Kebon Jeruk Jakarta Barat

Posts made in April, 2015

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin (26 Februari 2015)

Posted by on Apr 29, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Terjemah Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA Ditulis Oleh: Ustadz Alfani, S.Pd,I   KEUTAMAAN ILMU بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ قَالَ تَعَالَى :{ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ } رَدَّ حُكْمَهُ فِى الْوَقَئِعِ اِلَى اِسْتِنْبَاطِهِمْ وَ اَلْحَقَ رُتْبَتَهُمْ بِرُتْبَتِ الأَنْبِيَاءِ فِى كَشْفِ حُكْمِ اللّهِ. وَ قِيْلَ فِى قَوْلِهِ تَعَالَى : {يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ} يَعْنِى الْعِلْمَ : {وَرِيْشًا } يَعْنِى الْيَقِيْنَ {وَ لِبَاسُ التَّقْوَى} يَعْنِى الْحَيَاءَ. وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ : {وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ } وَ قَالَ تَعَالَى :   {فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ}  وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ : {بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ} وَ قَالَ تَعَالَى : { خَلَقَ الْإِنْسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ } وَ اِنَّمَا ذَكَرَ ذَلِكَ فِى مَعْرَضِ الأِمْتِنَانِ Terjemah Kitab: Allah Swt berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 83 yang artinya : “kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)”.  Ayat ini menerangkan bahwa untuk menentukan hukum dari segala kejadian, adalah terserah kepada pemahaman mereka. Dan dihubungkan tingkat mereka dengan tingkat Nabi-nabi dalam hal ini menyingkap hukum Allah Swt. Dan ada yang menafsirkan tentang firman Allah yang artinya: Artinya : “Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmut”. (QS. Al-‘Araf : 26). Dengan tafsiran, bahwa pakaian itu maksudnya ilmu, bulu itu maksudnya yakin dan pakaian ketaqwaan itu maksudnya malu. Pada ayat lain Allah Swt berfirman yang artinya: ”Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan”.(QS.Al-‘Araf : 52). Pada ayat lain: “Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka)”. (QS. Al-‘Araf: 7). Pada ayat lain: “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu”. (QS. Al-‘Ankabut: 49). Pada ayat lain : “Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara”. (Ar-Rahman: 3-4). Dan bahwasannya Allah menyebutkan demikian itu untuk menghubungkan nikmat-nikmatnya. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini kita masih membahas tentang keutamaan ilmu dan ahli ilmu berdasarkan al-Qur’an. Bagaimana Allah memerintahkan kita agar bertanya kepada ulama, karena segala permasalahan agar ada solusinya ialah bertanya kepada Rasul, namun jika tidak ada balik kepada ulama, karena ulama ialah pewaris para Nabi. Karena para alim ulama jikalau memutuskan suatu masalah bukan karena nafsunya semata melainkan berdasarkan al-Qur’an dan Hadits sehingga solusi yang diberikan dari ulama itulah yang terbaik. Dalam Al-Qur’an banyak Allah menyebutkan tentang ilmu, diantaranya: Surat Al-‘Araf ayat 7 dan 52: فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ Artinya:”Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)”. وَلَقَدْ جِئْنَٰهُم بِكِتَٰبٍ فَصَّلْنَٰهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  Artinya” “Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”....

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 19 Februari 2015)

Posted by on Apr 27, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA KEUTAMAAN ILMU بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : الْبَابُ الأَوَّلُ فِى فَضْلِ الْعِلْمِ وَااتَّعْلِيْمِ وَتَعَلُّمِ وَ شَوَاهِدِهِ مِنَ النَّقْلِ وَالْعَقْلِ فَضِيْلَةُ الْعِلْم شَوَاهِدُهَا مِنَ الْقُرْانِ قَوْلُهُ عَزَّ وَ جَلَّ :{شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ} (ال عمران: 18) فَانْظُرْ كَيْفَ بَدَأَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى بِنَفْسِهِ وَ ثَنَّى بِالْمَلآئِكَةِ وَ ثَلَّثَ بِأَهْلِ الْعِلْمِ, وَ نَاهِيْكَ بِهَذَا شَرْفًا وَ فَضْلاً وَ جَلاَءً وَ نَبْلاً. وَ قَالَ تَعَالَى :{ يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍŠ} (المجادلة: 11 ). قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّه عَنْهُمَا: لِلْعُلَمَاءِ دَرَجَاتٌ فَوْقَ الْمُؤْمِيْنَ بِسَبْعِمِائَةِ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ مَسِيْرَةُ خَمْسِمِائَةِ عَامٍّ. وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ :{ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ} (الزمر:9). وَ قَالَ تَعَالَى: {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء }(الفاطر :28). وَقَالَ تَعَالَى :{قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ} (الرعد:43). وَقَالَ تَعَالَى :{ قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ } (انمل:40). تَنْبِيْهٌا عَلَى أَنَّهُ اِقْتَدَرَ بِقُوَّةِ الْعِلْمِ. وَ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ :{وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُواالْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا} (القصص:80). بَيَّنَ اَنَّ عَظْمَ قَدْرِ الآخِرَةِ يُعْلَمُ بِالْعِلْمِ. وَقَالَ تَعَالَى : {وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ ( العنكبوت:43   Terjemah Kitab: BAB PERTAMA : Tentang kelebihan ilmu, kelebihan mengajar, kelebihan belajar dan dalil-dalinya dari naqal (Al-Qur’an dan Hadits) dan akal. KELEBIHAN ILMU Dalil-dalilnya dari Al-Qur’an ialah firman Allah swt dalam surat Al-Imran ayat 18 yang artinya : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Maka lihatlah betapa Allah swt memulai dengan dririnya sendiri dan menomor duakan dengan malaikatnya dan menomor tigakannya dengan ahli ilmu. Cukuplah kiranya dengan ini buat kita pertanda kemuliaan, kelebihan, kejelasan, dan ketinggian orang-orang yang berilmu. Pada ayat lain Allah Swt berfirman dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya : “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Ibnu Abbas ra mengatakan : “Untuk ulama beberapa tingkat diatas orang mu’min dengan 700 tingkat tingginya, antara dua tingkat itu, jaraknya sampai 500 tahun perjalanan. Pada ayat lain Allah swt befirman pada ayat Az-Zumar ayat 9 yang artinya:”(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. Berfirman Allah swt pada surat Al-Fatir ayat 28 yang artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 12 Februari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA   KITAB ILMU DAN PADANYA ADA 7 (TUJUH) BAB بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : البَابُ لأَوَّلُ : فِى فَضْلِ الْعِلْمِ وَالتَّعْلِيْمِ. البَابُ الثَّانِى : فِى فَرْضِ الْعَيْنِ وَ فَرْضِ الْكِفَايَةِ مِنَ الْعُلُوْمِ وَ بَيَانِ حَدِّ الْفِقْهِ وَ الْكَلاَمِ مِنْ عِلْمِ الدِّيْنِ وَ بَيَانِ عِلْمِ الآخِرَةِ وَ عِلْمِ الدُّنْيَا. الْبَابُ الثَّالِثُ : فِيْمَا تَعُدُّهُ الْعَامَّةُ مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَ لَيْسَ مِنْهُ, وَ فِيْهِ بَيَانُ جِنْسِ الْعِلْمِ الْمَذْمُوْمِ وَ قَدْرِهِ. الْبَابُ الرَّابِعُ : فِى افَاتِ الْمُنَاظَرَةِ وَ سَبَبِ اِشْتِغَالِ النَّاسِ بِالْخِلاَفِ وَ الْجَدْلِ. الْبَابُ الْخَامِسُ : فِى ادَابِ الْمُعَلِّمِ وَ الْمُتَعَلِّمِ. الْبَابُ السَّادِسُ فِى افَاتِ الْعِلْمِ وَ الْعُلَمَاءِ وَ الْعَلاَمَاتِ الْفَارِقَةِ بَيْنَ عُلَمَاءِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. الْبَابُ السَّابِعُ : فِي الْعَقْلِ وَ فَضْلِهِ وَ أَقْسَامِهِ وَ مَا جَاءَ فِيْهِ مِنَ الأَخْبَارِ. Terjemah Kitab: “Kitab Ilmu dan di dalamnya terdapat tujuh bab, Bab Pertama: Keutamaan Ilmu, Mengajarkan, dan Belajar. Bab Kedua: Tentang Ilmu-Ilmu yang Fardu ‘Ain dan Fardu Kifayah, Menerangkan Batas Ilmu Fiqih, Pembicaraan Tentang Ilmu Agama, dan Penjelasan Ilmu Akhirat dan Ilmu Dunia. Bab Ketiga: Tentang Ilmu Agama yang Dianggap Orang Awam Padahal itu Bukan, dan Penjelasan Jenis Ilmu Tercela dan Kadarnya. Bab Keempat: Tentang Bahaya Perdebatan dan Sebab Disibukan Manusia dari Berselisih dan Bertengkar. Bab Kelima: Tentang Adab Pengajar dan Pelajar. Bab Keenam: Tentang Bahaya Ilmu, Ulama dan Tanda-Tanda yang Membedakan Ulama Dunia dan Ulama Akhirat. Bab Ketujuh: Tentang Akal, Bagian-Bagian Akal dan Hadits-Hadits Tentang Akal”.   Penjelasan Pengasuh: Pada pertemuan kali ini alhamdulillah kita telah masuk kedalam pembahasan pertama, yakni mengenai bab tentang ilmu. Imam Al-Ghazali membagi pembahasan ilmu ini dengan 7 (tujuh) bagian : Keutamaan Ilmu, Mengajarkan, dan Belajar Banyak dari pada karangan Imam Al-Ghazali beliau selalu mendahulukan bab tentang ilmu di bab pertama pembahasannya, karena banyak sekali bagaimana manfaat ilmu jika kita memilikinya, diantaranya manfaatnya: Ilmu dapat membedakan mana pekerjaan yang baik maupun yang buruk. Dengan ilmu pula seseorang bisa menjadi mulia, karena Allah Swt yang mengangkat sendiri derajatnya. Sebagaimana Allah Swt berfirman : يَآيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْآ اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجَلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ Artinya:” Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Mujadalah: 11). Ilmu pula yang menjadikan manusia menjadi takwa, kemudian dengan takwa manusia menjadi mulia. Ilmu sebagai penghias untuk ahlinya dan sebagai tanda pujian. Sebagaimana penyair berkata: فَاِنَّ الْعِلْمَ زَيْنُ لأَهلِهِ # وَ فَضْلٌ وَ عُنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِدِ وَ كُنْ مُسْتَفِدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً  #  مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِى بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ تَفَقَّهْ فَاِنَّ الْفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدِ # اِلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَى وَ أَعْدَلُ قَاصِدِ هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِى اِلَى سُنَنِ الْهُدَى # هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِى مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ فَاِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا # أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 05 Februari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : الْبَاعِثُ الثَّانِي : اَنِّي رَاَيْتُ الرَّغْبَةَ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ صَادِقَةً فِي الْفِقْهِ الَّذِى صَلُحَ عِنْدَ مَنْ لاَ يَخَافُ اللّهَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى لِتَدَرُّعِ بِهِ اِلَي الْمُبَاهَاةِ وَ الاِسْتِظْهَارِ بِجَاهِهِ وَ مَنْزِلَتِهِ فِي الْمُنَافَسَاتِ, وَ هُوَ مُرَتَّبٌ عَلَي اَرْبَعَةِ اَرْبَاعٍ وَ الْمُتَزَيِّى بِزِىِ الْمَحْبُوْبِ مَحْبُوْبٌ فَلَمْ اَبْعُدْ اَنْ يَكُوْنَ تَصْوِيْرُ الْكِتَابِ بِصُوْرَةِ الْفِقْهِ تَلَطُفًا فِي اسْتِدْرَاجِ الْقُلُوْبِ, وَلِهَذَا تَلطَّفَ بَعْضُ مَنْ رَامَ اِسْتِمَالَةَ قُلُوْبِ الرُّؤُسَاءِ اِلَي الطِّبِّ فَوَضَعَهُ عَلَي هَيْئَةِ تَقْوِيْمِ النُّجُوْمِ مَوْضُوْعًا فِي الْجَدَاوِلِ وَالرُّقُوْمِ وَ سَمَّاهُ تَقْوِيْمَ الصِّحَةِ لِيَكُوْنَ اُنْسُهُمْ بِذَالِكَ الْجِنْسِ جَاذِبًا لَهُمْ اِلَى الْمُطَالَعَةِ وَالتُّلَطُّفِ فِى اِجْتِذَابِ الْقُلُوْبِ اِلَى الْعِلْمِ الَّذِي يُفِيْدُ الْحَيَاةَ الآبَدِ اَهَمُّ مِنَ التَّلَطُفِ فِى اجْتِذَابِهَا اِلَي الطِّبِّ الَّذِي لاَ يُفِيْدُ الاَّ صِحَّة الْجَسَدِ, فَثَمْرَةُ هَذَأ الْعِلْمِ طِبُّ الْقُلُوْبِ وَ الأَرْوَاحِ الْمُتَوَصِّل بِهِ اِلَي حَيَاةٍ تَدُوْمُ أَبَدَ الآبَادِ, فَأَيْنَ مِنْهُ الطِّبُّ الّذي يُعَالِجُ بِهِ لأَجْسَادَ وَ هِيَ مُعْرِضَةٌ بِاالضَّرُوْرَةِ لِلْفَسَادِ فِى أَقْرَبِ الآمَادِ ؟ فَنَسأَلُ اللّهَ سُبْحَانَهُ التَّوْفِيْقَ لِلرَّشَادِ وَ السَّدَادِ اِنَّهُ كَرِيْمٌ جَوَّادٌ. Terjemah kitab: “Adapun motivasi yang kedua : Aku melihat keinginan para pelajar yang gemar sekali terhadap ilmu fiqih, ilmu yang layak bagi orang yang tidak takut kepada Allah Swt, agar berbuat dengan ilmu itu untuk berbangga-bangga dan menampakan kemegahan serta kedudukan dalam perlombaan. Dan ilmu fiqih itu terbagi dari empat bagian, dan orang yang menghiasi dirinya dengan hiasan yang di sukai, tentu dia akan disukai. Maka aku tidak jauh dari mengarang kitab ini dengan bentuk fiqih karena berlemah lembut untuk menarik hati. Dan karena inilah sebagian orang yang ingin menarik hati pembesar-pembesar kepada ilmu kesehatan, bertindak lemah lembut, lalu membentuknya dalam bentuk Ilmu bintang dengan memakai ranji dan angka. Dan menamakannya Ilmu Taqwim kesehatan, supaya menjinakan hati mereka dengan cara itu menjadi tertarik kepada membacanya. Berlemah lembut menarik hati orang kepada ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan abadi adalah lebih penting dari pada berlemah-lembut menariknya kepada ilmu kesehatan yang faedahnya hanya untuk kesehatan jasmani belaka. Faedah pengetahuan ini ialah membawa kesehatan hati dan jiwa yang bersambung terus kepada kehidupan abadi, maka dimana ilmu kesehatan itu yang dapat mengobati tubuh kasar saja, yang akan hancur binasa dalam waktu yang tidak lama lagi. Kita memohon kepada Allah Swt akan taufiq bagi petunjuk dan kebenaran., sesungguhnya Allah maha mulia lagi maha baik”. Penjelasan Pengasuh: Diantara hikmah yang bisa kita petik dari penjelasan Imam Al-Ghazali, yaitu: Niat untuk mencari ilmu akhirat Kurikulum fiqih ialah: Ibadah, Muamalah, Munakahat, dan Jinayat. Melakukan sunah zaidah, yakni sunah yang jika seseorang mengerjakannya maka menunjuki atas cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Namun jika meninggalkannya tidak berdosa dan tercela. Beliau menulis kitabnya tersebut seperti fiqih agar orang tertarik untuk mempelajarinya. Kebanyakan orang dimasa beliau lebih senang mempelajari ilmu perbintangan, tidak suka ilmu kedokteran. Beliau meminta agar diluruskan niatnya karena Allah Swt Bila ingin sesorang masuk dalam dakwah kita, maka tak kenapa kita masuk dalam kelompok atau tempat itu. Seperti cara dakwah yang dilakukan para wali songo yang bisa kita lihat banyak sekali umat muslim di Indonesia...

Read More

Kajian Kitab Ihya ‘Ulumiddin ( 29 Januari 2015)

Posted by on Apr 26, 2015 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : وَ اِنَّمَا حَمَلَنِي عَلَى تَاْسِيْسِ هَذَا الْكِتَابِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْبَاعٍ أَمْرَانِ, أَحَدُهُمَا : وَهُوَ الْبَاعِثُ الأَصْلِيُّ. أَنَّ هَذَا التَّرْتِيْبَ فِي التَّحْقِيْقِ وَ التَّفْهِيْمِ كَالضَّرُوْرَةِ لأَنَّ الْعِلْمَ الذِى يَتَوَجَّهُ بِهِ اِلَى الآخِرَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ وَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ, وَاَعْنِى بِعِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ : مَا يَطْلُبُ مِنْهُ كَشْفُ الْمَعْلُوْمِ فَقَطْ, وَأَعْنِى بِعِلْمِ الْمُعَامَلَةِ : مَا يُطْلُبُ مِنْهُ مَعَ الْكَشْفِ الْعَمَلُ بِهِ, وَالْمَقْصُوْدُ مِنْ هَذَا الكِتَابِ عِلْمُ الْمُعَامَلَةِ فَقَطْ دُوْنَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ الَّتِى لاَ رُخْصَةَ فِى اِيْدَاعِهَا الْكُتُبَ وَاِنْ كَانَتْ هِيَ غَايَةُ مَقْصِدِ الطَّالِبِيْنَ وَمَطْمَعِ نَظْرِ الصِّدِّيْقِيْنَ, وَعِلْمُ الْمُعَامَلَةِ طَرِيْقٌ اِلَيْهِ وَلَكِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ لأَنبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ مَعَ الْخَلْقِ اِلَّا فِى عِلْمِ الطَّرِيْقِ وَالأِرْشَادِ اِلَيْهِ. وَ اَمَّا عِلّمُ الْمُكَاشَفَةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمُوْا فِيْهِ الاَّ بِالرٍّمْزِ وَالاِيْمَاءِ عَلَى السَّبِيْلِ التَّمْثِيْلِ وَالاِجْمَالِ عِلْمًا مِنْهُمْ بِقُصُوْرِ أَفْهَامِ الْخَلْقِ عَنِ الاِحْتِمَالِ. وَالْعُلَمأءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ فَمَا لَهُمْ سَبِيْلٌ اِلَى الْعُدُوْلِ عَنْ نَهْجِ التَّأَسِّى وَ الأِقْتِدَاءِ ثُمَّ انَّ عِلْمَ الْمُعَامَلَةِ يَنْقَسِمُ اِلَى عِلْمٍ ظَاهِرٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ وَ اِلَى عِلْمٍ بَاطِنٍ أَعْنِى الْعِلْمَ بِأَعْمَالِ الْقُلُوْبِ وَ الْجَارِى عَلَى الْجَوَارِحِ اِمَّا عَادَةٌ وَ اِمَّا عِبَادَةٌ وَالْوَارِدُ عَلَى الْقُلُوْبِ التِي هِيَ بِحُكْمِ الأِحْتِجَابِ عَنِ الْحَوَاسِ مِنْ عَالَمِ الْمَلَكُوتِ اِمَّا مَحْمُودٌ وَ اِمَّا مَذْمُوْمٌ فَبِالْوَاجِبِ اِنْقَسَمَ هَذَا الْعِلْمُ اِلَى شَطْرَيْنِ ظَاهِرٍ وَ بَاطِنٍ, وَ الشَّطْرُ الظَّاهِرُ الْمُتَعَلِقُ بِالْجَوَارِحِ اِنْقَسَمَ اِلَي عَادَةٍ وَ عِبَادَةٍ, وَ الشَطْرُ الْبَاطِنُ الْمُتَعَلِّقُ بِأَحْوَالِ الْقَلْبِ وَ أَخْلاَقِ النُّفُسِ اِنْقَسَمَ اِلَي مَذْمُوْمٍ وَ مَحْمُوْدٍ فَكَانَ الْمَجْمُوْعُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ وَلاَ يَشُذُّ نَظْرٌ فِي الْمُعَامَلَةِ عَنْ هَذِهِ الأَقْسَامِ.   Terjemah Kitab: “Sesungguhnya yang membawa aku mendasarkan kitab ini pada empat bagian (rubu’, adalah dua hal: Pertama: pendorong asli, bahwa susunan ini pada menjelaskan hakikat dan pengertian, seperti Ilmu Doruri. Sebab pengetahuan yang menuju keakhirat itu terbagi kepada Ilmu Muamalah dan Ilmu Mukhasyafah. Yang dimaksud dengan Ilmu Mukhasyafah ialah yang diminta mengetahuinya saja. Dan dengan Ilmu Muamalah ialah yang diminta, disamping mengetahuinya hendaknya diamalkan. Dan yang dimaksudkan dari kitab ini ialah Ilmu muamalah saja tidak Ilmu Mukasyafah yang tidak mudah menyimpannya dibuku-buku meskipun menjadi tujuan maksud para pelajar dan keinginan perhatian orang-orang shiddiqin. Dan ilmu muamalah itu adalah jalan kepada ilmu mukhasyafah. Tetapi para Nabi tidak memperkatakan pada orang banyak, selain mengenai ilmu untuk jalan dan petunjuk kepada ilmu mukasyafah itu. Adapun Ilmu Mukasyafah mereka tidak membicarakannya selain dengan jalan rumus dan isyarat yang merupakan contoh dan kesimpulan. Karena para Nabi itu tau akan singkatnya paham orang banyak untuk dapat memikulnya. Alim ulama itu adalah pewaris para Nabi. Maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling dari pada mengikuti dan mematuhinya. Kemudian ilmu muamalah itu terbagi kepada Ilmu Dzhahir yaitu ilmu mengenai amal perbuatan anggota badan, dan Ilmu Batin yaitu ilmu mengenai amal perbuatan hati dan yang melalui pada anggota badan adakalanya adat kebiasaan dan adakalanya ibadah. Dan yang datang pada hati yang dengan sebab terhijab dari panca indra termasuk bagian alam malakut, adakalanya terpuji dan adakalanya tercela maka seharusnya ilmu ini terbagi dua yaitu dzahir dan Batin. Bagian zhahir yang menyangkut dengan anggota badan terbagi adat kebiasan dan ibadah. Bagian batin...

Read More