُ عُرْيَانٌ وَ لِبَاسُهُ التَّقْوَى وَ زِيْنَتُهُ الْحَيَاءُ وَ ثَمْرَتُهُ الْعِلْمُ }. وَ قَالَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : { أَقْرَبُ النَّاسِ مِنْ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ اَهلُ الْعِلْمِ وَ الْجِهَادِ, اَمَّا أَهْلُ الْعِلْمِ فَدَلُّوْا النَّاسَ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ, وَ اَمَّا اَهْلُ الْجِهَادِ فَجَاهَدُوْا بِأَسْيَافِهِمْ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ }. وَ قَالَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : { لَمَوْتُ قَبِيْلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ }. وَ قَالَ عَلَيهِ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ : { النَّاسُ مَعَادِنٌ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ, فَخِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَةِ خِيَارُهُمْ فِي الأِسْلاَمِ اِذَا فَقَهُوْا }. Terjemah Kitab : Nabi Saw bersabda: “Manusia yang terbaik ialah mukmin yang berilmu, jika diperlukan dia berguna, dan jika tidak diperlukan maka dia dapat mengurus dirinya sendiri”. Nabi Saw bersabda: “Iman itu tidak berpakaian, pakaiannya ialah taqwa, dan perhiasannya ialah malu dan buahnya ialah ilmu”. Nabi Saw bersabda: “Manusia yang terdekat kepada derajat kenabian ialah orang yang berimu dan berjihad. Adapun orang yang berilmu, maka memberi petunjuk kepada manusia akan apa yang dibawa Rasul-rasul. Dan orang yang berjihad, maka berjuang dengan pedang membela apa yang dibawa para Rasul itu”. Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya mati satu suku bangsa adalah lebih mudah dari pada mati seorang yang berilmu”. Nabi Saw bersabda: “Manusia itu ibarat barang logam seperti logam emas dan perak. Orang yang baik pada jahiliyah menjadi baik pula pada masa Islam apabila mereka itu berpaham (berilmu)”. Penjelasan Pengasuh: Pada pertemuan kali ini kita masih melanjutkan pembahasan tentang kemuliaan ahli ilmu dengan dalil berdasarkan hadits Nabi Saw, begitu banyak Imam Al-Ghazali menyebutkan hadits tentang kemuliaan ahli ilmu, diantaranya hadits yang diatas bahwa dapat kita ambil kesimpulan dengan beberapa poin, diantaranya: Nabi Saw telah menggambarkan bahwa manusia yang terbaik ialah orang yang berilmu, karena ketika orang lain ingin menjalankan syariat Islam pasti butuh seorang pembimbing atau guru untuk menunjukannya secara baik dan benar, ialah seorang yang berilmu. Maka dengan demikian orang berilmu jika dibutuhkan maka ia memberikan manfaat untuk orang lain, namun jika orang lain tidak membutuhkannya, maka ilmunya tidak sia-sia begitu saja namun dapat bermanfaat untuk dirinya. Nabi Saw menganalogikan keimanan dengan telanjang, orang mukmin yang masih meninggalkan akan perintah Allah dan mengerjakan apa yang Allah larang, maka orang tersebut imannya masih telanjang. Pengertian malu bukan malu yang kita ketahui pada umumnya, namun malu ialah dimana malu meninggalkan perintah Allah, dan malu mengerjakan larangan Allah. Sangat wajar sekali kalau seorang ulama meninggal betapa kita sangat kehilangannya, ketimbang meninggalnya seseorang yang awam. Karena mencari pengganti ulama itu sangat sulit apalagi ulama yang konsisiten dalam menegakan agama Allah Swt....

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin (05 Februari 2015)

Posted by on May 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Terjemah Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA Ditulis Oleh: Ustadz Alfani, S.Pd,I KEUTAMAAN ILMU بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اَمَّا الأَخْبَارُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : (( مَنْ يُرِدِ اللّهُ بِهِ خَيْرٌا يُفَقِّهُ فِى الدِّيْنِ وَ يُلْهِمُهُ رُشْدَهُ )) وَ قَالَ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : (( الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ )) , وَ مَعْلُوْمٌ أَنَّهُ لاَ رُتْبَةَ فَوْقَ النُّبُوَّةِ وَ لاَ شَرَفَ  فَوْقَ شَرَفِ الوَرَاسَةِ  لِتِلْكَ الْرُتْبَةِ. وَ قَالَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : {يَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَ الأَرْضِ} وَ اَيُّ مَنْصِبٍ يَزِ يْدُ عَلَى مَنْصِبٍ مَنْ تَشْتَغِلُ مَلاَئِكَةُ السَّمَوَاتِ وَ الأَرْضِ بِالأِسْتِغْفَارِ لَهُ ؟ وَ قالَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : {اِنَّ الْحِكْمَةَ تَزِيْدُ الشَّرِيْفَ شَرَفًا وَ تَرْفَعُ الْمَمْلُوْكَ حَتَّى يُدْرِكَ مَدَارِكَ الْمُلُوْكِ } وَ قَدْ نَبَّهَ بِهَذَا عَلَى ثَمْرَاتِهِ فِى الدُّنْيَا, وَ مَعْلُوْمٌ اَنَّ الآخِرَةَ خَيْرٌ وَ اَبْقَى. وَ قَالَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : { خَصْلَتَانِ لاَ يَكُوْنَانِ فِي مُنَافِقٍ : حُسْنٌ سَمْتٌ وَ فِقْهٌ فِى الدِّيْنِ} وَ لاَ تَشُكَنَّ فِى الحَدِيْثِ لِنِفَاقِ بَعْضِ فُقَهَاءِ الزَّمَانِ, فَاِنَّهُ مَا اَرَادَ بِهِ الّذِي ظَنَنْتَهُ وَ سَيَأْتِى مَعْنَى الْفِقْهِ. وَ اَدْنَى دَرَجَاتِ الْفِقْهِ اَنْ يَعْلَمَ اَنَّ الآخِرَةَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا, وَ هَذِهِ الْمَعْرِفَةُ اِذَا صَدَقْتَ وَ غَلِبْتَ عَلَيْهِ بَرِئٌ بِهَا مِنَ النِّفَاقِ وَ الرِّيَاءِ Terjemah Kitab: Adapun Hadits, maka Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang dikehendaki Allah akan memperoleh kebaikan, niscaya dianugerahinya pemahaman dalam agama dan diilhaminya petunjuk”. Nabi Saw bersabda: “Orang berilmu (ulama) itu adalah pewaris para Nabi-nabi”. Dan sudah diketahui bahwa tak ada pangkat di atas pangkat kenabian dan tak ada kemuliaan diatas kemuliaan yang mewarisi pangkat tersebut. Nabi Saw bersabda: ”Memintakan ampun untuk orang yang berilmu sesuatu yang ada di langit dan di bumi”. Manakah kedudukan yang melebihi kedudukan orang, dimana para malaikat di langit dan di bumi selalu meminta ampun baginya?. Nabi Saw bersabda: “Bahwa ilmu itu menambahkan mulia orang yang mulia, dan meninggikan seorang budak sampai ketingkat raja-raja”. Dijelaskan dengan hadits ini atas buahnya di dunia, dan diketahui bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal. Nabi Saw bersabda: “Dua perkara yang tidak dijumpai pada orang munafik: Baik kelakuannya, dan paham agama”. Dan janganlah engkau ragu akan hadits ini, karena munafiknya sebagian ulama fiqih zaman sekarang. Karena tidaklah dimaksudkan oleh hadits itu akan fiqih yang kau sangkakan. Dan akan diterangkan arti fiqih itu. Serendah-rendahnya tingkat seorang ahli fiqih tau ia bahwa akhirat itu lebih baik dari dunia, dan pengetahuan ini apabila benar dan banyak padanya niscaya telepaslah dia dari sifat nifaq dan riya. Penjelasan pengasuh: Islam adalah satu-satunya agama yang benar yang sangat diharapkan kehadirannya untuk melanggengkan kehidupan dialam ini. Tanpa Islam rasanya sulit bagi manusia untuk lepas dari angkara murka yang terdapat pada gelombang kehidupan yang tak kenal belas kasih. Keterkaitan Islam dan ulama sangatlah erat. Perkembangan dan kemajuan Islam masa lampau tak lepas dari peran ulama. Diabad modern ini sosok-sosok ulama yang konsisiten dengan agamanya sangat dibutuhkan, dalam upaya mengembalikan kaum muslimin ke masa keemasannya. Pada pertemuan kali ini kita masih membahas tentang keutamaan ulama berdasarkan dari hadits baginda Nabi Saw. Dalam hadits-hadits yang telah di paparkan oleh Imam Al-Ghazali banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bisa kita petik, sehingga kita bisa amalkan dalam kehidupan kita. Diantara poin-poin yang bisa kita petik adalah: Bahwa seorang ulama ialah seseorang yang menguasai disiplin-disiplin ilmu secara utuh kemudian mengamalkannya. Ulama...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin (26 Februari 2015)

Posted by on Apr 29, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Terjemah Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA Ditulis Oleh: Ustadz Alfani, S.Pd,I   KEUTAMAAN ILMU بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ قَالَ تَعَالَى :{ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ } رَدَّ حُكْمَهُ فِى الْوَقَئِعِ اِلَى اِسْتِنْبَاطِهِمْ وَ اَلْحَقَ رُتْبَتَهُمْ بِرُتْبَتِ الأَنْبِيَاءِ فِى كَشْفِ حُكْمِ اللّهِ. وَ قِيْلَ فِى قَوْلِهِ تَعَالَى : {يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ} يَعْنِى الْعِلْمَ : {وَرِيْشًا } يَعْنِى الْيَقِيْنَ {وَ لِبَاسُ التَّقْوَى} يَعْنِى الْحَيَاءَ. وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ : {وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ } وَ قَالَ تَعَالَى :   {فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ}  وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ : {بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ} وَ قَالَ تَعَالَى : { خَلَقَ الْإِنْسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ } وَ اِنَّمَا ذَكَرَ ذَلِكَ فِى مَعْرَضِ الأِمْتِنَانِ Terjemah Kitab: Allah Swt berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 83 yang artinya : “kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)”.  Ayat ini menerangkan bahwa untuk menentukan hukum dari segala kejadian, adalah terserah kepada pemahaman mereka. Dan dihubungkan tingkat mereka dengan tingkat Nabi-nabi dalam hal ini menyingkap hukum Allah Swt. Dan ada yang menafsirkan tentang firman Allah yang artinya: Artinya : “Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmut”. (QS. Al-‘Araf : 26). Dengan tafsiran, bahwa pakaian itu maksudnya ilmu, bulu itu maksudnya yakin dan pakaian ketaqwaan itu maksudnya malu. Pada ayat lain Allah Swt berfirman yang artinya: ”Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan”.(QS.Al-‘Araf : 52). Pada ayat lain: “Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka)”. (QS. Al-‘Araf: 7). Pada ayat lain: “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu”. (QS. Al-‘Ankabut: 49). Pada ayat lain : “Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara”. (Ar-Rahman: 3-4). Dan bahwasannya Allah menyebutkan demikian itu untuk menghubungkan nikmat-nikmatnya. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini kita masih membahas tentang keutamaan ilmu dan ahli ilmu berdasarkan al-Qur’an. Bagaimana Allah memerintahkan kita agar bertanya kepada ulama, karena segala permasalahan agar ada solusinya ialah bertanya kepada Rasul, namun jika tidak ada balik kepada ulama, karena ulama ialah pewaris para Nabi. Karena para alim ulama jikalau memutuskan suatu masalah bukan karena nafsunya semata melainkan berdasarkan al-Qur’an dan Hadits sehingga solusi yang diberikan dari ulama itulah yang terbaik. Dalam Al-Qur’an banyak Allah menyebutkan tentang ilmu, diantaranya: Surat Al-‘Araf ayat 7 dan 52: فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ Artinya:”Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)”. وَلَقَدْ جِئْنَٰهُم بِكِتَٰبٍ فَصَّلْنَٰهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  Artinya” “Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. Surat Al-Anbiya ayat 7 : وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖفَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ Artinya:”Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”. Surat Al-An’am ayat...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 19 Februari 2015)

Posted by on Apr 27, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA KEUTAMAAN ILMU بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : الْبَابُ الأَوَّلُ فِى فَضْلِ الْعِلْمِ وَااتَّعْلِيْمِ وَتَعَلُّمِ وَ شَوَاهِدِهِ مِنَ النَّقْلِ وَالْعَقْلِ فَضِيْلَةُ الْعِلْم شَوَاهِدُهَا مِنَ الْقُرْانِ قَوْلُهُ عَزَّ وَ جَلَّ :{شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ} (ال عمران: 18) فَانْظُرْ كَيْفَ بَدَأَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى بِنَفْسِهِ وَ ثَنَّى بِالْمَلآئِكَةِ وَ ثَلَّثَ بِأَهْلِ الْعِلْمِ, وَ نَاهِيْكَ بِهَذَا شَرْفًا وَ فَضْلاً وَ جَلاَءً وَ نَبْلاً. وَ قَالَ تَعَالَى :{ يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍŠ} (المجادلة: 11 ). قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّه عَنْهُمَا: لِلْعُلَمَاءِ دَرَجَاتٌ فَوْقَ الْمُؤْمِيْنَ بِسَبْعِمِائَةِ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ مَسِيْرَةُ خَمْسِمِائَةِ عَامٍّ. وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ :{ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ} (الزمر:9). وَ قَالَ تَعَالَى: {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء }(الفاطر :28). وَقَالَ تَعَالَى :{قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ} (الرعد:43). وَقَالَ تَعَالَى :{ قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ } (انمل:40). تَنْبِيْهٌا عَلَى أَنَّهُ اِقْتَدَرَ بِقُوَّةِ الْعِلْمِ. وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ :{وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُواالْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا} (القصص:80). بَيَّنَ اَنَّ عَظْمَ قَدْرِ الآخِرَةِ يُعْلَمُ بِالْعِلْمِ. وَقَالَ تَعَالَى : {وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ ( العنكبوت:43   Terjemah Kitab: BAB PERTAMA : Tentang kelebihan ilmu, kelebihan mengajar, kelebihan belajar dan dalil-dalinya dari naqal (Al-Qur’an dan Hadits) dan akal. KELEBIHAN ILMU Dalil-dalilnya dari Al-Qur’an ialah firman Allah swt dalam surat Al-Imran ayat 18 yang artinya : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Maka lihatlah betapa Allah swt memulai dengan dririnya sendiri dan menomor duakan dengan malaikatnya dan menomor tigakannya dengan ahli ilmu. Cukuplah kiranya dengan ini buat kita pertanda kemuliaan, kelebihan, kejelasan, dan ketinggian orang-orang yang berilmu. Pada ayat lain Allah Swt berfirman dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya : “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Ibnu Abbas ra mengatakan : “Untuk ulama beberapa tingkat diatas orang mu’min dengan 700 tingkat tingginya, antara dua tingkat itu, jaraknya sampai 500 tahun perjalanan. Pada ayat lain Allah swt befirman pada ayat Az-Zumar ayat 9 yang artinya:”(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. Berfirman Allah swt pada surat Al-Fatir ayat 28 yang artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. Allah swt berfirman dalam surat Ar-Ra’ad ayat 43 yang artinya : “Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab”. Pada...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 12 Februari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   KITAB ILMU DAN PADANYA ADA 7 (TUJUH) BAB بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : البَابُ لأَوَّلُ : فِى فَضْلِ الْعِلْمِ وَالتَّعْلِيْمِ. البَابُ الثَّانِى : فِى فَرْضِ الْعَيْنِ وَ فَرْضِ الْكِفَايَةِ مِنَ الْعُلُوْمِ وَ بَيَانِ حَدِّ الْفِقْهِ وَ الْكَلاَمِ مِنْ عِلْمِ الدِّيْنِ وَ بَيَانِ عِلْمِ الآخِرَةِ وَ عِلْمِ الدُّنْيَا. الْبَابُ الثَّالِثُ : فِيْمَا تَعُدُّهُ الْعَامَّةُ مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَ لَيْسَ مِنْهُ, وَ فِيْهِ بَيَانُ جِنْسِ الْعِلْمِ الْمَذْمُوْمِ وَ قَدْرِهِ. الْبَابُ الرَّابِعُ : فِى افَاتِ الْمُنَاظَرَةِ وَ سَبَبِ اِشْتِغَالِ النَّاسِ بِالْخِلاَفِ وَ الْجَدْلِ. الْبَابُ الْخَامِسُ : فِى ادَابِ الْمُعَلِّمِ وَ الْمُتَعَلِّمِ. الْبَابُ السَّادِسُ فِى افَاتِ الْعِلْمِ وَ الْعُلَمَاءِ وَ الْعَلاَمَاتِ الْفَارِقَةِ بَيْنَ عُلَمَاءِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. الْبَابُ السَّابِعُ : فِي الْعَقْلِ وَ فَضْلِهِ وَ أَقْسَامِهِ وَ مَا جَاءَ فِيْهِ مِنَ الأَخْبَارِ. Terjemah Kitab: “Kitab Ilmu dan di dalamnya terdapat tujuh bab, Bab Pertama: Keutamaan Ilmu, Mengajarkan, dan Belajar. Bab Kedua: Tentang Ilmu-Ilmu yang Fardu ‘Ain dan Fardu Kifayah, Menerangkan Batas Ilmu Fiqih, Pembicaraan Tentang Ilmu Agama, dan Penjelasan Ilmu Akhirat dan Ilmu Dunia. Bab Ketiga: Tentang Ilmu Agama yang Dianggap Orang Awam Padahal itu Bukan, dan Penjelasan Jenis Ilmu Tercela dan Kadarnya. Bab Keempat: Tentang Bahaya Perdebatan dan Sebab Disibukan Manusia dari Berselisih dan Bertengkar. Bab Kelima: Tentang Adab Pengajar dan Pelajar. Bab Keenam: Tentang Bahaya Ilmu, Ulama dan Tanda-Tanda yang Membedakan Ulama Dunia dan Ulama Akhirat. Bab Ketujuh: Tentang Akal, Bagian-Bagian Akal dan Hadits-Hadits Tentang Akal”.   Penjelasan Pengasuh: Pada pertemuan kali ini alhamdulillah kita telah masuk kedalam pembahasan pertama, yakni mengenai bab tentang ilmu. Imam Al-Ghazali membagi pembahasan ilmu ini dengan 7 (tujuh) bagian : Keutamaan Ilmu, Mengajarkan, dan Belajar Banyak dari pada karangan Imam Al-Ghazali beliau selalu mendahulukan bab tentang ilmu di bab pertama pembahasannya, karena banyak sekali bagaimana manfaat ilmu jika kita memilikinya, diantaranya manfaatnya: Ilmu dapat membedakan mana pekerjaan yang baik maupun yang buruk. Dengan ilmu pula seseorang bisa menjadi mulia, karena Allah Swt yang mengangkat sendiri derajatnya. Sebagaimana Allah Swt berfirman : يَآيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْآ اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجَلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ Artinya:” Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Mujadalah: 11). Ilmu pula yang menjadikan manusia menjadi takwa, kemudian dengan takwa manusia menjadi mulia. Ilmu sebagai penghias untuk ahlinya dan sebagai tanda pujian. Sebagaimana penyair berkata: فَاِنَّ الْعِلْمَ زَيْنُ لأَهلِهِ # وَ فَضْلٌ وَ عُنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِدِ وَ كُنْ مُسْتَفِدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً  #  مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِى بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ تَفَقَّهْ فَاِنَّ الْفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدِ # اِلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَى وَ أَعْدَلُ قَاصِدِ هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِى اِلَى سُنَنِ الْهُدَى # هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِى مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ فَاِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا # أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ Artinya: Belajarlah, karena ilmu akan menghiasi ahlinya, Dia keunggulan dia pula pertanda semua pujian Carilah ilmu, agar setiap hari dapat tambahan Dan berenanglah ketengah samudra pengetahuan Belajarlah fiqih, dialah panglima unggulan Menuju kebaikan dan taqwa Dan dialah adilnya adil Ia ilmu penunjuk kejalan hidayah Ia benteng penyelamat dari segala bencana...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 05 Februari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : الْبَاعِثُ الثَّانِي : اَنِّي رَاَيْتُ الرَّغْبَةَ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ صَادِقَةً فِي الْفِقْهِ الَّذِى صَلُحَ عِنْدَ مَنْ لاَ يَخَافُ اللّهَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى لِتَدَرُّعِ بِهِ اِلَي الْمُبَاهَاةِ وَ الاِسْتِظْهَارِ بِجَاهِهِ وَ مَنْزِلَتِهِ فِي الْمُنَافَسَاتِ, وَ هُوَ مُرَتَّبٌ عَلَي اَرْبَعَةِ اَرْبَاعٍ وَ الْمُتَزَيِّى بِزِىِ الْمَحْبُوْبِ مَحْبُوْبٌ فَلَمْ اَبْعُدْ اَنْ يَكُوْنَ تَصْوِيْرُ الْكِتَابِ بِصُوْرَةِ الْفِقْهِ تَلَطُفًا فِي اسْتِدْرَاجِ الْقُلُوْبِ, وَلِهَذَا تَلطَّفَ بَعْضُ مَنْ رَامَ اِسْتِمَالَةَ قُلُوْبِ الرُّؤُسَاءِ اِلَي الطِّبِّ فَوَضَعَهُ عَلَي هَيْئَةِ تَقْوِيْمِ النُّجُوْمِ مَوْضُوْعًا فِي الْجَدَاوِلِ وَالرُّقُوْمِ وَ سَمَّاهُ تَقْوِيْمَ الصِّحَةِ لِيَكُوْنَ اُنْسُهُمْ بِذَالِكَ الْجِنْسِ جَاذِبًا لَهُمْ اِلَى الْمُطَالَعَةِ وَالتُّلَطُّفِ فِى اِجْتِذَابِ الْقُلُوْبِ اِلَى الْعِلْمِ الَّذِي يُفِيْدُ الْحَيَاةَ الآبَدِ اَهَمُّ مِنَ التَّلَطُفِ فِى اجْتِذَابِهَا اِلَي الطِّبِّ الَّذِي لاَ يُفِيْدُ الاَّ صِحَّة الْجَسَدِ, فَثَمْرَةُ هَذَأ الْعِلْمِ طِبُّ الْقُلُوْبِ وَ الأَرْوَاحِ الْمُتَوَصِّل بِهِ اِلَي حَيَاةٍ تَدُوْمُ أَبَدَ الآبَادِ, فَأَيْنَ مِنْهُ الطِّبُّ الّذي يُعَالِجُ بِهِ لأَجْسَادَ وَ هِيَ مُعْرِضَةٌ بِاالضَّرُوْرَةِ لِلْفَسَادِ فِى أَقْرَبِ الآمَادِ ؟ فَنَسأَلُ اللّهَ سُبْحَانَهُ التَّوْفِيْقَ لِلرَّشَادِ وَ السَّدَادِ اِنَّهُ كَرِيْمٌ جَوَّادٌ. Terjemah kitab: “Adapun motivasi yang kedua : Aku melihat keinginan para pelajar yang gemar sekali terhadap ilmu fiqih, ilmu yang layak bagi orang yang tidak takut kepada Allah Swt, agar berbuat dengan ilmu itu untuk berbangga-bangga dan menampakan kemegahan serta kedudukan dalam perlombaan. Dan ilmu fiqih itu terbagi dari empat bagian, dan orang yang menghiasi dirinya dengan hiasan yang di sukai, tentu dia akan disukai. Maka aku tidak jauh dari mengarang kitab ini dengan bentuk fiqih karena berlemah lembut untuk menarik hati. Dan karena inilah sebagian orang yang ingin menarik hati pembesar-pembesar kepada ilmu kesehatan, bertindak lemah lembut, lalu membentuknya dalam bentuk Ilmu bintang dengan memakai ranji dan angka. Dan menamakannya Ilmu Taqwim kesehatan, supaya menjinakan hati mereka dengan cara itu menjadi tertarik kepada membacanya. Berlemah lembut menarik hati orang kepada ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan abadi adalah lebih penting dari pada berlemah-lembut menariknya kepada ilmu kesehatan yang faedahnya hanya untuk kesehatan jasmani belaka. Faedah pengetahuan ini ialah membawa kesehatan hati dan jiwa yang bersambung terus kepada kehidupan abadi, maka dimana ilmu kesehatan itu yang dapat mengobati tubuh kasar saja, yang akan hancur binasa dalam waktu yang tidak lama lagi. Kita memohon kepada Allah Swt akan taufiq bagi petunjuk dan kebenaran., sesungguhnya Allah maha mulia lagi maha baik”. Penjelasan Pengasuh: Diantara hikmah yang bisa kita petik dari penjelasan Imam Al-Ghazali, yaitu: Niat untuk mencari ilmu akhirat Kurikulum fiqih ialah: Ibadah, Muamalah, Munakahat, dan Jinayat. Melakukan sunah zaidah, yakni sunah yang jika seseorang mengerjakannya maka menunjuki atas cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Namun jika meninggalkannya tidak berdosa dan tercela. Beliau menulis kitabnya tersebut seperti fiqih agar orang tertarik untuk mempelajarinya. Kebanyakan orang dimasa beliau lebih senang mempelajari ilmu perbintangan, tidak suka ilmu kedokteran. Beliau meminta agar diluruskan niatnya karena Allah Swt Bila ingin sesorang masuk dalam dakwah kita, maka tak kenapa kita masuk dalam kelompok atau tempat itu. Seperti cara dakwah yang dilakukan para wali songo yang bisa kita lihat banyak sekali umat muslim di Indonesia...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 29 Januari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اِنَّمَا حَمَلَنِي عَلَى تَاْسِيْسِ هَذَا الْكِتَابِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْبَاعٍ أَمْرَانِ, أَحَدُهُمَا : وَهُوَ الْبَاعِثُ الأَصْلِيُّ. أَنَّ هَذَا التَّرْتِيْبَ فِي التَّحْقِيْقِ وَ التَّفْهِيْمِ كَالضَّرُوْرَةِ لأَنَّ الْعِلْمَ الذِى يَتَوَجَّهُ بِهِ اِلَى الآخِرَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ وَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ, وَاَعْنِى بِعِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ : مَا يَطْلُبُ مِنْهُ كَشْفُ الْمَعْلُوْمِ فَقَطْ, وَأَعْنِى بِعِلْمِ الْمُعَامَلَةِ : مَا يُطْلُبُ مِنْهُ مَعَ الْكَشْفِ الْعَمَلُ بِهِ, وَالْمَقْصُوْدُ مِنْ هَذَا الكِتَابِ عِلْمُ الْمُعَامَلَةِ فَقَطْ دُوْنَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ الَّتِى لاَ رُخْصَةَ فِى اِيْدَاعِهَا الْكُتُبَ وَاِنْ كَانَتْ هِيَ غَايَةُ مَقْصِدِ الطَّالِبِيْنَ وَمَطْمَعِ نَظْرِ الصِّدِّيْقِيْنَ, وَعِلْمُ الْمُعَامَلَةِ طَرِيْقٌ اِلَيْهِ وَلَكِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ لأَنبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ مَعَ الْخَلْقِ اِلَّا فِى عِلْمِ الطَّرِيْقِ وَالأِرْشَادِ اِلَيْهِ. وَ اَمَّا عِلّمُ الْمُكَاشَفَةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمُوْا فِيْهِ الاَّ بِالرٍّمْزِ وَالاِيْمَاءِ عَلَى السَّبِيْلِ التَّمْثِيْلِ وَالاِجْمَالِ عِلْمًا مِنْهُمْ بِقُصُوْرِ أَفْهَامِ الْخَلْقِ عَنِ الاِحْتِمَالِ. وَالْعُلَمأءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ فَمَا لَهُمْ سَبِيْلٌ اِلَى الْعُدُوْلِ عَنْ نَهْجِ التَّأَسِّى وَ الأِقْتِدَاءِ ثُمَّ انَّ عِلْمَ الْمُعَامَلَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمٍ ظَاهِرٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ وَ اِلَى عِلْمٍ بَاطِنٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْقُلُوْبِ وَ الْجَارِى عَلَى الْجَوَارِحِ اِمَّا عَادَةٌ وَ اِمَّا عِبَادَةٌ وَالْوَارِدُ عَلَى الْقُلُوْبِ التِي هِيَ بِحُكْمِ الأِحْتِجَابِ عَنِ الْحَوَاسِ مِنْ عَالَمِ الْمَلَكُوتِ اِمَّا مَحْمُودٌ وَ اِمَّا مَذْمُوْمٌ فَبِالْوَاجِبِ اِنْقَسَمَ هَذَا الْعِلْمُ اِلَى شَطْرَيْنِ ظَاهِرٍ وَ بَاطِنٍ, وَ الشَّطْرُ الظَّاهِرُ الْمُتَعَلِقُ بِالْجَوَارِحِ اِنْقَسَمَ اِلَي عَادَةٍ وَ عِبَادَةٍ, وَ الشَطْرُ الْبَاطِنُ الْمُتَعَلِّقُ بِأَحْوَالِ الْقَلْبِ وَ أَخْلاَقِ النُّفُسِ اِنْقَسَمَ اِلَي مَذْمُوْمٍ وَ مَحْمُوْدٍ فَكَانَ الْمَجْمُوْعُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ وَلاَ يَشُذُّ نَظْرٌ فِي الْمُعَامَلَةِ عَنْ هَذِهِ الأَقْسَامِ.   Terjemah Kitab: “Sesungguhnya yang membawa aku mendasarkan kitab ini pada empat bagian (rubu’, adalah dua hal: Pertama: pendorong asli, bahwa susunan ini pada menjelaskan hakikat dan pengertian, seperti Ilmu Doruri. Sebab pengetahuan yang menuju keakhirat itu terbagi kepada Ilmu Muamalah dan Ilmu Mukhasyafah. Yang dimaksud dengan Ilmu Mukhasyafah ialah yang diminta mengetahuinya saja. Dan dengan Ilmu Muamalah ialah yang diminta, disamping mengetahuinya hendaknya diamalkan. Dan yang dimaksudkan dari kitab ini ialah Ilmu muamalah saja tidak Ilmu Mukasyafah yang tidak mudah menyimpannya dibuku-buku meskipun menjadi tujuan maksud para pelajar dan keinginan perhatian orang-orang shiddiqin. Dan ilmu muamalah itu adalah jalan kepada ilmu mukhasyafah. Tetapi para Nabi tidak memperkatakan pada orang banyak, selain mengenai ilmu untuk jalan dan petunjuk kepada ilmu mukasyafah itu. Adapun Ilmu Mukasyafah mereka tidak membicarakannya selain dengan jalan rumus dan isyarat yang merupakan contoh dan kesimpulan. Karena para Nabi itu tau akan singkatnya paham orang banyak untuk dapat memikulnya. Alim ulama itu adalah pewaris para Nabi. Maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling dari pada mengikuti dan mematuhinya. Kemudian ilmu muamalah itu terbagi kepada Ilmu Dzhahir yaitu ilmu mengenai amal perbuatan anggota badan, dan Ilmu Batin yaitu ilmu mengenai amal perbuatan hati dan yang melalui pada anggota badan adakalanya adat kebiasaan dan adakalanya ibadah. Dan yang datang pada hati yang dengan sebab terhijab dari panca indra termasuk bagian alam malakut, adakalanya terpuji dan adakalanya tercela maka seharusnya ilmu ini terbagi dua yaitu dzahir dan Batin. Bagian zhahir yang menyangkut dengan anggota badan terbagi adat kebiasan dan ibadah. Bagian batin yang menyangkut dengan hal ihwal hati dan budi pekerti jiwa terbagi kepada Tercela dan Terpuji. Dan adalah terhimpun menjadi empat bagian dan tidak kurang perhatian pada ilmu muamalah dari bagian-bagian ini. Penjelasan Pengasuh: Pada pembahasan kali ini Imam Al-Ghazali masih menerangkan bagaimana yang melatar belakangi beliau  sehingga mengarang kitab ini,...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 22 Januari 2015)

Posted by on Apr 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : و اما ربع المنجيات: فأذكر فيه كل خلق محمود و خصلة مرغوب فيها من خصال المقربين و الصديقين التي بها يتقرب العبد من رب العالمين و اذكر في كل خصلة حدّها و حقيقتها و سببها الذي به تجتلب و ثمرتها التي منها تستفاد و علامتها التى بها تتعرف و فضيلتها التي لأجلها فيها يرغب مع ما ورد فيها من شواهد الشرع و العقل ولقد صنف الناس في بعض هذه المعاني كتبا, و لكن يتميز هذا الكتاب عنها بخمسة امور: الأول : حل ما عقدوه و كشف ما اجملوه, الثاني : ترتيب ما بددوه و نظم ما فرقوه, الثالث : ايجاز ما طولوه و ضبط ما قرروه, الرابع : حذف ما كرروه و اثبات ما حرروه, الخامس : تحقيق امور غامضة اعتاصت على الأفهام لم يتعرض لها في الكتب اصلا اذ اكل و ان تواردوا على منهج واحد فلا مستنكر ان يتفرد كل واحد من السالكين بالتنبيه لأمر يخصه و يغفل عنه رفقاؤه او لا يغفل عن التنبيه و لكن يسهو عن ايراده في الكتب او لا يسهو و لكن يصرفه عن كشف الغطاء عنه صارف فهذه خواص هذا الكتاب مع كونه حاويا لمجامع هذه العلوم. Terjemah Kitab: “Dan adapun  bagian perbuatan yang melepaskan, maka saya akan sebutkan semua budi pekerti yang terpuji dan keadaan yang disukai yang menjadi budi pekerti orang-orang muqarrabin dan shiddiqin yang seorang hamba mendekatkan kepada Tuhannya semesta alam saya akan terangkan pada tiap-tiap budi pekerti itu, batasnya, hakikatnya, sebab yang membawa tertarik kepadanya faedah yang dapat diperoleh dari padanya tanda-tanda untuk mengenalinya dan keutamaan yang membawa kegemaran padanya serta apa yang ada padanya dari dalil-dali syariat dan akal pikiran. Penulis-penulis lain udah mengarang beberapa buku mengenai sebagian dri maksud-maksud tadi, akan tetapi kitab ini berbeda dari kitab-kitab itu dalam lima hal. Pertama: menguraikan dan menjelaskan apa yang ditulis penulis-penulis lain secara singkat dan umum. Kedua: menyusun dan mengatur apa yang dibuat mereka itu berpisah-pisah dan bercerai-cerai. Ketiga: menyingkatkan apa yang dibuat mereka itu berpanjang-panjang dan menentukan apa yang ditetapkan mereka. Keempat: membuang apa yang dibuat mereka itu berulang-ulang dan menetapkan dengan kepastian diantara yang diuraikan itu. Kelima: memberi kepastian hal-hal yang meragukan yanag membawa kepada salah paham yang tidak disinggung sedikitpun dalam kitab-kitab yang lain. Karena semuanya walaupun mereka itu menempuh pada suatu jalan tetapi tak dapat dibantah bhwa masing-masing orang salik (orang yang berjalan pada jalan Allah) itu mempunyai perhatian tersendiri kepada sesuatu hal yang tertentu baginya dan dilupakan teman-temannya atau ia tidak lalai dari perhatian itu, akan tetapi lupa dimasukannya kedalam kitab-kitabnya atau ia tidak lupa, akan tetapi ia dipalingkan oleh sesuatu yang memalingkannya dari pada menyingkapkan yang tertutup dari...

read more

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 15 Januari 2015)

Posted by on Apr 1, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : فَأَمَّا رُبْعُ الْعِبَادَاتِ : فَأَذْكُرُ فِيْهِ مِنْ خَفَايَا ادَابِهَا وَدَقَائِقِ سُنَنِهَا وَ أَسْرَارِ مَعَانِيْهَا مَا يَضْطَرُّ العَالِمُ العَامِلُ اِلَيْهِ, بَلْ لاَ يَكُوْنُ مِنْ عُلَمَاءِ الآخِرَةِ مَنْ لاَ يَطَّلِعُ عَلَيْهِ, وَأَكْثَرُ ذَالِكَ مِمَّا اُهْمِلَ فِى فَنِّ الْفِقْهِيَاتِ. وَ اَمَّا رُبْعُ الْعَادَاتِ : فَأَذْكُرُ فِيْهِ أَسْرَارَ الْمُعَامَلَاتِ الجَارِيَةِ بَيْنَ الْخَلْقِ وَ أَغْوَارَهَا وَ دَقَائِقَ سُنَنِهَا وَ خَفَايَا الْوَرْعِ فِى مَجَارِيْهَا. وَ هِيَ لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهَا مُتَدَيِّنٌ. وَ اَمَّا رُبْعُ الْمُهْلِكَاتِ : فَأَذْكُرُ فِيْهِ كُلَّ خُلُقٍ مَذْمُوْمٍ وَرَدَ الْقُرْانُ بِأِمَاطَتِهِ وَ تَزْكِيَةِ النَّفْسِ عَنْهُ وَ تَطْهِيْرِ الْقَلْبِ مِنْهُ, وَ أَذْكُرُ مِنْ كُلِّ وَأحِدٍ مِنْ تِلْكَ الأَخْلاَقِ حَدَّهُ وَ حَقِيْقَتَهُ , ثُمَّ أَذْكُرُ سَبَبَهُ الذِى مِنْهُ يَتَوَلَّدُ, ثُمَّ الآفَاتِ الَّتِي عَلَيْهَا تَتَرَتَّبُ , ثُمَّ الْعَلَامَاتِ الَّتِى بِهَا تُتَعَرَّفُ , ثُمَّ طُرُقَ الْمُعَالَجَةِ الَّتى بِهَا مِنْهَا يَتَخَلَّصُ , كُلُ ذَالِكَ مَقْرُوْنًا بِشَوَاهِدِ الآيَاتِ وَ الأخْبَارِ وَ الآثَارِ. Terjemah Kitab : Adapun bagian ibadah, maka akan saya sebutkan di dalamnya tentang adab yang mendalam, sunah-sunah yang halus, dan rahasia-rahasia makna yang di butuhkan oleh orang yang berilmu dan mengamalkan. Bahkan tidaklah termasuk di antara ulama akhirat orang yang tidak memperhatikan kepadanya, dan kebanyakan demikian itu diantara sesuatu yang di sia-siakan dalam ilmu fiqih. Adapun bagian pekerjaan sehari-hari, maka saya sebutkan di dalamnya dari pada rahasia muamalah yang berjalan di antara makhluk dan liku-likunya, sunahnya yang halus-halus, dan sifat wara’ yang tersembunyi pada tempat berjalannya. Yaitu yang harus dimiliki oleh orang yang beragama. Adapun bagian yang membinasakan : Maka akan aku sebutkan tentang akhlak yang tercela yang telah datang keterangannya dalam Al-Qur’an dengan menghilangkannya, membersihkan jiwa, dan mensucikan hati dari padanya itu, dan aku sebutkan tiap-tiap akhlaq definisi dan hakikatnya, kemudian aku sebutkan sebab-sebab yang timbul darinya, kemudian bahaya yang teratur, tanda-tanda yang engkau ketahui dan jalan-jalan supaya terlepas dari padanya. Semuanya itu disertai dengan dalil-dalil ayat, hadits, dan perkataan sahabat. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini Imam Al-Ghazali akan menjelaskan nanti dalam pembahasan tentang ibadah pada rahasia-rahasianya atau yang tersembunyi. Dalam fiqih ibadah terbagi dua yakni ibadah Mahdoh dan Ghoiru Mahdoh, Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaili, Ibadah ialah suatu nama yang menghimpun bagi sesuatu yang dicintai oleh Allah Swt baik perkataan maupun perbuatan, baik yang zohir maupun yang batin. Ibadah bukan hanya perbuatan yang wajib saja yang kita kerjakan, akan tetapi perbuatan sunah pun kita lakukan, karena sunah merupakan perintah Allah dan itu merupakan suatu ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt. Menurut Imam Al-Ghazali ibadah wajib ibarat induknya harta sedangkan ibadah sunah merupakan keuntungannya. Hidup ini ibarat perdagangan, jika ia mengerjakan hanya hal yang wajib saja dan tidak melakukan hal yang dapat menghancurkan ibadah, maka selamatlah orang tersebut. Jika ditambah dengan yang sunah maka orang itu adalah orang yang beruntung. Kemudian Imam Al-Ghazali akan menyebutkan bagaimana rahasia wara’. Ciri mendasar pada seseorang yang bersifat wara’ adalah kemampuannya meninggalkan sesuatu yang hanya semata-mata ada keraguan atau syubhat, orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap prefentif untuk diri mereka sendiri dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang bisa membawa kepada sesuatu yang makruh atau haram. Rasulullah Saw bersabda: لاَيَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ حَتَّى يَدَعَ مَالاَبَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ Artinya: “Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang”. Serta bagi orang yang wara’...

read more