Kebon Jeruk Jakarta Barat

Posts made in December, 2014

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (18 Desember 2014)

Posted by on Dec 25, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar, MA Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin :   :وَ يَشْتَمِلُ رُبْعُ الْعِبَادَاتِ عَلَي عَشْرَةِ كُتُبٍ كِتَابُ الْعِلْمِ , وَ كِتَابُ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الطَّهَارَةِ , وَكِتَابُ أَسْرَارِ الصَّلَاةِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الزَّكَاةِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الصِّيَامِ , وَ كِتَابُ أَسْرَارِ الْحَجِّ وَ كِتَابُ ادَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْانِ , وَكِتَابُ لاَذْ وَالدَّعْوَاتِ , وَكِتَابُ تَرْتِيْبِ الاَوْرَادِ فِي الاَوْقَاتِ Terjemah Kitab : Bagian (rubu’) ibadah, melengkapi sepuluh kitab : Pertama, Kitab Ilmu. Kedua, Kitab Kaidah-kaidah I’tiqad. Ketiga, Kitab Rahasia Bersuci. Keempat, Kitab Rahasia Shalat. Kelima, Kitab Rahasia Zakat. Keenam,  Kitab Rahasia Puasa. Ketujuh, Kitab Rahasia Haji. Kedelapan, Kitab Adab Membaca Al-Qur’an. Kesembilan, Kitab Dzikir dan Doa. Sepuluh, Kitab Tartib Wirid pada Masing-masing Waktunya. Penjelasan Pengasuh : Pada pertemuan kali ini Imam Al-Ghazali membagi isi dalam kitabnya dengan bagian ibadah, diantaranya : Kitab Ilmu Beliau mendahulukan pembahasannya tentang kitab ilmu, dengan alasan yang telah kita ketahui pada pertemuan sebelumnya. Ilmu dalam hal ini merupakan suatu jalan untuk mewujudkan kehidupan dunia yang sejahtera terlebih lagi kehidupan akhirat yang kekal abadi. Begitu pentingnya kedudukan ilmu yang mesti kita miliki jika ingin sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat sebagaimana Nabi Muhammad Saw sabdakan: (مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ. (رواه الترمذي Artinya : “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”(HR. Turmudzi). Dengan ilmu pula Nabi Adam AS mengetahui bagaimana tata caranya buang air besar, karena setelah di usir dari surga Nabi Adam sebelumnya tidak mengetahui bagaimana tata cara buang air besar, kemudian Allah memerintahkan malaikatnya untuk mengajarkan Nabi Adam, keterangan ini bisa di lihat dalam kitab Durrul Mansur buah karya Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuti. Kaidah-kaidah Aqidah Pembahasan yang kedua ini beliau membahas tentang aqidah, menurut bahasa kata “aqidah” diambil dari kata dasar “al-‘aqdu” ar-rabth (ikatan), sedangkan menurut istilah yaitu perkara yang dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tentram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Nama lain ilmu aqidah adalah ilmu tauhid, karena ilmu ini berputar (pada pembahasan) untuk mentauhidkan Allah Swt dengan uluhiyyah, rububiyyah, dan asma wa shifat. Ilmu ini pula yang wajib mesti kita pelajari sebaimana Syaikh Ibnu Ruslan dalam Matan Zubadnya : اَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْاِنْسَانِ # مَعْرِفَةُ الاِلهِ بِاسْتِيْقَان Artinya : “Yang wajib pertama atas seorang manusia ialah mengetahui tuhannya dengan keyakinan”. Sebagai mukallaf yang wajib kita ketahui adalah 50 sifat. Dengan rincian 20 sifat yang wajib bagi Allah, 20 sifat  yang mustahil bagi Allah, dan 1 sifat yang jaiz bagi Allah. Sedangkan untuk Rasul, 4 sifat yang wajib bagi rasul, 4 sifat yang mustahil bagi Rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul. Di dalam Agama Islam kemantapan aqidah sangat penting sekali apalagi melihat zaman sekarang yang sudah banyak dihiasi dengan aqidah-aqidah yang agak berlainan dari Islam itu sendiri, apalagi bagi...

Read More

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (11 Desember 2014)

Posted by on Dec 20, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH. Suherman Muchtar. MA   Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin : فَأَمَّا عِلْمُ طَرِيْقِ الآَخِرَةِ وَمَا دَرَجَ عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ مِمَّا سَمَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ فِي كِتَابِهِ : فِقْهًا وَحِكْمَةً وَعِلْمًا وَ ضِيَاءً وَ نُوْرًا وَ هِدَايَةً وَ رُشْدًا, فَقَدْ أَصْبَحَ مِنْ بَيْنِ الْخَلْقِ مَطْوِيًّا وَصَارَ نَسْيًا مَنْسِيًّا.وَلَمَّا كَانَ هَذَا ثَلْمًا فِى الدِّيْنِ مُلِمًّا وَ خَطْبًا مُدْلَهِمًّا,رَأَيْتُ الاِشْتِغَالَ بِتَحْرِيْرِ هَذَا الكِتَابِ مُهِمَّا اِحْيَاءً لِعُلُوْمِ الدِّيْنِ وَ كَشْفًا عَنْ مَنَاهِجِ الأئِمَّةِ المُتَقَدِّمِيْنَ وَ اِيْضَاحًا لِمَبَاهِى العُلُوْمِ النَافِعَةِ عِنْدَ النَّبِيِّيْنَ وَالسَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ. Terjemah kitab : Adapun ilmu jalan menuju akhirat yang di tempuh ulama-ulama terdahulu yang saleh, yang dinamakan oleh Allah Swt dalam kitabnya : Fiqih, Hikmah, Ilmu, Cahaya, Nur, Hidayah dan Petunjuk, maka ilmu itu telah terlipat diantara manusia bahkan ilmu itu menjadi terlupakan. Tatkala perkara yang demikian itu dapat menghancurkan agama dan mendatangkan bahaya yang mengerikan, maka aku sibukkan untuk mengarang kitab ini karena terdapat suatu kewajiban yang sangat penting untuk Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama (Ihya ‘Ulumiddin), membukakan jalan yang dilalui imam-imam yang terdahulu dan menjelaskan maksud dari ilmu-ilmu yang bermanfaat menurut para nabi-nabi dan ulama-ulama terdahulu yang saleh. Penjelasan Pengasuh : Di kehidupan yang kita jalani ini banyak sekali berbagai macam cabang ilmu yang ada, seperti ilmu pengetahuan umum yang dimana kebanyakan orang-orang ingin meraihnya tidak peduli dengan biaya pendidikan yang begitu mahalnya, perjalanan yang jauh dari tempat tinggalnya, yang dipikirkan dibenakya agar anaknya bisa cerdas nantinya dan bisa bekerja di suatu tempat pekerjaan. Namun itu semua hanyalah bermanfaat di dunia saja sedangkan di akhirat tidak akan bermanfaat sama sekali, sedangkan ilmu yang bermanfaat ialah ilmu agama yang bermanfaat di dunia terlebih lagi di akhirat, Imam Ghazali memaparkan kepada kita bahwa ilmu jalan untuk menuju akhirat ialah sangat banyak, dimana ilmu ini ditempuh oleh ulama salafus soleh ( para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka). Dan Allah swt menamakannya pula di dalam Al-Qur’an Al-Karim sebagai berikut : Fiqih, menurut bahasa fiqih artinya (الفهم)yang artinya paham. sebagaimana Allah swt berfirman :”…..Perhatikanlah betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahaminya”.(Al-An’am: 65). Hikmah, sebagaimana Allah swt berfirman :”Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (Al-Baqarah: 269). Ilmu, sebagaimana Allah swt berfirman: ”…..Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.(Al-‘Imran: 7). Diya, sebagaimana Allah swt berfirman: “Dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al-Anbiya: 48). Nur, sebagaimana Allah swt berfirman: “……Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”.(Al-Ma’idah: 15). Serta firman Allah swt :” Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya?”. (Az-Zumar: 22). Hidayah, sebagaimana Allah swt berfirman: “ ….Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”....

Read More

Kajian Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (4 Desember 2014)

Posted by on Dec 20, 2014 in Ihya 'Ulumiddin | 0 comments

Oleh: KH.Suherman Muchtar.MA   MUKADDIMAH بسم الله الرّحمن الّرحيم Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin : اَحْمَدُ اللَّهَ اَوَّلاً حَمْدًا كَثِيْرًا مُتَوَالِياً وَاِنْ كاَنَ يَتَضاَءَلُ دُوْنَ حَقِّ جَلاَلِهِ حَمْدَ الْحاَمِدِيْنَ. وَأُصَلِّي وَ أُسَلِّمُ عَلَى رُسُلِهِ ثاَنِياً صَلاَةً تَسْتَغْرِقُ مَعَ سَيِّدِ الْبَشَرِ ساَئِر الْمُرْسَلِيْنَ. وَأَسْتَخِيْرُهُ تَعاَلىَ ثاَلِثاً فِيْماَ اِنْبَعَثَ عَزْمِيْ مِنْ تَحْرِيْرِ كِتاَبٍ فيِ اِحْياَءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ. وَأَنْتَدِبُ لِقَطْعِ تَعَجُبِكَ رَابِعاً أَيُّهَا الْعَاذِلُ الْمُتَغَالِي فِى الْعَذْلِ مِنْ بَيْنِ زُمْرَةِ الْجَاحِدِيْنَ,الْمُسْرِفِ فِى التّقْرِيْعِ وَالْاِنْكَارِ مِنْ بَيْنِ طَبَقَاتِ الْمُنْكَرِيْنَ الْغَافِلِيْنَ. Pertama-tama, aku memuji Allah Ta’ala dengan pujian yang banyak dan berturut-turut, sekalipun pujian itu sangat kecil kurang dari hak keagungan-Nya seperti pujian orang yang memuji. Kedua, aku bersolawat dan mengucapkan salam kepada Rasul-rasul-Nya dengan solawat yang merata bersama penghulu umat manusia dan seluruh para Rasul. Ketiga, aku beristikharah (meminta pilihan yang baik) kepada Allah Ta’ala didalam sesuatu yang dapat membangkitkan cita-citaku dari pada menyusun kitab tentang “Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama” (Ihya’ ‘Ulumuddin). Keempat, aku menentang untuk memutuskan kesombonganmu wahai pencela yang melampaui batas di dalam mencela di antara kelompok orang-orang yang menentang, yang melampaui batas dalam mencaci dan mengingkari diantara lapisan orang-orang yang ingkar dan lalai. Penjelasan Pengasuh : Sebelum kita membahas tentang kitab ini alangkah baiknya kita mengetahui sekelumit pribadi beliau, nama lengkap sang Imam adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, seorang al-Faqih (ahli fikih) yang bermadzhabkan As-Syafi’i. Imam Al-Ghazali di lahirkan di kota Thusi, pada sekitar pertengahan abad ke-5 Hijriah (450 H). Imam Al-Ghazali beliau adalah seorang ulama yang sangat terkenal, bukan hanya di kalangan muslim saja, akan tetapi dengan otak yang sangat cerdas dan ketajaman berpikir yang luar biasa sehingga di luar Islam pun namanya sangat harum terdengar, dengan kecerdasan beliau sebenarnya beliau sudah pantas untuk membuat suatu mazhab baru, namun beliau enggan karena beliau sangat menghormati Imam Syafi’i. Beliau memulai rangkaian menuntut ilmu pada masa kecil, banyak sekali beliau belajar kepada seorang guru, diantaranya Imam Al-Haramain, Syekh Ahmad Bin Muhammad Ar-Razikani, dll. Guru-guru Imam Al-Ghazali bukan hanya seorang terkemuka, namun beliau pernah belajar dengan tukang sol sepatu di belakang rumahnya. Cerita ini mengkisahkan suatu ketika Imam Al-Ghazali menjadi imam disebuah masjid, tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau berjamaah bersamanya. Lalu Imam Al-Ghazali memohon kepada ibunya agar memerintahkan saudaranya itu agar berjamaah dengannya, atas perintah ibunya akhirnya Ahmad melaksanakan perintah ibunya itu, namun di tengah-tengah shalat Ahmad memisahkan diri (mufarraqoh). Seusai shalat Imam Ghazali bertanya kepada Ahmad : “Mengapa engkau memisahkan diri dalam shalat yang saya imami?? . Ahmad menjawab : “aku memisahkan diri karena aku melihat darah pada dada mu”. Mendengar jawaban saudaranya itu Imam Al-Ghazali mengakuinya bahwa ia sedang memikirkan masalah fiqih yang berhubungan haid seorang wanita yang mutahayyirah. Imam Al-Ghazali bertanya kepada saudaranya :”Dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu? saudaranya menjawab :”Aku belajar ilmu dari seorang tukang jahit sepatu yang ada di belakang rumah kita”. Setelah kejadian itu Imam Ghazali ingin belajar kepadanya. Setelah berjumpa kepadanya ia berkata kepada tukang sol itu :” saya ingin belajar kepada tuan”. Mendengar keinginan beliau, tukang sol tersebut memerintahkan beliau untuk...

Read More

HIKMAH AQIQAH ( KH. Suherman Muchtar. SHi. MA )

Posted by on Dec 10, 2014 in Video | 0 comments

HIKMAH AQIQAH ( KH. Suherman Muchtar. SHi. MA )

Read More

AL-ISYRAQ PHOTO DOKUMENTASI

Posted by on Dec 10, 2014 in Video | 0 comments

AL-ISYRAQ PHOTO DOKUMENTASI

Read More